Sri-Thowong

oleh -122 views
Mbok Rara Sri Rawuh, karya Herjaka.
Mbok Rara Sri Rawuh, karya Herjaka.

Yeku tetep aran Mbok Sri mulih, wus dangu ingantos, kaki tani kalawan somahe, tansah ithu denira nampani, wusing nglumpuk nuli, den unggahken lumbung.
Ya itu lah Mbok Sri Mulih namanya, telah lama dinanti, Ki Tani dan istrinya, disesaki kerja menerima (padi), setelah terkumpul segera, disimpan di lumbung.
Mangkya menget mring rasane nguni, sanggyaning kaleson, pan wus sirna aneng kari mangke, kari ngrasa rarasing kamuktin, tentrem anerusi, brekahira nutug.
Maka teringat rasanya dulu, segala keletihan, tentu hilang dan yang tertinggal nanti, tinggal merasakan kebahagiaan hidup, ketentraman terus-menerus, keberkahan tiada henti.
[Mijil, Katentremaning Manahipun Tiyang Tani]

Bocah-gunung methik kembang kliru mbayung, pria desa yang ‘bodoh’ memilih wanita yang disangka ayu-rupa namun keliru wanita yang jelek-rupa. Unen-unen atau pari-basa (peri-bahasa) ini menyiratkan adanya mitologi terhadap presentasi sesuatu yang dikategorikan ‘yang cantik’ dan ‘yang buruk’. Yang Sri (indah, bercahaya) dan Yang Thowong/Thowok (kurus dan pucat-mayat). Yang Uma dan Yang Durga. Para juru-tani, para petani, memiliki penalaran tentang keduanya: keberhasilan-kebahagian olah-tani padi dengan kegagalan dan kengerian di belakangnya (hama serangga, bencana, dsb.). Realitas kini: lahan pertanian tetap mampu menumbuhkan pari yang hijau keemasan warnanya namun tak berkualitas atau tak berisi (mungkin karena degradasi lingkungan dan sistem pengolahan yang tak organis). Sementara itu para leluhur mewariskan permainan yang menyindir pertanian modern seperti ini: permainan dengan siwur dan wuwu (icir) yang diklambeni layaknya manusia; ditempatkan di tempat ‘keramat’ tertentu agar ‘kemasukan’ (kesusupan) roh, biasanya dhemit atau dhanyang penunggu, diiringi lelagon: Ni Thowong, Ni Thowong, Ni Thowong, gayer-gayer ginothong, ginothonge telu gandhek, iderna nyang dhondhongan, ramekna bocah dolan, suraka, surak hiye!

Permainan Ni Thowong semakin sepi.

‘Penyelewengan’ personalitas (personality-disorder) atau pengoposisian-berpasangan atas psike Sri (sorot, cahaya) karena laku ‘pemecahan’ (splitting) menjadi psike yang thowok atau thowong (yang kurus, yang pucat tak bercahaya) lazim disematkan pada hal yang dalam kategorisasi kutub-kutub disebut kutub negatif. Penyelewengan dan penegasian ini semacam mekanisme pertahanan diri agar kutub yang diyakini positif tetap eksis. Pengkutuban (dikotomi) antara ‘ayu-rupa’ dan ‘jelek-rupa’ merupakan tindakan harmonisasi di penalaran kulawangsa agraris (dan maritim). Tanah yang subur dan tanah yang bera (tandus). Tegalan bertanah yang bisa dipekonah (diolah) dan tegalan yang keras berbatu. Tegalan lemah-abang dan tegalan lemah ireng. Lemah-abang dan lemah-putih (bahan untuk membuat gendheng), dan lain-lain. Dua-duanya adalah pasangan kesadaran atas penalaran-penalaran arkais para juru-tani yang sadar akan jagad pertaniannya. Para juru-tani sangat sangat sadar sekali bagaimana angon keduanya: yang cantik dan yang pucat itu. Seperti yang ayu-rupa (Sri, Pertiwi, Parwati) diharap-harapkan kehadirannya, yang buruk-rupa (Thowong/Thowok) pun disadari kapan waktu kehadirannya.

Ini merupakan sistem ilmu pengetahuan, atau saya katakan mitologi, tentang the twins, Si Kembar.

