Teflon

oleh -573 views
Mengarungi tahun 2020 dengan sehat, kuat, hidup, dan penuh semangat. Foto: Iwan.

Ufh… Terasa pegal juga melewati detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan pada 2020. Setidaknya mulai Maret 2020, kaki, mulut, tangan, dan otak kita dipaksa bekerja dengan ekstra. Angka 2020 seperti angka kembar keramat yang memaksanya begitu, bahkan tak hanya bekerja namun juga mengerem dengan ekstra. Lihat saja contohnya, ada rencana yang sudah tertata harus batal, selanjutnya menjalani kehidupan yang tak normal.

“Kita tunda ke Malang ya, Mbak, daripada malang beneran…” Ungkapku pada putriku saat membatalkan rencana menjenguk keponakan sambil piknik di Kota Apel itu, Oktober lalu. Nah, membatalkan rencana, mengubah kebiasaan tentu tak mudah dilakukan. Hati pun bertabur rasa kecewa ketika harapan tak sesuai kenyataan.

Pada awal pandemi, ada cerita tentang seorang teman yang ditest rapid dan hasilnya reaktif. Ia dipaksa menjalani isolasi di rumah sakit yang belum siap menfasilitasi. Hidup terasa merana saat menerima penolakan dari tetangga karena korona, bahkan bantuan logistik dari tetangga yang ditaruh di teras rumah keluarganya semakin mengeruhkan hati. “Wah, sakit banget!” Katanya sambil tangannya memegang dada. Ia mengingat kejadian enam bulan yang lalu.

Itu sekadar contoh saja. Betapa pegelnya melangkah pada 2020.

Di akhir hari pada 2020 ini, saatnya berefleksi. Kenapa banyak hati yang mau dilekat noda hitam yang begitu pekat dan sulit hilang? Noda pekat itu mungkin kekecewaan, kehilangan, atau agenda yang tertahan.

Sebenarnya tak perlu direnungkan lebih lama, bukankah perubahan di dunia ini adalah kemestian? Segala sesuatu mengalir dan tidak tetap. “Pantha rei“, kata siapa gitu. Dari situ semestinya hati tidak harus mengundang apapun untuk melekat dan menjadi hitam pekat.

Tak melekat mengingatkanku pada teflon. Peralatan memasak ini mengandung bahan anti lengket. Dimasuki apapun bahan mentahnya lalu digoreng, ia tak meninggalkan banyak noda gosong. Seperti teflon itulah hati manusia, banyak kondisi yang dihadapi pada masa pandemi. Noda hitam yang lengket sebaiknya tertahan oleh bahan anti lengketnya.

Bahan itu, menurut terawanganku adalah praktik baik yang banyak dijumpai pada 2020. Sebut saja misalnya: terlampauinya 10 bulan berbahaya dengan sehat, kesempatan lebih lama memperhatikan tanaman, dan senyum-tangis manusiawi yang menggerus kesombongan diri.

Kuakhiri waktu 2020 dengan semangat teflon. Kurasa memasuki 2021 pun begitu. Kalo perlu, beli teflon di toko terdekat lalu dipajang bersanding dengan piala juara biar tak ada noda yang lekat.

Selamat mengakhiri 2020, dan memasuki 2021 dengan tetap ayem tentrem.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.