Luh… Aku Benci Sekolah: Sebuah Potret Masalah Pendidikan dari Pelosok Gunungkidul

oleh -190 views
Kusworo atau Aisworo Ang, penulis buku "Luh... Aku Benci Sekolah". Dok: KH Files.

SEPUTARGK.ID – Novel berjudul Lintang Lantip yang terbit 2011 sempat menggemparkan para pecinta sastra. Apalagi kemudian pada 2016 diangkat ke dalam film layar lebar berjudul Mars: Mimpi Ananda Meraih Semesta. Film itu pun mendapat sambutan hangat.

Melalui novel yang difilmkan tersebut, masyarakat luas, para tokoh masyarakat, para pendidik, bahkan sampai Menteri Pendidikan pun kembali tercelik fakta lapangan. Bahwa anak-anak bangsa dan masyarakat di pelosok perdesaan masih menghadapi masalah dan tantangan yang tidak mudah untuk mendapatkan pendidikan di jenjang dasar sekalipun.

Kisah yang ditulis memang sangat menarik. Potret perjuangan seorang pelajar sekolah dasar dari pelosok desa Gunungkidul yang berselimut aneka masalah dan tantangan. Mulai dari belenggu kemiskinan, paradigma dan tradisi yang kontrapoduktif, sampai perkara kebijakan dan struktur kekuasaan yang tidak berpihak kepada masyarakat bawah.

Kusworo yang menyamar sebagai Aisworo Ang sang penulis kisah tetaplah seorang desa yang lugu, humble, namun gerah untuk tidak bersikap kritis. Ia mengaku, apa yang dituliskan dalam novel Lintang Lantip adalah wujud “rekaman kemarahan” yang meledak ketika sebagai guru menghadapi fakta dan aneka permasalahan saat berjumpa dengan siswa, orang tua siswa, masyarakat sekitar, kebijakan sekolah, dan juga kebijakan pemerintah. Masih dia jumpai anak-anak putus sekolah atau sengaja tidak melanjutkan sekolah karena terbelit sulit biaya, sengaja agar cepat nikah atau cepat kerja di usia dini, dan aneka problema lainnya.

Pengalaman hidup Kusworo yang keras agar bertahan hidup telah membentuk dirinya menjadi pribadi tangguh dan selalu terusik melihat penderitaan sesama. Sarjana Fiqih Pendidikan Agama Islam UMY ini melewati jalan hidup yang tidak ringan agar bisa bersekolah. Menjadi tukang loper koran di wilayah ibukota Kabupaten Gunungkidul adalah profesi yang mengantarkan dirinya bisa sekolah sampai lulus kuliah.

Kusworo bersama para guru muda lainnya di pelosok Tepus Gunungkidul sering melakukan “home visit” untuk mengetahui lebih mendalam kondisi anak didik, orang tuanya, dan masyarakat sekelilingnya. Melalui pertemuan-pertemuan itu, Kusworo menjadi paham betul mengapa ada banyak anak didiknya yang putus sekolah, dan tidak melanjutkan ke jenjang sekolah di atasnya.

Kerasnya alam karst Gunungkidul tidak semata berkelindan dengan problema kemiskinan. Menurutnya, pendidikan justru menjadi pintu masuk agar generasi muda mampu melanjutkan kehidupan di alam yang keras ini. Karena itu, pandangan dan tradisi masyarakat yang terkadang praktis dan pragmatis yang perlu didobrak. Agar tidak selalu menjadi permakluman ketika anak harus putus sekolah karena alasan ekonomi, diburu waktu agar segera nikah, atau segera bekerja di usia dini.

Kusworo saat ini tinggal di sebuah desa di Tanjungsari Gunungkidul. Di tengah tugasnya menjadi guru pada sekolah kejuruan Muhammadiyah di Kecamatan Tepus, ia juga totalitas bekerja sebagai petani ladang tadah hujan sebagaimana warga desa di sekitarnya.

Mas Guru ini lebih nyaman disebut sebagai petani yang diberi kepercayaan sebagai guru. Di tengah kesibukannya sebagai petani, dirinya saat ini sedang fokus beternak kambing, budidaya Jambu Madu Deli dan madu lebah klanceng di antara cempluk-cempluk karst sekeliling pekarangan tempat tinggalnya.

Pergumulan Kusworo dengan dunia pertanian dan masyarakat agraris yang melingkupinya ternyata justru terus mengasah dirinya untuk selalu bersikap kritis terhadap permasalahan dan tantangan dunia pendidikan. Utamanya pendidikan bagi anak-anak muda perdesaan.

Kegelisahan dan refleksi terkini problema pendidikan di kawasan perdesaan tampaknya terekam dalam novel terbaru Kusworo berjudul “Luh … Aku Benci Sekolah”. Novel baru ini diluncurkan tepat pada hari Pramuka 14 Agustus 2021 lalu. Meski judulnya terasa nyeleneh dan menjadi antitesa, namun Kusworo sesungguhnya mengajak semua pihak agar menghadirkan sistem pendidikan yang memerdekaan para peserta didik sebagai subjek pendidikan.

Ya, setidaknya Kusworo selalu setia mengingatkan pentingnya pendidikan yang memerdekakan masyarakat perdesaan yang masih terbelenggu, baik secara ekonomi, sosiokultural, dan terkadang justru terkekang oleh sistem pendidikan itu sendiri.

Sedulur yang tertarik bocoran isi novel terbaru KuSworo silakan simak obrolan Dipodjok KH Files. Klik tautan ini:’

**

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.