Bocah-gunung, bocah-angon, dolanan-rakyat nini thowong, juru-tani, juga sri atau pari adalah beberapa konsep di sistem ilmu pengetahuan yang dekat sekali dengan roh jagad pertanian sawah-tegalan termasuk di desa-desa di Gunungkidul. Konsep-konsep itu memenuhi jagad pemikiran kulawangsa agraris. Bidang kerja bocah gunung (orang desa) meliputi juru-tani atau among-tani, tukang angon, tukang kayu, tukang batu, among dagang, dan sebagainya. Wilayah kerja bocah gunung mendasari cipta dan rasa mereka dalam mengonstruksi bermacam-macam karya budaya termasuk dolanan rakyat. Dolanan rakyat tak lahir dari kekosongan ilmu, membungkus diri menjadi permainan yang hanya disebut ‘permainan’ saja, namun lahir dari tetasan kompleksitas sistem ilmu pengetahuan kulawangsanya di desa. Dolanan rakyat menggambarkan diri serta ilmu pengetahuannya salah satunya tentang jagad pertanian. Bocah gunung yang kebanyakan juru-tani, atau profesi-profesi yang dekat dengan dunia pertanian, melakonkan drama menanam, memanen, dan menjual hasil pertanian. Bocah gunung juga menciptakan penokohan yang merongrong dunia pertanian sebagai pasangan oposisionalnya. Penokohan-penokohan dalam drama dan dolanan diciptakan dengan metode methik (mengutip) bahasa alam, meniru hakekat dan substansi (sukma) benda-benda di alam: yang baik dan yang buruk, yang menguntungkan dan yang merugikan.

Benda-benda di alam diibaratkan: wiji ingipuk, biji yang disemai. Manusia tinggal mengolah nalar dan bekerja untuk menuai.

Olah-pikir dan olah-kerja bocah gunung menurut saya sama dengan (untuk tak dengan terang saya katakan: lebih canggih) penalaran dan pekerjaan bocah-kota-kampusan yang lebih berlabel ‘intelek’ dari pada bocah-gunung yang sering berlabel ‘bodoh’; yang pertama menggunakan ilmu tradisional pramodern methik, yang kedua menggunakan metode ilmu modern methik (memetik) pula, yaitu memetik apa yang pernah disimpulkan dan dikatakan oleh ilmuwan sebelumnya; yang pertama dekat dengan mitos dan aksi-aksi ‘khayali’, yang kedua dekat dengan sains dan aksi empiris logis. Methik ya nedhak (mencontoh), atau ngelihbasa (mengalih-bahasakan, mengadaptasi). Sementara itu para ilmuwan atau para yang menyebut dirinya sendiri ‘ilmuwan’ pada fase sebelumnya telah melakukan olah-pikir olah-kerja memetik ilmu itu dari alam seperti yang dilakukan oleh bocah-gunung. Namun, jika pada suatu waktu bocah gunung melakukan aksi methik ilmu dari ‘kitab’ atau ‘sastra’ leluhurnya sendiri, terlebih sastra-cetha sawah-tegalan di bawah payung jagad pertanian, seringkali dianggap bukan ilmu, alih-alih orangnya disebut ilmuwan. Bocah gunung ‘tak mungkin’, oleh sekolah modern, disebut ilmuwan.

Seorang Juru Tani Memanen padi, Pathuk. Dok: Kl.
Seorang Juru Tani Memanen padi, Pathuk. Dok: Kl.

Predikat keilmuan yang berhubungan dengan jagad pertanian di masa kini mengalami pergeseran yang masif: dari predikat yang sebenarnya mengandung sri (sorot, cahaya) ke predikat yang pucat-mayat (thowong); atau sebaliknya. Bahkan definisi ‘ilmu’ itu sendiri juga mengalami pergeseran yang luar biasa. Definisi sekolah, intelektualitas, spiritualitas, literatur dan literal, ilmuwan, kesarjanaan, tak ketinggalan mengalami ‘penciutan’ dan dicuitkan terus. Sarjana, berdasar etimologinya, adalah manusia yang berlaku utama, sertai memiliki kepandaian tertentu. Para juru-tani, dengan demikian, adalah para sarjana. Juru-tani telah melaksanakan metodologi keilmuan dengan methik (mengambil, mencontoh, mengimitasi) serta menganalisa alam dan tetek-bengek bahasanya setiap perputaran waktu. Juru-tani atau among-tani tak disebut sebagai sarjana, sementara siswa yang ‘tuntas’ di fakultas pertanian disebut sarjana pertanian.

Sarjana di dunia tradisional dianggap kurus ilmu; pucat air mukanya (thowong). Sarjana di dunia modern dianggap cantik nan seksi; bercahaya silau (sri).

Tokoh-tokoh tradisional di Gunungkidul banyak yang diceritakan bergelar ki, ki ajar, ki ageng dan seterusnya. Mereka adalah para mahaguru (baca: guru besar) di bidangnya. Methik konsep pendidikan model Ki Hajar Dewantara: kesarjanaan hendaknya mendahulukan kebrahmanaan sebelum kekesatriaan. Sarjana-sujana mengedepankan logika manusia berkualitas, bermental baik (sujana).

Jika digagas, apa yang hendak digapai oleh para juru-tani adalah tercapainya kualitas hidup. Kesejahteraan. Mental yang kuat. Para juru-tani terbiasa menghadapi musim yang tak menentu. Bencana. Serangan hama, dan lain-lain. Tujuan hidupnya: ketentraman. Meskipun nyata-nyata berat hidupnya, namun yang diangkah memang hanya ketentraman. Biaya proses produksi yang lebih besar dibanding hasil panennya tak jadi soal. Jika dibandingkan dengan pendapatan pegawai ataupun pedagang atau golongan kerja lain petani wutun/wekel seakan menduduki ‘kelas’ terbawah. Seakan-akan dititahkan oleh Tuhan asor derajadnya, tak pantas untuk bersanding sederajat dengan para punggawa negara. Ibarat bumi dan langit. Mungguhnya para juru-tani justru, tampaknya, diciptakan ‘asor’ derajadnya. Namun demikian, para juru-tani narima ing pandum atas berkah yang diberikan Tuhan. Berkah Tuhan diyakini merata, baik juru tani yang memeroleh bahagia, sedih, sama semua. Hidup para juru-tani diisi dengan keadaan-keadaan yang ‘apa adanya’.

Beraneka-warna usaha yang dilakukan agar tujuan hidup para juru-tani tercapai, agar panen dapat berhasil. Keberhasilan panen diharapkan dapat menyebabkan ketentraman, bukan kecemasan dan keretakan kulawarga juru-tani. Tanah diolah dengan ketekunan (intensifikasi) dan pengembangan-pengembangan (ekstensifikasi). Berbarengan dengan munculnya Hyang Rawi di ufuk timur, yang sorotnya merah seperti obor menyinari bumi, dan menumbuhkan kelapangan-keterangan hati, para juru-tani membuang selimut, bersiaga mengahadapi kerja. Sirna segala kelesuannya. Beranjak menuju sawah tegalan, mereka menghampiri arit gathul pacul salang pikulan. Alat-alat tani dan tetali dicangking. Sesampainya di sawah tegalan yang tergenang air (hujan) kaki-kaki kuat juru-tani nyemplung ke dalamnya. Nyes anyes anyeb rasa air di kaki adalah hal lumrah. Bukan penyebab sakit, sebaliknya: nyes air membuat segar tubuh, menembus otot dan tulang. Tak selang berapa lama Sang Hyang Rawi memecah sorotnya (Sri) jatuh merata di permukaan air yang nyes. Air di sawah tegalan umpama kaca yang memantulkan sinar. Sejenak kemudian terasa panasnya Hyang Rawi merasuk di ujung kepala, para juru-tani ngaso di galengan, di tarub-taruban (gubug, eyub-eyuban), perlahan-lahan ketika Hyang Rawi tepat di atas kepala ini mereka undur diri pulang, mampir di sebuah beji atau sumber atau belik atau kali untuk mandi jebar-jebur. Sesampainya di rumah juru tani mengambil kendhi yang telah terisi banyu tawa (adhem, dingin); anyeb dan nyes air dari kendhi rasanya.  Kalau bukan air kendhi ya air dari genthong, atau langsung dari sumur yang ditimba, anyeb dan nyes pula rasanya; marasi (menjadikan sehat) ati. Atau teh panas legi dan kenthel.

Cleguk-cleguk gleg-gleg suara airnya melewati kerongkongan. Bergas tubuhnya.

Padi di Sawah, Pathuk. Dok: Kl.
Padi di Sawah, Pathuk. Dok: Kl.

Begitu terus; ibaratnya para juru-tani tak punya banyak waktu untuk beristirahat, saban hari mengupayakan diri bekerja di bawah terik dan atis (dingin); air panas dan air anyeb. Saban Hyang Rawi lingsir di sisi barat dan kembali cumomong di sisi timur. Tibalah saat kala sawah tegalan tak lagi kosong, penuh tetanduran warna-warni. Perasaannya amat lega, omber (membanjir kebahagiaannya), tinggal menunggu waktu yang pas kapan Simbok Sri rawuh menghampiri. Yang ada hanya ayom-ayem, tenteram bahagia. Mereka memupuk harapan-harapan. Padi-padi pada mrekotok. Para juru-tani tak henti wekel ing gawe dan menghaturkan puja-puji kepada Tuhan: keselamatan padi hingga dipanen nanti. Semoga lahir pala yang mentes-mentes. Para juru-tani membuat panggusah (pengusir) burung, membuat memedi (wong-wongan sawah; thowong). Sambil berteriak, “Ayo…ayo…!”, para manuk yang secara natural ingin selalu mugut (memakan) biji padi diusir dengan menarik-narik dan menggoyang-goyangkan tali. Wong-wongan bergerak. Para manuk membuncah pergi.

Seperti diketahui, kutu-kutu dan walang dan serangga lain serta manuk menakutkan bagi para juru-tani. Mereka seumpama memedi (thowong) yang mengancam tanaman padi. Membuat tubuh merinding. Adhem-kekes tubuh para juru-tani bila tanaman padinya habis dimangsa mereka. Tubuhnya masanyeb, mendingin. Maka dari itu para juru-tani menciptakan memedi tandingan ditujukan bagi para pemangsa padi: memedi sawah. Wong-wongan sawah. Wong-wongan sawah atau memedi sawah adalah tiruan Sang Diri para juru-tani sendiri. Dengan segala atribut among-taninya. Dengan caping. Dengan klambi. Dengan rai yang medeni. Harapannya, para pemangsa padi ketakutan. Sukma/roh Yang Thowong tak jadi hadir di persawahan. Namun, meskipun serangga dan manuk tidak takut pada wong-wongan sawah, paling tidak para juru-tani telah berhasil mengorganisasi kecemasan dirinya, kecemasan kulawangsa tani akan keberhasilan panen.

Memedi Sawah, Semanu. Dok: Kl.
Memedi Sawah, Semanu. Dok: Kl.

Mengimpor System of Rice Intensification (SRI) dari Madagaskar yang diajarkan bagi beberapa kelompok tani di Nusantara (Jawa) demi peningkatan hasil panen merupakan usaha para juru-tani Indonesia untuk mengatasi kecemasan-kecemasan semacam ini. Mengimpor sistem olah tani dari luar Nusantara sangat ironis. Dulu, di masa purwa, para juru-tani dari Nusantara (tompotani) mengembara hingga ke Madagaskar (berbarengan dengan sejarah penyebaran genetika Nusantara ke Madagaskar) mengajarkan ilmu bercocok tanam a la SRI. Oncat-nya roh sistem pertanian padi dari Pertiwi Nusantara (Sri) keluar Nusantara ibarat perginya roh Dewi Sri yang meninggalkan tubuh Sumbadra, istri Arjuna, titisannya. Setelah roh Dewi Sri kembali, Sumbadra (siti yang gelap, hitam) memeroleh cahaya kehidupan (sri, retna-dumilah), produksi padi meningkat (pala). Dengan jarak yang lebar cahaya lebih mudah masuk (sorot, teja) di sela-sela tanaman padi yaitu kehadiran retna-dumilah, hakekat kasuksman Bathari Sri. Sumbadra hidup kembali (urip). Pesta perkawinan Prabangkara, sekaligus persatuan antara bapak-anak, dilaksanakan (methik); berbarengan dengan kutukan Begawan Gembung Tanpa Sirah (sawah/tegalan) kepada Prabu Ngataswara (rusuk/galengan) menjadi kutu walang ataga, serangga pemakan padi (thowok/thowong).

Ritual mugut-pala (biji padi) pun tiba. Prosesi mugut-pala digambarkan dengan ritual midodareni: methik dewi/bathari/widadari, hendak diperistri. Methik pari disamakan dengan methik seorang wanita/sri.

Roh Sri hadir.

