Kisah Pekerja Lajon Gunungkidul: dari Ban Bocor sampai Diboncengi Makhluk Halus

oleh -1.173 views
Berangkat kerja penuh asa para sedulur lajon Gunungkidul. Foto: Wandi.

Ora pengin terkenal, po maneh kondang. Penting awak sehat, motore waras, iso buruh. Yen ora buruh ndak ketele glimpang, angsurane ra kecekel. Sluman, slumun, slamet.” Kalimat-kalimat pendek curhatan seorang pria yang saban hari bekerja nglaju dari Gunungkidul ke Kota Yogya. Memang sedikit melo, namun di akhir kalimat terpancar semangat membara, siap menerjang halang rintang demi mewujudkan asa.

Meneruskan Pekerjaan Orang Tua

Suwandi (41), pria dari Dusun Ngricik Desa Wiladeg Kecamatan Karangmojo ini kurang lebih sudah 20 tahun menjadi pekerja lajon dari Gunungkidul ke Kota Yogya. Sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan toko elektronik di bilangan Jl Urip Sumoharjo Yogya Kota. Ia menikmati rutinitas bekerja dengan gembira, meskipun terkadang menjumpai kendala yang tidak ringan.

“Saya mulai kerja pada akhir tahun 1999. Awalnya saya menginap di tempat kerja. Tahun 2000 mulai nglaju, seminggu sekali pulang naik bis karena belum punya motor. Pertama bekerja di bagian pengiriman barang. Kemudian dipercaya oleh pemilik toko untuk bagian instalasi AC dan antena,” ungkap Suwandi.

“Tahun 2001 saya menikah, terus sudah bisa beli motor Suzuki Bravo. Waktu itu toko tutup pukul 21.00 WIB. Mulai saat itu saya mulai pulang setiap 2-3 hari sekali,” terang Wandi.

Alasan utama Suwandi bekerja dengan menglaju karena keluarganya bertempat tinggal di kampung. Ia lebih merasa tenteram bisa berkumpul dengan istri, anak, orang tua, juga simbahnya. Karena itu ia mengambil risiko rela setiap hari menglaju pekerjaan sejauh kurang lebih 80 km perjalanan pergi-pulang. Pagi-pagi subuh berangkat, sore atau malam harinya berkumpul kembali dengan keluarga di kampung.

Sampai saat ini Suwandi belum ada niat untuk bekerja di area Gunungkidul. Kesediaan dan kesetiaanya menjalani bekerja di Kota Yogya ternyata tidak semata-mata karena upah yang diterimanya lebih tinggi daripada upah bekerja di Gunungkidul. Ada perjalanan sejarah di tempat kerja yang ia jalani.

“Karena saya bisa kerja di tempat sekarang ini ada jasa dari bapak saya. Sejak saya masih kecil dan usia sekolah, bapak saya kerja di toko ini. Bapak saya juga yang memasukkan saya kerja di toko ini. Waktu itu bapak saya jadi sopir, dan saya jadi kernetnya. Bapak saya juga yang mengajari saya pasang AC dan mengenal instalasi berbagai perkakas elektronik lainnya. Saya ingat, pemilik toko ini sayang banget dengan bapak saya. Bapak saya sudah almarhum, jadi boleh dikatakan saya memang meneruskan kerja di toko ini. Saya kerasan bekerja di sini” imbuh Wandi.

Menjadi penglaju tentu memiliki segudang kisah baik suka maupun duka. Tahun 2015, Suwandi pernah mengalami sakit berat. Ia harus beristirahat beberapa bulan di rumah. Untuk mendapatkan penghasilan, ia ikut kerja di tetangga yang punya usaha membuat drumband. Tak lama setelah kondisinya fit ia kemudian kembali bekerja di toko tempat kerjanya dulu.

Menjadi pekerja laju memang mesti bersiap diri dengan kepanasan atau kehujanan di tengah perjalanan. Kondisi buruk seperti ban bocor, motor rusak di tengah perjalanan sudah tidak terhitung berapa kali dialami Suwandi. Kesulitan dan kendala yang dihadapi pekerja lajon seperti Suwandi ternyata menumbuhkan solidaritas, sehingga akhirnya menjadi kebiasaan saling membantu di antara para pelajon. Suwandi menuturkan, ia sukarela membantu teman lain yang sedang mengalami kendala karena dirinya juga pernah dibantu rekan lainnya.

Menjadi pekerja di perkotaan ternyata tidak membuat Suwandi melupakan kebiasaan hidup di perdesaan. Sepulang dari bekerja waktu masih belum terlalu sore, ia beberapa menyempatkan diri pulang dengan membawa bongkokan pakan ternak di sepeda motornya. Ide “ngarit” sembari pulang ia dapatkan karena menjumpai beberapa kebun kosong di dekat tempat kerja yang penuh tanaman liar.

