Bu Tejo, Gosip, dan Hidup Kita

oleh -376 views
Screenshoot Bu Tejo dalam film pendek Tilik. Sumber: Tilik, Ravacana Film.

Heboh film Tilik sedang menghangat di linimasa medsos beberapa hari ini.  Film pendek produksi Ravacana dengan sponsor Dinas Kebudayaan DIY tersebut berkisah tentang sekelompok perempuan desa yang pergi bersama-sama dengan naik truk terbuka untuk mengunjungi Bu Lurah yang lagi dirawat di RS di kota Yogya.

Sepanjang perjalanan banyak fenomena menarik termasuk menggosipkan seorang perempuan bernama Dian yang diduga perempuan nggak benar yang bisa menjadi ancaman bagi suami suami mereka. Bu Tejo salah satu tokoh dalam film tersebut benar-benar menguasai pembicaraan, sosok yang menggambarkan seorang ibu pandai bicara, pintar mempengaruhi orang sekaligus julid dalam menyebar gosip. Boleh jadi film pendek tersebut menjadi miniatur kehidupan sehari hari. Betapa tidak, ketika sekelompok perempuan berkumpul akan menjadi wahana pertukaran informasi di antara mereka dan bisa berkembang sedemikian rupa sehingga antara fakta dan rekayasa sulit dibedakan.

Gosip dapat didefinisikan secara perilaku sebagai aktivitas saling bekomentar untuk melakukan evaluatif informal tentang orang-orang yang tidak hadir. Dalam hal ini gosip lebih ditekankan pada informasi negatif, membicarakan kejelekan seseorang, menambahi mengurangi fakta buruk, menyebar berita bohong sampai menghakimi perilaku orang lain. Dalam dimensi sosial bergosip memiliki dua tujuan utama yakni transmisi informasi dan ikatan sosial.

Menurut Robin Dunbar, psikolog evolusioner, fungsi utama gosip adalah untuk menjalin dan memelihara ikatan sosial. Ia percaya, bahwa bergosip adalah evolusi bahasa yang memungkinkan nenek moyang kita membentuk sekutu untuk melindungi kelompoknya dari pelecehan dari anggota kelompok lain.

Bayangkan, di masa lalu alam begitu keras, persaingan kelompok begitu kejam sementara akses informasi tidak secanggih sekarang. Dengan bergosip mereka bisa saling menyebar informasi dan menyamakan persepsi untuk melindungi kelompoknya dari bahaya. Dalam konteks ini bergosip seolah sebagai aktivitas heroik untuk menjaga orang lain agar terhindar dari bahaya. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan Bu Tejo tokoh film Tilik tentang tujuan menggosipkan Dian adalah untuk menjaga agar suami suami mereka tidak tergoda oleh perempuan bernama Dian.

Selain bertujuan untuk memelihara ikatan sosial dan menjaga diri dari ancaman, gosip ternyata memiliki dimensi moral dan pembelajaran budaya. Gosip berfungsi untuk membuat orang tetap terkendali secara moral. Mereka menjadi belajar apa yang bisa diterima oleh budaya dan mana yang tidak. Topik gosip kebanyakan adalah sesuatu yang “negatif” tentang orang lain.

Terlepas yang digosipkan itu benar atau tidak, ada suatu pembelajaran moral agar berhati hati dalam berperilaku. Karena bila tidak, kita digosipkan seperti mereka, karena kita hidup di tengah masyarakat komunal. Menurut Rhenald Kasali dalam bukunya Re-Code DNA, salah satu ciri masyarakat komunal adalah bila ada orang yang berbeda dengan kelompoknya akan dihukum dengan rumor dan gosip.

Gosip juga punya sisi lain, membentuk keintiman dan menjadi sarana hiburan. Menceritakan keburukan orang lain dalam satu kelompok menjadi semacam ikatan bahwa ada kedekatan emosional diantara mereka yang membuat seseorang merasa diterima dan terdukung. Membicarakan, manambahi, memperdebatkan bahkan mentertawakan kemalangan orang lain menjadi semacam “hiburan” yang mengasyikkan bagi sebagian orang. Hal ini bisa dilihat dari ramainya obrolan di film Tilik saat membicarakan Dian. Satu sama lain saling menimpali, berdebat dan mentertawakan.

Penelitian yang dilakukan oleh Matthew Feinberg dari Rotman Universitas Toronto, dalam studi diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology (2012) mendapatkan temuan menarik. Ketika subyek penelitian dipaparkan informasi tentang seseorang yang berperilaku anti sosial, situasi ketidakadilan, didapatkan kondisi detak jantung mereka meningkat. Namun ketika mereka menggosipkan orang atau situasi tersebut diantara mereka detak jantung mereka turun. Menurut Feinberg bergosip “membantu menenangkan tubuh.”

Penelitian lain menunjukkan saat orang bergosip bagian otak prefrontal cortex (PFC) yang berfungsi sebagai eksekutor dan bertanggung jawab terhadap nilai nilai moral bekerja lebih aktif. Jika kita peka, bisa menjadi semacam alarm pengingat, bahwa menggosipkan seseorang itu tidak baik dan ada pembelajaran moral di dalam aktivitas menggosip.

Dalam dimensi agama, bagaimanapun juga menggosip (membicarakan hal negatif tentang orang lain) tidak dibenarkan. Bahkan ada suatu kisah seorang alim menghadap Allah dalam keadaan bangkrut. Pahalanya habis digerus gosip. Betapa tidak, saat kita bergosip sebenarnya proses transfer pahala sedang berlangsung. Pahala kita ditransfer kepada orang yang kita gosipkan, sementara dosa orang tersebut diberikan pada kita. Betapa ruginya….

Jadi, kalau Anda tidak suka dengan saya, gosipkan saya dan saya akan berterima kasih pada Anda karena telah mentransfer pahala secara cuma cuma dan mengambil dosa dosa saya.

Lanjutkan bergosip!…. 🤭🤫😀

Muhasabah diri, Paliyan, 22 Agustus 2020

***

Penulis: Ida Rochmawati. Psikiater di RSUD Wonosari dan di RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul. Penggiat Suicide Prevention pada LSM Imaji di Gunungkidul Yogyakarta.