Beralih Jual Ayam Goreng: Kiat Jitu Bakpia Dewasari Hadapi Masa Pandemi

oleh -242 views
Bertahan bisnis ayam goreng ala Bakpia Dewasari. Dok: ist.

SEPUTARGK.ID – Beralih produk dagangan yang tetap dibutuhkan masyarakat. Itulah kiat jitu Brata Totok Nugraha bertahan hadapi masa pandemi. Pengusaha Bakpia Dewasari Jeruksari Wonosari ini mengakui, produksi bakpia miliknya mengalami penurunan omset sampai 90% sesudah memasuki masa krisis pandemi Covid-19.

Beruntung sebelumnya, Totok telah melakukan diversifikasi bisnis dengan membuka warung soto dan melayani pesanan ayam goreng kremes. Bisnis ayam goreng kremes inilah yang menjadi andalannya di masa pandemi Covid-19 ini.

“Alhamdulillah mas, untuk dagangan ayam goreng kremes ini masih tetap laris. Sejak sebelum Covid-19 kami sudah melayani pesanan dengan hantaran, sehingga bisnis ayam goreng tetap kami jalankan di masa pandemi ini. Kami aktif menggenjot promosi lewat berbagai media, dagangan kami antar ke rumah pembeli,” ungkap Totok (49) kepada KH Group, Minggu (17/01/2021).

Totok menuturkan, untuk produksi bakpia yang diberi merek Dewasari benar-benar turun drastis omsetnya sejak masa pandemi. Selain bisnis bakpia, ia juga mengelola bisnis percetakan undangan manten dan jasa foto-video manten dan dokumentasi event lainnya. Untuk kedua bisnis inipun mengalami penurunan omset sejak awal pandemi Covid. Namun, Totok tetap tegar, ia merubah strategi bisnis agar usaha yang digelutinya selama ini dapat bertahan.

“Ya harus merubah bisnis, terutama bakpia super anjlok, omset turun 90%. Saya melihat, titik tumpu peluang bisnis yang masih bisa jalan pada jualan yang dibutuhkan masyarakat setiap hari. Karena itu saya fokus ke jualan ayam goreng mas. Yang lainnya (foto-video wedding dan percetakan) juga jalan, tapi karena PSBB otomatis wedding-foto dan video banyak yang cancel dan diundur. Untuk soto sementara off dulu agar mengurangi beban keuangan, karena selama pandemi penurunannya banyak,” ujar Totok berterus-terang.

Sebagai salah satu pelaku wirausaha muda, Totok lebih memilih strategi beralih produk dan menjemput pelanggan. Menurutnya, ayam goreng menjadi produk yang paling dibutuhkan dan cepat laku. Kemudian, ia tidak lagi menunggu pelanggan mendatangi tokonya, tetapi aktif melakukan promosi produk dan mengantarnya ke rumah-rumah pelanggan.

“Pada masa pandemi ini bisa bertahan jualan laku saja patut disyukuri. Saya juga menurunkan harga jual mas. Mengurangi keuntungan nggak apa-apa, asal jalan saja sudah gembira, karena daya beli masyarakat juga menurun drastis,” urai Totok.

Untuk mengurangi biaya produksi, dari belanja sampai mengolah ayam goreng dilakukan bersama istri dan anak-anaknya. “Karyawan kerja pocokan saja, kalau ada pesanan banyak baru masuk. Kalau hari biasa, ya kita sementara yang aktif serumah saja, termasuk anak anak saya,” tegas Totok.

Dari pengalaman menjalani masa pandemi ini, Totok mengaku mendapat pembelajaran baik bagaimana mengelola bisnis di masa-masa sulit. Ia tidak mau bertopang dagu dan sedikit-sedikit mengadu minta proteksi dari pemerintah. Totok berusaha menghadapi aneka kesulitan dari usahanya sendiri.

“Prinsip saya, ya mengubah bisnis dari yang tidak begitu laku di masa pandemi dengan mengganti yang benar-benar masih dibutuhkan masyarakat banyak. Saya menyadari tidak tahu kapan pandemi akan selesai. Produk ayam goreng saya jual murah saja, harga terjangkau oleh masyarakat gitu,” lanjut Totok.

Strategi bertahan hidup yang dilakukan Totok telah dihitung secara matang. Dirinya menyadari, sebagai wirausaha pendapatannya bergantung kepada hasil jualan produk dan jasa. Karena itu, di saat pandemi ini ia sangat berhati hati mengelola keuangan yang diperoleh dari bisnisnya.

“Jika sampai keliru, modal akan habis. Karena bisnis ayam goreng yang saat ini laku, maka usaha inilah yang akan terus saya lakukan,” tambah Totok.

“Untuk bertahan bisnis di masa pandemi, maka saya tidak malu dan tidak malas promosi bisnis di berbagai kesempatan. Termasuk lewat medsos pribadi maupun lewat grup-grup bisnis,” pungkas Totok.

Totok memang gigih mempromosikan produk jualan ayam gorengnya lewat berbagai grup bisnis medsos. Ia juga menggaransi siap mengantar pesanan ayam goreng ke berbagai wilayah Gunungkidul. Beberapa kali Totok juga pernah mengantar pesanan pelanggannya di seputar Jogja.

Pandemi Covid ternyata tidak semata menghadirkan petaka, tetapi juga menghadirkan semangat menyala untuk tetap berusaha agar hidup terus tegak berjalan. (Tugi).

 

 

 

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.