“Waktu itu saya pulang sore, sampai rumah sapi sama kambing kok belum ada pakannya. Saya tanya simbok, katanya bakul pakan tidak lewat. Dari situ saya punya pikiran, kalau di sekitar tempat kerja di Jogja banyak tumbuhan dan rumput liar bisa buat pakan. Biasa saya masuk kebun kosong yang ada tulisan DIJUAL. Kalau ketemu pemilik saya minta ijin menyabit tanaman liar itu. Pernah pula saya ngarit rumput liar di pinggir jalan,” ungkapnya.

Sepulang kerja menyempatkan diri ngarit. Foto: Wandi.

Sampai kapan Wandi akan menjalani bekerja dengan menglaju ia tidak bisa menjawab. Sampai saat ini ia juga belum ada minat untuk mencari pekerjaan di area Gunungkidul. Wandi menceritakan, sebetulnya ia disuruh untuk tidur di garasi rumah bos. Tapi ia lebih nyaman pulang ke rumah, karena bisa kumpul dengan keluarga. Mengetahui kebiasaan kerja menglaju ini, bos tempatnya bekerja selalu berpesan agar hati-hati setiap kali berkendara.

Merawat Simbah yang Sendirian

Kisah menarik pengalaman penglaju lainnya seperti yang diungkap Nuryadi (31), penglaju asal Desa Logandeng Kecamatan Playen. Saben hari ia menglaju kerja bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah instansi pemerintah di Kota Jogja. Ia sudah 11 tahun menjadi penglaju.

“Alasan saya nglaju kerja awalnya karena simbah saya yang sendirian merawat adik saya yang cacat sejak kecil. Sedang orang tua saya sudah meninggal,” tutur Nuryadi.

“Sukanya menjadi penglaju itu setiap hari ketemu keluarga. Dukanya kalau kendaraan saya ada kendala seperti ban bocor, mesin trouble atau lainnya,” lanjutnya.

Pengalaman menarik yang ditemui Nuryadi selama menjadi penglaju adalah saat banjir besar menimpa area Gunungkidul pada 2017 lalu. Jembatan Bunder waktu itu ditutup, ia ijin pulang lebih awal dari harusnya pukul 17.00 WIB menjadi pukul 15.00 WIB. Untuk mengindari penutupan Jembatan Bunder, di Pertigaan Sambipitu ia berbelok lewat Nglipar. Ternyata sampai di Kwarasan ia juga tidak bisa lewat karena jembatan Karangtengah sudah terendam banjir. Akhirnya, ia putar balik ke arah Patuk dan melewati Dlingo jalur Getas – Playen bisa sampai rumah kembali berkumpul keluarga dengan selamat.

Sampai saat ini Nuryadi juga belum berpikiran untuk mencari kerja yang dekat-dekat saja di area Gunungkidul. Kendala dan tantangan sebagai penglaju menurutnya hal biasa. Ia mengaku akan terus menjadi pekerja lajon karena dari situ ia mendapatkan penghasilan untuk mencukupi keluarga, simbahnya, dan untuk menjaga dan merawat adiknya yang berkebutuhan khusus.

Membantu Mengurus Ternak

Penglaju lainnya, Jono Putro Sentono (42), pria asal Dusun Ngunut Desa Ngunut Kecamatan Playen mengungkapkan, alasan menglaju karena menurutnya jarak tempuh tidak terlalu lama, setiap hari bisa berkumpul dengan keluarga. Alasan tambahannya bisa sedikit membantu keluarga yang di rumah mengurus ternak sapi dan kambing.

“Saya tukang gawe wajan,” begitu ungkap Jono yang keseharian bekerja di perusahaan Sp Aluminium Yogyakarta di area Wirosaban Kota Yogya.

Sejak 2001 ia telah menjadi pekerja lajon. Ia memberikan ancar-ancar mulai menglaju kerja sejak naik bus turunnya masih di Terminal Umbulharjo.

“Naik bus dari Gading Gunkid ke Umbulharjo ongkosnya waktu itu masih seribu Rupiah. Kurang lebih saya jalani selama 2 tahun. Kemudian bisa punya motor sendiri, dan kerja nglaju naik motor lewat Bukit Pathuk. Tapi uhtuk sekitar 5 tahun ini saya lebih memilih jalur tengah atau jalur ndeso. Dari Playen -Dlingo – Terong – Bukit Cinomati – Segoroyoso Pleret – Tembus ke Jalan Imogiri Timur lanjut ke tempat kerja di Wirosaban,” terang Jono.

Hal yang dirasakan menantang sebagai pekerja lajon menurut Jono adalah keasyikannya menikmati perjalanan setiap hari lewat jalan desa yang sepi. Ia berusaha menghindari lewat jalan Bukit Patuk yang dirasakan rame dan ruwet.

Harapan Jono sebagai pekerja lajon tidak muluk-muluk. Ia berharap dan berusaha menjadi pelajon yang ramah ke sesama penglaju, agar kalau ada kesulitan bisa saling membantu.

Harapan bisa kerja di Gunungkidul yang dekat dengan tempat tinggalnya jelas ada. Namun untuk sementara ia mengaku kebacut tresna dan nyaman dengan pekerjaan yang dijalani saat ini. Ia juga merasa nyaman dengan sesama teman penglaju yang dijumpai sehari-hari dalam perjalanan pergi-pulang kerja.

