Curhat Papa Muda

oleh -269 views
Bersepeda keliling dusun, selingan kegiatan anak selama belajar dari rumah. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID – “Mbak, kamu kangen ndak dengan teman-teman sekolah?” Sore itu, kuungkapkan keresahaan pada Kidung melalui pertanyaan ini. Aku membayangkan ia menyimpan gumpalan rasa kangen karena perjumpaan dengan teman sekolahnya yang sangat terbatas. Kuharapkan suara yang keluar dari bibir mungilnya adalah kalimat, “Ya, kangen banget lah, pak!”

Dua detik kemudian, ia merespon pertanyaanku. Lha, ternyata bukan harapanku yang jadi kenyataan. Eh, sambil memelototi layar hape ia jawab singkat padat, “Enggak!”

Welhadalaa…

Sudah setahunan anak perempuan itu “tak sekolah”. Bocah sepuluh tahun itu seperti umumnya para siswa sekolah dasar di Negeri Kahyangan yang kini menjalani proses belajar tanpa tatap muka di sekolahan. Ibune yang lebih sering mendampinginya dalam menggarap tugas-tugas yang dikirim Bu Anjar, guru di kelas empat. Biasanya pagi sekitar jam delapan HP bergetar tanda masuk kiriman tugas melalui WA. Lalu mulailah bocah itu mengerjakan dengan agak ogah-ogahan, meski tak jarang ada tugas yang dikerjakan dengan riang seperti mem-video nyanyi atau gerak olahraga.

Selama banyak ngebrok di rumah, kuamati ada banyak perubahan terlihat. Sebagai bapak yang ngeloni bocah itu tiap hari, rasanya ukuran badannya berubah menyolok. Badannya tampak melebar, tingginya juga makin menjulang. Ya gimana enggak, tak banyak aktivitas gerak, makan porsinya semakin menanjak. “Wah, tak terasa anakku sudah beranjak gadis…”, batinku penuh syukur.

Sebagai bapak muda, aku sangat senang dengan perkembangan ini, namun juga tak tinggal diam melihat sisi yang meresahkan hati. Resah melihat minimnya aktivitas gerak badan. Ia agak kupaksa berolahraga entah badminton di halaman rumah dua kali seminggu atau sepedaan meski hanya sesuai mood dan cuaca. Begitu pula aku suka mengantarnya bermain dengan sepupu-sepupu meski ketika bertemu mereka juga nge-game atau bermain di dalam rumah. Ya, tak jauh beda.

Keresahan yang tak kalah menggelayut hati adalah pertanyaan bagaimana putriku bisa belajar seni survival jika tetap tak bertemu muka dengan teman-teman atau guru-gurunya? Sebenarnya sampai detik ini aku merasa sukses menjaga keamanannya. Namun kepikiran juga tentang bekal seni menjaga diri pada masa depannya.

Selama ini anak-anak benar-benar diperlakukan berbeda dengan yang dewasa dalam pertemuan tatap muka di sekolah, tempat ibadah, atau tempat yang lain. Bukankah mereka bisa juga diperlakukan sama dalam rangka mempraktikkan sisi survival-nya? Kurasa seni survival pada anak akan terlatih ketika para bocah juga bisa bertemu dengan teman dan gurunya, tentu dengan tetap maskeran plus menjaga jarak. Dan itu juga bagian dari proses pendidikan.

Tiba-tiba saya ingat jaman esde dulu. Ada kegiatan Pramuka yang umumnya dianggap berbahaya, yaitu berkemah dengan rangkaian kegiatannya meski hanya di halaman sekolah. Mungkin para orangtua juga merasa dagdigdug dengan latihan seni survival bagi para bocahnya. Saya dan teman-teman dibekali beras agar bisa masak sendiri untuk makan malam. Kami pun merasakan sialnya menggoreng telor yang jadi gosong gara-gara api molat-molat dan mengangkatnya telat.

Begitu pula waktu esempe, saat kemah di lapangan Goa Selarong, kami harus berjalan jauh untuk nunut mandi dan BAB di rumah-rumah penduduk. Kami harus ngantri berjam-jam supaya bisa mandi bergantian. Tak lama kemudian badan gemreges dan perut mual karena masuk angin. Ini pengalaman berharga untuk menjaga kehidupan diri juga bersama.

Saat ini, meski degdegan melihat perkembangan keadaan, namun akan kuanggukkan kepala jika pertemuan tatap muka bagi anak-anak segera dijalankan.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.