Cadik Olo = Betoro Kolo ?

oleh -114 views
Kala Senja Merah Merona. Foto : Ris/SG

Musim penghujan telah tiba, untuk sebagian orang ini waktu yang sangat membahagiakannya, karena akan ada fenomena alam yang sangat indah ketika masuk senja hari wayah surup, kalau nasib baik dan alam memberikan keindahannya maka senja hari akan kaya warna dan merah ke orange-orange-an akan mendominasi langit senja hari. Tentu ini waktu yang paling ditunggu buat  sebagian orang yang senang berburu senja terutama para photographer.

Namun demikian diantara kejadian alam yang sangat mengagumkan tersebut terselip satu hal yang sampai besar segini aku masih suka mempercayainya. Adalah mitos tentang Candik Olo, menurut poro sesepuh dulu cadik olo merupakan sebuah fenomena alam yang sangat susah jika digambarkan akan kejelasannya.

Jika suatu saat senja berwarna merah, dimana cahaya mentari menyala terang merah merona, aku kelingan yen simbok suk ngadani lan sesorah bahwa mungkin ada suatu peristiwa buruk yang berhubungan dengan pertumpahan darah telah terjadi. Entah pembunuhan atau kecelakaan yang mengakibatkan korbannya berdarah dan terbunuh. Roh si korban diyakini gentayangan. Mungkin ia akan melampiaskan kepada siapa saja yang ditemuinya pada senja itu. Tentu saja hal ini disampaikan demikian ada maksud dan tujuannya tertentu, itu menurut simbok.

Beda lagi dengan simbah aku dalam menanggapi akan mitos tentang senja, ketika aku kecil masih teringat suara simbah yang sering berpesan “Lee, nek dolan ojo bali surup-surup mengko dimaem karo Betoro Kolo [cadik olo]” Pesan simbah sangat ampuh dan masih suka membekas di dalam alam pikiran aku ketika senja merah merona. Memang ini mitos yang diturunkan secara lisan dari simbah sampai ke aku cucunya, cadik olo digambarkan sebagai sosok pewayangan berupa buto/gandarwo dengan wajah menyeramkan dan suka memakan anak kecil yang suka main di tempat-tempat terlarang. Bahkan Candik Olo akan memakan anak kecil yang masih bermain saat waktu senja wayah surup atau saat magrib tiba.

Menurut ilmu Fisika, fenomena cadik olo ini adalah disebabkan oleh perbedaan cahaya mentari. Tidak ada hubungannya dengan hal-hal mistik yang terjadi di dunia ini. Semuanya terjadi karena radiasi elektromagnetik yang dipancarkan matahari.

Dikutip dari nationalgeographic.co.id, warna mentari yang dilihat manusia hanyalah sebagian kecil dari radiasi elektromagnetik. Radiasi ini mempunyai spektrum panjang gelombang yang sangat luas, tapi mata manusia hanya sensitif terhadap bagian tertentu saja, atau yang disebut panjang gelombang tampak. Warna yang berbeda berkaitan dengan panjang gelombang yang berbeda. Dan tergantung pada apa yang terjadi pada cahaya sebelum ia tiba di mata manusia, dan sebagian dari cahaya itu diserap dan disaring di atmosfer.

Jan-janne mitos babakan cadik olo iku, critanne wis entek nang aku, anak-anak aku ndak aku ceritakan tentang mitos cadik olo ada hubungan dengan mistis, namun demikian buat poro sedulur yang masih mempercayainya dan menceritakan pada anak cucunya, ya  itu adalah pilihan sumonggo mawon. Buat aku sendiri jikalau waktu dan keadaan memungkinkan, dengan bermodalkan kamera seadanya sering kali momotrek senja yang merah merona walau pesan poro sesepuhku akan cadik olo masih kuat melekat dipikiranku, sayang kalau ndak dipotrek  senja yang cetar mebahana.

Dah gitu aja….

Tertanda : Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae, prinsip hidup : "mengalir aja seperti air"