Alami Lakalantas Parah

Suka-duka yang dialami para pelajon memang bermacam-macam. Dody (35), pria yang tinggal di Nglipar ini mengenal betul pahit getir menjadi pekerja komuter. Sudah 10 tahun ia menglaju kerja ke area Pakualaman pada sebuah kantor notaris/PPAT.

“Suka duka di jalan saat nglaju itu banyak sukanya. Kita tambah pengalaman dengan belajar dari kejadian-kejadian di jalan. Banyak kenal teman-teman baru para penglaju maupun pengguna jalan lain yang sering ketemu saat jam-jam tertentu. Bisa saling tolong-menolong di jalan saat terjadi trouble kendaraan maunpun saat lalin macet total. Kita juga saling bahu-membahu melaporkan titik kemacetan dan membantu aparat kepolisian dalam mengurai kemacetan. Namun, dukanya sering membantu orang trouble tapi saat trouble sendiri jarang ada yang membantu,” terang Dody yang biasa dipanggil Pelari Malam oleh kawan-kawan penglaju.

Pengalaman menarik lainnya yang dirasakan Dody, selain memperolah tambatan hati dan teman di jalan seperjuangan, ia mengaku pernah hampir hilang nyawa saat mengalami kecelakaan di jalan. Menurut cerita orang-orang yang melihat kejadian, dirinya terlihat seolah terbang melintasi atas mobil. Padahal ia sudah masuk di bawah kolong truk Fuso. Dari kejadian yang dialaminya itu, ia semakin yakin bahwa siapa yang suka berbuat baik dan sopan di jalan khususnya di tempat-tempat rawan pasti akan dilindungi saat melewatinya.

Penglaju Perempuan

Menglaju pekerjaan bukan hanya dilakukan para kaum laki-laki saja. Angga Pravita (33), perempuan yang tinggal di Semanu ini setiap hari menglaju kerja pada sebuah kantor di area Nologaten Depok Sleman. Sudah 6 tahun menjadi penglaju kerja Gunungkidul – Yogya. Terkadang ia juga mesti ke kantor di daerah Godean, karena aktivitas kantor melingkupi 2 area tersebut.

Kesedihan yang dirasakan menjadi penglaju adalah saat musim penghujan. Pagi hujan deras pun ya mesti berangkat karena tanggung jawab pekerjaan yang mesti dijalani. Angga menuturkan, kesedihan yang dirasakan saat musim hujan itu masih tidak sebanding dengan hal-hal baik yang didapatkan dengan bekerja menglaju.

Selain mendapatkan penghasilan untuk keluarga, ia juga mendapatkan banyak teman yang akhirnya menjadi saudara berawal dari kenal di jalan saat berangkat atau pulang kerja. Pengalaman menarik lainnya yang dirasakan Angga adalah ia mampu mengenali diri lebih baik dengan mengenal berbagai karakter orang di lingkungan kerja dan di tengah perjalanan.

Ditumpangi Makhluk Halus

Ari Subagyo (50), pria yang tinggal di Siraman Wonosari yang sudah lebih dari 10 tahun menglaju bekerja di kantor Walikota Yogyakarta ini barangkali termasuk langka. Sewaktu pulang malam karena ada acara di kantor, ia pernah disetop seorang ibu di dekat jembatan pertigaan Piyungan, katanya mau numpang sampai Pasar Argosari Wonosari. Dengan niat baik, Ari memberikan tumpangan. Diboncengkan perempuan tersebut. Sampai di depan Wonosari meminta tolong diantarkan ke timur ke arah Semanu.

Di Jembatan Jirak Semanu si ibu tersebut tiba-tiba minta berhenti. Ari segera menghentikan motornya, ia melihat si ibu turun dari boncengannya. Sewaktu menoleh ke belakang ia begitu kaget, karena si ibu yang baru saja diboncengkan tadi sudah tidak kelihatan lagi. Ia bingung dan heran, dalam waktu yang cepat kok orang yang diboncengkan tiba-tiba hilang begitu saja.

“Niat saya baik, menolong memberi tumpangan karena sudah tidak ada angkutan ke Wonosari sewaktu malam. Sekira yang pernah saya boncengkan itu ternyata makhluk halus, yang penting saya sudah menolong sesuai permintaannya. Semoga saja niat baik itu berbalik menjadi perlindungan bagi saya, ” ungkap Ari.

Pengalaman aneh dan unik yang dialami Ari tak menyurutkan tekatnya untuk bekerja jauh dari rumah, terkadang harus pulang malam. Menurut Ari, apa yang dialaminya bagian dari suka-duka sebagai pekerja lajon. Ari mengakui, menjadi pekerja lajon memang perlu siap fisik dan mental. Terlebih penting dari itu, Ari berkeyakinan bahwa hasil pekerjaan yang dijalani juga menjadi berkah bagi istri dan anak-anaknya yang selalu menyemangatinya. (Tugi).

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.