Kehadiran suksma Bathari Sri (sorot, retna) membawa pencerahan. Setelah padi memasuki masa disunting, laku mugut-pala (methik) woh pari (buah padi) oleh kulawangsa juru-tani diiringi suara-suara musikal dari bambu, seiring tali-tali bambu yang giat menjerat batang padi, yang disebut rinding. Rinding adalah alat musik purwa berbahan bambu yang ditiup dan ditarik dengan benang. Suara mitis rinding melahirkan suasana prindang-prinding. Suasana prindang-prinding tak lain fenomena ketubuhan karena keluar-masuknya roh. Masuknya roh Bathari Sri (cahaya), atau sebaliknya, masuknya roh Nini Thowong (roh kegelapan, hama, bencana) mengisi ketubuhan juru-tani. Seperti halnya sastra, atau puisi, keindahannya akan muncul tatkala rinding mampu mengajak pikiran dan rasa manusia kembali menelusup ke suasana tubuh yang menjadi anyeb-njejeb, yang merinding, yang prindang-prinding, yang ngrembesake memori-meori kuna lewat wulu-kalong (memories seep from veins), karena suaranya yang amat magis: karena kebahagiaan ataupun ketakutan, merasakan kehadiran ruhaniyah Bathari Sri atau pasangannya Nini Thowong itu.

Rinding Bambu. Dok: Kl.
Rinding Bambu. Dok: Kl.

Suara rinding yang kini masih mengalun di Ngawen, Semin, Karangmojo, dan beberapa wilayah lain, yang sebagian telah berbahan waja tanpa benang, mengiringi kehadiran seorang tokoh wanita ‘seksi’ ayu-rupa berpasangan dengan wanita kurus-pucat buruk-rupa. Rinding melatari peperangan, perseteruan, dan pengoposisian abadi keduanya, yaitu antara Sang Puteri dengan Nenek Sihir a la mitos kuno Eropa yang dihadirkan kembali diklambeni (mitos) film-film ‘fantasi’ Holywood.

Yang tak lain memedilogi Bathari Sri dan Nini Thowong.

Olah-tani dilengkapi dengan olah-grami, laku dagang. Hasil pertanian diperdagangkan. Dipasarkan. Pada waktu mitis pasaran tertentu. Laku dagang melampaui batas-batas desa, bahkan negara. Para juru-tani bekerja saban hari dalam balutan pasaran (pancawara). Waktu-hidup juru tani tak lain pasaran. Yang dipasarkan ya dari hasil mengolah dan methik pala: produk-produk  ‘buah’ bumi (sri).

Para juru-tani, bagaimanapun kondisi tanah dan pemasaran produknya di masa kini, akan tetap itha-ithu (sibuk bekerja), bergembira-ria dalam predikat ‘kebodohan’ yang secara tak sadar sering dilekatkan padanya, dan beriringan dengan predikat kebodohan di sebelahnya (para peraih gelar ‘sarjana’ yang sebenarnya tak memiliki kualitas keilmuan sama sekali seperti diri saya). Bocah-bocah gunung, pada waktu mitis tertentu (dengan sembunyi-sembunyi), memerankan permainan Ni Nini Thowong, sembari melagukan “bocah-bajang”, melagukan “ilir-ilir”, melagukan peri kata-kata: “ilir-ilir guling, gulinge Sukma katon, raga-ragamu liya, ja suwe-suwe ndalan, mesakke jing ngadolan, dolane dolan dana, alah dana dene Sukma, widadari tumuruna, gumrubyug barat sanga, suraka, surak hiye!”, sambil mengingat-ingat: jangan sampai suksma (baca: psike) yang diharapkan hadir malah keliru: roh dhanyang yang biasanya enggan pulih (pulang) kembali.

Pulang ke asal yang semestinya.

Para juru-tani menyambut Hyang Sri, Yang Sri (yang indah, yang sumorot/bercahaya), tak lupa menelusupkan kesadaran tentang Hyang Thowong/Thowok, Yang Thowong (yang kurus dan yang pucat-mayat). Merayakan beras (Sri) yang wangsul (Mulih), kemudian menempatkannya pada pasren, sebagai srikaya: kepulangan psike Sang Diri di Omah-Diri. Para juru-tani teringat bagaimana rasanya tatkala sibuk bekerja (itha-ithu) mengolah tanah dulu. Namun segala jenis dan bentuk keletihan pun seketika hilang. Yang tersisa tinggal kebahagiaan hidup saban hari, ketentraman yang gilir-gumanti (terus-menerus), keberkahan tiada henti. Pari, palawija, palakirna, palapendhem, dan pala-pala (buah bumi yang lain) ditumpuk-undhungkan sebagai gunungan bukan dolanan wuwu-siwuran, diarak ke balai desa.

Saatnya rasul(an).

—————————————-

[oleh: Klepu]