Thengkleng

oleh -836 views

SEPUTARGK.ID – Thengklèng adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama tulang kambing . Sejarah Thengklèng konon menurut para tetua di kota Solo hanya para bangsawan dan orang-orang Belanda saja yang bisa menikmati masakan daging kambing. Hanya kepala, kaki, dan tulang saja yang tersisa untuk pekerja dan tukang masak.

Namun, para juru masak pada waktu itu tak kurang akal, maka dimasaklah tulang-tulang itu yang tentunya masih menempel sedikit daging dan jadilah masakan itu dan dinamakan “thengklèng”. Bentuk fisik dari thengklèng hampir mirip dengan gulai kambing, tetapi kuahnya lebih encer. (Wikipedia).

Nah, kali ini saya mau bahas makanan yang namanya thengklèng ini. Yang mana dari pada makanan ini masih sodaraan dengan Tongseng Kambing. Namun sejauh yang saya tahu, dan sejauh saya yang pernah jajan tongseng, makanan ini tidak menjadi menu utama, melainkan menjadi menu pendamping. Yang jadi menu utama tentu saja Tongseng dan Sate Kambing.

Untuk urusan tongseng, mungkin dah saya bahas beberapa waktu yang lalu. Lengganan saya dan juga kemareman saya tentu sobat SG dah membacanya kecuali yang belum… Hehe..

Kalau makanan thengklèng ini saya dapatken di Tawarsari. Tepatnya dekat Kelurahan Wonosari, atau juga dekat dengan sekolahan SMEA Wonosari. Oya, kalau cerita akan sekolahan ini, jaman dulu sekali sekolahan ini murid-muridnya kebanyakan cewek tur yo cewek-ceweknya itu hayu-hayu. Nah, jadinya teringat hobby lama saya, kalau mengingat-ingat akan sekolahan SMEA Wonosari ini, hobby apa lagi kalau bukan hobby mbajul….hahahahaha, ngandel men

Pokoknya patokannya kelurahan Wonosari, sebelah pojok lor kulon dan nyebrang dalan. Di situ berderet bangunan, kalau ndak salah bangunan yang terbuat dari Bambu atau gedeg yang modif, plangnya jelas bertuliskan jual “Thengklèng”.

Pada waktu itu adalah saatnya jam makan siang, di dalam otak saya masih terjadi kebingunan, mau makan apa untuk makan siang hari ini. Nah setelah muter-muter hunting makanan pilihan jatuh pada menu makanan Thengklèng ini.

Tanpa ragu dan tanpa malu saya langsung masuk ke warung yang kelihatannya baru selesai toto-toto. Terlihat pembakaran dan yang lain-lainnya masih kelihatan baru ditaruh. Maka tanpa basa-basi saya pesen satu porsi Thengklèng dan segelas es teh manis. Tidak menunggu begitu lama maka makanan sudah tersaji di hadapanku, maka segera saya menjalankan sebuah ritual, yang mana ritual ini sekarang seolah telah menjadi sebuah kewajiban untuk banyak orang. Ritual apa itu? Adalah ritual mem-foto makanan terlebih dahulu sebelum dimakan….. Hehehehe.. ini namanya korban teknologi.

Seperti definisi thengklèng di atas, makanan ini huenak banget daging yang masih menempel di tulang iga memang juuooss. Apalagi bumbunya saya minta dibanyakin mricone dadi rasanya pedes-pedes piye gitu.

Jikalau bilamana seandainya sobat SG pas pulkam, jangan lupa mampir ke tempat ini. Makanan ini memberikan alternatif pilihan selain Tongseng dan Sate Kambing.

Dah dulu yah, saya mau habisin balungan…..

Tertanda: Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

***

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae