Agak Pilkada (3): Murah Janji

oleh -189 views
Berbagi, salah satu lukisan karya Herlan Sae dalam Pameran Seni Rupa Festival Kebudayaan di Gunungkidul 2019 lalu. Foto: KH.

“Mestinya bupati punya solusi, saya yang awam saja bisa kok! Misalnya ngebor air tanah dan dikelola oleh kelompok-kelompok kecil gitu!”

Saat ngobrol pilkada negeri Kahyangan sambil ngopi, teman saya menyampaikan gagasan berbasis pengalamannya dengan berapi-api. Ia memang cerdas menemukan solusi bahkan mengejawantahkan konsep dalam hidup sehari-hari. Ia mengampu, setidaknya, enam kelompok air mandiri.

Setahuku, ia dan kelompoknya itu beraksi dengan ngebor tanah, menata instalasi air kemudian mengelolanya untuk puluhan keluarga per kelompoknya secara mandiri. Para anggota kelompok mendapat air murah dan melimpah sekaligus punya uang kas yang jadi berkah.

Obrolan isu air ini, saya kemudian ingat saat awal tinggal di negeri Kahyangan dua belas tahun yang lalu, tepatnya pada januari 2008. Adik dan suaminya dari Bantul datang menengok ke rumah dinas kangmas-nya. Kebetulan, adik ipar pergi ke kamar mandi buang air kecil lalu membuka kran. Ia spontan mbengok, “waduhhh!” Ia terbelalak ketika air yang muncrat berwarna coklat. Saya lupa memberitahu untuk menggunakan air bersih di ember saja tanpa menambah dari kran kamar mandi. Kalau sekarang, hal itu sudah berbeda warna.

Soal air, saya mah ndak gaduk kuping. Hanya pada musim kemarau berulang-ulang menyaksikan di depan mata pembelian 150 ribu rupiah per 5000 liter atau per tanki. Di sisi yang lain, pernah juga beberapa kali menyalurkan bantuan air dari beberapa instansi. Biasanya para pihak bertanya siapa sasaran tepat atau yang berhak. Begitu pula ada warga yang sudah puluhan tahun usaha dropping air dengan armadanya. Jika dengan metode dropping dengan armada, harapannya sih semua pihak terlibat dan setidaknya harga per tanki tak jauh beda dengan perusahaan negara.

Kembali ke diskusi tadi, setiap mau pilkada, isu air biasanya diangkat lagi dan lagi. Sambil nyeruput kopi juga, ada teman yang menanggapi pandangan teman itu sambil ketawa, “Njenengan kalau jadi calon bupati pasti terpilih, tapi jadi bupati negeri Kahyangan bagian utara saja hehehe!” Sambil ngemplok kacang, ia mencoba memetakan wilayah bagian selatan yang sulit bahkan langka dibor biasa.

Yang jelas beberapa orang menduga, isu kekurangan air akan terus direproduksi demi memikat hati para calon pemilih. Namun tak sedikit yang sangsi pada solusi konkrit dari kandidat bupati.

Yah, namanya juga jelang pilkada. Biasanya banyak yang murah hati eh murah janji…

**

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.