Pupuk Kandang Mampu Tingkatkan Produktivitas Lahan Pertanian Gunungkidul

oleh -107 views
Penggunaan pupuk kandang dalam pertanian. Foto: Kiswanto.

Entah sejak kapan petani Gunungkidul mulai menggunakan pupuk kandang dalam berusahatani di lahan kering. Tidak ada catatan pasti. Tetapi diyakini telah sangat lama seiring mereka mengenal budidaya pertanian lahan kering.

Kehidupan petani tidak dapat dipisahkan dengan raja kayanya yang berupa ternak sapi. Karena sapi memiliki sejumlah manfaat, di antaranya sebagai tenaga kerja saat mengolah tanah, sebagai tabungan, klangenan serta untuk menghasilkan pupuk kandang (organik).

Sisa-sisa tanaman dimanfaatkan untuk pakan ternak kemudian akan keluar sebagai pupuk kandang yang akan digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering.

Meningkatnya produktivitas lahan tentu akan berdampak pada peningkatan produksi pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang dikelola petani.

Jumlah ternak yang banyak di Gunungkidul sesuai data BPS (2019) untuk sapi 153.363 ekor, kambing 188.160 ekor, dan domba 11.022 ekor. Sedangkan unggas kurang lebih 3.187.752 ekor. Hal ini sangat potensial menghasilkan pupuk kandang dalam jumlah yang signifikan.

Pupuk kandang merupakan olahan kotoran ternak yang diberikan pada lahan pertanian untuk memperbaiki kesuburan dan struktur tanah. Pupuk kandang merupakan pupuk organik sebagaimana kompos dan pupuk hijau.

Peran pupuk utama pupuk kandang adalah memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Terutama pada lahan kering marginal di Gunungkidul sangat dibutuhkan adanya pupuk organik.

Kelebihan Pupuk Organik

Manfaat dan kelebihan pupuk organik antara lain:

  • Mampu merangsang aktivitas biologi tanah, menahan air dan perbaikan fisik tanah sehingga strukturnya menjadi lebih baik.
  • Mendukung tercapainya sistem pertanian organik yang menghasilkan produk-produk alami dan sehat.
  • Mudah ditembus akar dan mengandung sejumlah mikroba yang berguna untuk dekomposisi bahan organik.

Menurut Balittanah (2006), pengomposan pupuk kandang akan meningkatkan kadar hara mikro. Zat-zat kimia yang ada dalam kotoran akan diubah dalam bentuk yang lebih mudah diserap oleh tanaman. Seperti N yang mudah menguap akan dirubah menjadi protein.

Beda dengan penggunaan pupuk kimia sintetis yang cepat efektif, pemberian pupuk organik tidak dapat langsung efektif pada musim tanam pertama, tetapi baru dapat dirasakan pada MT-2 dan seterusnya.

Hasil penelitian Balittanah terhadap tanaman jagung menunjukkan, bahwa pada MT-1 hanya bisa meningkatkan hasil sebesar 6 %, sedangkan pada MT-2 meningkatkan sebesar 40 %.

Ke depan, barangkali pemerintah akan mengurangi subsidi pupuk an-organik. Dengan demikian kita wajib mengantisipasi dengan cara meningkatkan produksi pupuk organik, termasuk pupuk kandang di dalamnya.

Melihat data populasi ternak di Gunungkidul baik ternak besar, kecil, dan unggas yang besar mengingat Gunungkidul merupakan gudang Ternaknya DIY, terdapat ada optimisme meningkatkan kesejahteraan petani peternak lewat intensifikasi budidaya pertanian pangan, hortikultura dan peternakan, dengan ketersediaan pupuk kandang yang memadai.

Upaya ini sekaligus untuk melestarikan pohon-pohon penghijauan sebagai penghasil oksigen, kayu , buah serta hijauan pakan ternak. Disamping untuk konservasi sumber daya hutan, tanah dan air.

Pupuk kandang dibutuhkan cukup banyak dalam budidaya sayuran di lahan kering yakni antara 20 – 75 ton/ha, sedangkan untuk tanaman pangan kebutuhannya lebih sedikit.

Pada lahan sawah kehadiran pupuk kandang merupakan tambahan dari pupuk kimia sintetis yakni < 2 ton/ha.

Pupuk kandang untuk pertanian lahan kering di Gunungkidul mutlak diperlukan, karena berfungsi sebagai konservasi sumber daya lahan sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya.

***

Klaten , 09-11-2020

Tentang Penulis: Kiswanto Adinegara

Kiswanto Adinegara
Pensiunan ASN, tinggal di Klaten. Menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) di Gunungkidul 1978-1999, sebelum pensiun menjadi Kabid Perekonomian di Bappeda Gunungkidul 2010-2012.