Mitos Kecerdasan Kera Ekor Panjang

oleh -52 views
Kera ekor panjang (macaca fascicularis). Foto: Woro.

Di kawasan selatan Gunungkidul, kera ekor panjang sudah bisa dikatakan hama nomer satu. Daya rusaknya luas dan mengerikan. Kera jenis ini amat susah diatasi karena punya kecepatan lari yang baik. Lokasi hidup kera di daerah berbukit-bukit menjadikannya makin sulit ditangkap. Rombongan kera itu dalam sekejap akan menghilang bersembunyi di ‘song-song’ bukit yang tak mudah dijangkau.

Selain itu susahnya mengatasi kera ekor panjang bisa jadi karena primata ini cerdas. Saya berulang kali mendengar cerita-cerita dari banyak petani yang menyaksikan langsung betapa cerdasnya kera. Banyak cerita yang saya dengar namun saya hanya akan tuliskan 2 cerita saja.

Pertama, kisah balas dendam gerombolan kera manakala ada salah satu anggotanya yang jadi kekerasan manusia baik berupa lemparan batu, serangan ketapel maupun serangan dengan ‘bedhil manuk’. Mereka bisa menditeksi lahan pelaku kekerasan dan segera akan membalas dendam dengan merusak tanaman atau gubug yang ada. Cara merusak gubug amat menarik dan ‘beradab’ yakni dengan menurunkan genting ‘diranting’ satu per satu. Ini tak ubahnya manusia yang bergotong-royong merehap atap rumah.

Kisah kedua. Kesaksian seorang petani di Hargosari yang terheran-heran, ‘gumun serendeng‘ menyaksikan bagaimana rombongan kera bisa mengambil air di jerigen (digunakan petani sebagai persediaan air wudhu) dengan memasukkan daun yang dibentuk semacam irus. Mulut kera tak sanggup menjangkau air, namun kecerdasannya memastikan kera tak kehausan.

Ada banyak kisah kecerdasan kera ekor panjang yang pernah saya dengar. Barangkali Anda pun demikian.

Kecerdasan kera ekor panjang seperti mitos belaka karena belum melewati penelitian empirik. Namun tak benar juga kalau disebut mitos karena kesaksian tak hanya datang dari satu dua petani melainkan puluhan dari berbagai daerah.

Saya berharap pemerintah, universitas, para ilmuwan bersedia melakukan eksperimen mendalam soal kecerdasan primata jenis ekor panjang ini. Siapa tahu hasilnya bisa menjadi jalan menemukan solusi mengatasi serangan ekor panjang.

Tentang Penulis: Aisworo Ang

Aisworo Ang
Guru SMK Muhammadiyah Tepus, nyambi jadi petani lahan kering di Dusun Menthel, Hargosari, Tanjungsari. