Tinggal di Kandang Sapi: Potret Dilema Kepala Keluarga Sejati?

oleh -555 views
Ngadiono, warga Kedungranti Nglipar dan kandang sapi yang menjadi tempat tinggalnya. Dok: KH/Edi Padmo.

SEPUTARGK.ID – Gunungkidul viral lagi. Kali ini bukan karena keelokan pantai dan goa, atau kasus gantung diri, namun karena ada sepasang suami-istri yang tinggal di kandang sapi.

Ngadiyono dan Sumini warga Padukuhan Kedungranti, Kalurahan Nglipar, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul itu sudah empat bulan tinggal di kandang sapi berukuran 8×3 meter! Sontak media lokal maupun nasional memberitakan nasib pasangan suami istri beserta kedua anaknya itu, beberapa hari lalu.

Meski bukan Wong Nggunungkidul tulen, saya pun ikut tersentak. Baru sejak 2008 saya tinggal di Gunungkidul karena menjadi pendeta di satu gereja. Hati ini merasa perih. Dhuh, Gusti, bagaimana nalarnya kok keluarga ini harus berbagi tempat dengan tiga ekor sapi dan dua ekor kambing dan menempati sepertiga kandang mereka? Hmmm, apakah karena situasi darurat bencana alam sehingga bangunan fisik yang layak semua bertumbangan lalu mereka menempati tempat tinggal yang dianggap tidak layak itu?

Tiba-tiba saya ingat kejadian yang mirip dengan kasus Ngadiyono itu pada peristiwa gempa Bantul 2006. Waktu itu saya masih tinggal di Pandak, Bantul. Mbah Arjo, seorang tetangga saya satu RT terpaksa tidur di kandang kambing. Kami mengetahuinya baru pada hari kedua setelah Lindhu Jogja itu.

Ceritanya, malam itu, tiga pemuda kampung mengecek warga satu RT untuk melihat kondisi warga pasca gempa. Berangkat dari posko, saya, Harto, dan Kecik berjalan menembus kegelapan di samping puing-puing reruntuhan dan mengecek kondisi dengan senter sambil mengamati para warga yang menjadi korban.

Mataku berkaca-kaca melihat seorang laki-laki sepuh njingkrung di kandang kambing di atas papan yang biasanya untuk tempat rumput. Namun karena suasana gempa, hati ini kemudian mudah tertata dan memaklumi kenyataan yang ada. Lha, wong banyak yang rumahnya ambruk dan malam itu juga banyak warga lain yang belum mendapat tenda untuk tempat tinggal sementara.

Kasus Mbah Arjo masih bisa dipahami orang karena memang situasi bencana gempa. Tapi kasus Ngadiyono ini sangat berbeda. Meski sebenarnya Jogja masih berstatus tanggap darurat bencana non-alam karena pandemi Covid-19. Hanya saja orang tinggal di kandang sapi seperti itu sangat tidak manusiawi. Itu sekilas penilaian umum.

Namun di balik itu, menurutku ada secercah hikmah terungkap, meski tak terang benderang yaitu bagaimana Ngadiyono sebagai seorang kepala keluarga berjuang menjaga jati dirinya. Lihat saja bagaimana ungkapan kisah Ngadiyono itu dinyatakannya di media. Menurut wawancara yang dilakukan awak media kepada lelaki itu terungkap alasan bahwa, “… keluarga ini terjerat utang rentenir atau bank plecit hingga puluhan juta.” Oh, ternyata mereka terlilit bank!

Ceritanya, semula ia bekerja sebagai tukang sablon. Dilema dialami Ngadiono sebagai kepala keluarga untuk terus bisa mengembangkan ekonominya, ia perlu modal usaha. Ia kemudian meminjam ke bank. Sayangnya usahanya bangkrut dan terlanjur hutangnya berlipat ganda alias puluhan juta. Ia terpaksa menjual tanah dan rumahnya pada adiknya, kemudian ia merantau ke Sumatera bekerja sebagai buruh perkebunan sawit.

Sampai di sini sudah terasa bahwa laki-laki itu menunjukkan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Coba bayangkan saja, ia bisa menghindari perjuangan itu dan lari dari kenyataan. Contoh yang sudah terjadi, dua hari sebelumnya, ada anak muda di Gunungkidul yang gantung diri diduga keras karena terlilit pinjol.

Pernyataan menarik selanjutnya adalah pernyataan bahwa “ia tidak mau merepotkan keluarga dan tetangga!” Ia menyatakan pernah ditawari untuk tinggal bersama orangtuanya, namun memilih tinggal di kandang sapi.

Sebagai pelayan umat, saya menganggukkan kepala atas sikapnya. Dalam persiapan pernikahan warga yang saya lakukan, misalnya, hampir selalu saya katakan kepada calon mempelai, “Lebih baik ngontrak dari pada tinggal bersama orangtua.” Ini suatu penegasan bagi calon mempelai bahwa ukuran kesiapan memasuki kehidupan keluarga ya begitu itu. Mandiri yang ditandai dengan tempat tinggal sendiri. Ia tinggal di kandang sapi sambil menjaga sapi gadhuhan. Toh harapannya “semoga nanti mampu membeli rumah lagi!”

Dilema bagi kepala keluarga untuk terus menunjukkan kemandiriannya teruji dengan adanya pihak yang memakai ukuran kemandirian yang berbeda. Banyak pihak datang. Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten pun datang. Beliau memberikan bingkisan, lalu meminta Ngadiyono tinggal menumpang di rumah layak alias rumah orangtuanya.

Begitu pula warga masyarakat dan pemangkunya juga resah, karena berita tentang warga dusun yang tinggal di kandang sapi menjadi viral. Ini bukan menjadi masalah individu lagi, karena tersorot juga soal jati diri komunalitas-nya.

Warga tidak terima dianggap tidak peduli dan tidak menjaga tradisi kerja-bakti. Maka kesepakatan wargapun diambil. Jika pagi sampai sore boleh tidur di kandang, namun malamnya tidur di rumah orangtuanya sambil menunggu bantuan datang untuk menebus rumah lama atau membangun di tanah kas desa.

Begitu dilematis Ngadiyono memperjuangkan jati dirinya sebagai kepala keluarga yang sejati, mengupayakan kemandirian dan tanpa merepotkan orang. Bahkan tak peduli bagaimana keadaan tempat tinggalnya, termasuk jika harus tinggal di kandang sapi.

Saya kira, ada ribuan Ngadiyono pada masa pageblug ini. Mereka adalah para kepala keluarga sejati yang sedang berjuang mati-matian menjaga jati dirinya. Keluarganya sangat terdampak bencana non-alam, dan memaksa mereka terjun dalam situasi pengangguran, kemiskinan, atau hutang yang tak diharapkan. Di sisi yang lain, mereka sangat ingin tetap mandiri dan tidak merepotkan orang lain, termasuk kehadiran negara yang justru terasa merendahkan jati dirinya dengan sekadar memberi bingkisan.

Eh, namun tenang saja. Ini semua tafsiran saya sebagai manusia, sih. Sebenarnya saya tak tahu persis, apakah Ngadiyono merasakan dilema menjaga jati diri sebagai kepala keluarga yang sejati itu. Menurutku sih, ia merasakan amat sangat dilematis. Termasuk juga ribuan kepala keluarga yang bernasib sama.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.