Malaikat Tak Bersayap

Ayo bersama-sama menjaga keselamatan berkendara mulai dari tindakan sederhana. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID –┬áMotor bebek yang dikendarai laki-laki di depan kami itu tampak melaju biasa. Kecepatannya termasuk lambat, mungkin sekitar 50 km per jam. Tetiba mataku melihat ada yang aneh, kulirik sisi kiri bawah dan, “Duh, Gusti, standarnya masih jepaplang. Woo, bapak pengendara itu pasti lupa mengembalikan posisi itu ke tempat semula,” batinku.

Sambil memegang stir, terasa detak jantungku bertambah frekuensinya, lha tak jauh di depan ada belokan. Kubayangkan ketika menikung standarnya menyerempet aspal dan ia terjungkal.

Bacaan Lainnya

Kidung yang duduk di sampingku tak mengerti aneka bayangan buruk yang sedang bertarung di pikiranku. Ia masih asyik memelototi hape-nya. “Mbak, lihat itu ada bapak yang lupa membalikkan standar samping motornya. Wah, bahaya itu kalau nanti belok kiri!” Kuajak ia mengangkat muka dan mengarahkan matanya ke depan.

Kami belum bisa berbuat banyak karena posisi di belakang dan agak kesulitan menyalip karena lalu lalang truk di sebelah kanan. Tiba-tiba ada pengendara motor berboncengan menyalip kami dan memperlambat kecepatannya tepat di samping lelaki setengah baya itu.

Mereka seperti diberi aba-aba, tangan kirinya bersamaan menunjuk ke arah mata lelaki itu lalu menurunkan ke arah bawah. Mereka memberi tanda bahwa standar samping motornya hampir menyenggol aspal jalan. Bapak itu menengok kiri bawah lalu segera menyepakkan kaki kirinya. Ia menendang pelan standar samping dan alat penyangga kembali ke tempat semula, dan aah, kami ikut lega.

“Mbak, dua orang itu jadi penolong ya, ia seperti malaikat penyelamat gitu!” Kutunjukkan peran kecil dari dua orang sesama pengendara motor yang baru saja menjadi penyelamat sesamanya. Kugambarkan perannya bak makhluk setengah dewa.

“Iya, ya pak, seperti malaikat tak bersayap!”

Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Selain ikut senang karena tak terjadi kecelakaan namun juga bahagia karena anakku bisa belajar hal istimewa dari peristiwa dan orang yang sederhana. Bukankah selama ini ada kecenderungan yang menjadi bahan pengajaran adalah orang atau peristiwa yang besar? Bagiku tidak. Air yang jernih bisa datang dari mana saja dan kapan saja.

Kisah manusia yang menjaga keselamatan sesamanya adalah kisah makhluk setengah dewa. Meski hanya mengingatkan untuk mengembalikan standar samping ke posisi semula.

***

Facebook Comments Box

Pos terkait