Saat Musim Penghujan Tiba dan Cinta Pertama

oleh -133 views
Ilustrasi gambar berdua dengan daun pisang. Foto : Istimewa - Back to nature via www.flytographer.com/SG

Sahabatku masih ingatkah akan kata-kata aku beberapa waktu lalu, perihal sore yang cerah merah merona, mungkin untuk saat ini aku ingin mengatakan yang berbeda, bahwasannya saat ini sang Surya lebih sering diselimuti oleh sang awan mendung.  Menurut ramalan cuaca,  memasuki minggu kedua pada bulan November ini, kita sudah masuk dimusim penghujan. Jadi mari sama-sama kita katakan “welcome to rainy season”

Seperti biasa ritual untuk menyambut musim penghujan adalah menyiapkan jas hujan, payung dan yang nggak kalah penting saluran air depan rumah harus bebas hambatan, kalau nggak mau kebanjiran, saat ini waktunya bersih-bersih, mumpung masih awal musim hujan.

Kalau mengingat hujan lebat seperti sore menjelang malam ini, sungguh pikiranku jadi melayang-layang jauh menembus derasnya air hujan, terkadang aku tersenyum geli mengingat peristiwa beberapa puluh tahun yang lalu. Ketika hujan tiba seolah membangkitkan kenangan “my first love” sungguh satu kenangan yang tak terlupakan, kenangan yang amat sangat romatis untuk ukuranku.

Hari Sabtu seperti biasa aku bersiap untuk wakuncar kalu istilah dulu ngapel, aku tidak menghiraukan gelapnya malam tanpa bintang, pekat seolah sinar bintang dan bulan terhalang tirai hitam. Namun, karena sudah bulat tekad untuk ketemu kekasih…jiahh, aku berangkat juga.

Aku pastikan semua sudah siap seperti sisiran rambut, semprot parfum kanan kiri belakang depan, yah..namanya juga mau ngapel. Dengan tidak memakan waktu lama dalam mematut diri, aku lalu menstarter motor Yamaha L2 Super dan sesegera mungkin meluncur ngaspal kearah etan.

Tidak menunggu lama motor melaju dengan kencang, dan sampailah aku di tenggah-tengah perjalanan, kok ndilalah berbarengan dengan itu semua, turunlah hujan yang sangat lebat bagai ditumpahkan dari langit. Kali ini terpaksa aku harus mengumpat misuh-misuh sendiri ternyata jas hujan tidak aku bawa, berkali-kali aku cari di bawah jok motor tidak ketemu juga, sepertinya tertinggal di rumah. Dengan demikian alternatif terakhir adalah neduh walau konsekwensinya terlambat nyampai di rumah kekasihku, apa boleh buat.

Setelah hujan reda aku bergegas melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda, sesampainya di rumah kekasihku, terlihat rumah itu sepi, aku tidak lihat kekasihku berada di teras rumah, menungguku, seperti ritual kekasihku di setiap malam minggu. Aku beranikan diri mengetuk pintu rumahnya,

 “Kulo nuwun” sambil mengetok pintu tiga kali

“Monggo” sahutan dari dalam rumah

“Oh…mas Aras, mba Andan tasih wonten grijo mas” lanjut adik  kekasihku setelah pintu terbuka.

“Ooo..ngih pun dik..mboten sah repot-repot, aku nyusul ke grijo aja” cepat aku menyahutnya sekalian pamitan.

Sampai di gereja, kebaktian malam minggu masih berlangsung, tapi dari yang aku dengar, rasa-rasanya sudah memasuki akhir dari kebaktian, makanya aku putuskan untuk tidak masuk gereja, melainkan menunggu di luar Gereja. Dan lagi-lagi hujan yang tadi sempat berhenti, kini turun lagi, rasanya lebih lebat serta diiringi suara petir yang sahut menyahut. Aduh mati aku, batin dalam hatiku, mana aku tidak bawa payung, kenapa aku tidak pinjam pada adik kekasihku tadi,  harusnya aku pinjam payung. Aku main pergi-pergi begitu aja, ah…maklum sudah rindu berat kali yak.

Setelah kebaktian selesai aku sambut kekasihku dengan senyum, aku binggung melihat respon kekasihku akan senyuman ku.

“mas…., nggak bawa payung?” sapa lirih kekasihku

“nggak dik..,tadi buru-buru” aku ngeles sekenanya

“nggak papa kan?, yo wislah, yuk..kita buat sebuah memori”lanjutku

“maksudnya?” sahut kekasihku penuh selidik

“Ayo kita catat sejarah dik, pulang bersama dengan pelepah daun pisang” jawabku mantab

“Ah…mas bisa aja” tersipu wajah manis kekasihku.

Bleeeder…..bleeder….bunyi petir sahut menyahut, amat sangat keras suaranya membuat ambyaar semua lamunanku. Seketika itu aku seolah-olah kembali berpijak ke bumi, kembali ke alam nyata. Yang jelas hari ini hujan telah tiba, menggantikan musim kemarau yang sangat-sangat panjang. Tidak berselang lama terdengar langkah kaki menghampiriku, ternyata istriku menghampiri tempat dudukku dengan  membawa mug blirik serta  sepiring singkong goreng, lalu semua berjalan seperti hari-hari biasanya.

Dah gitu aja….

Tertanda : Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae, prinsip hidup : "mengalir aja seperti air"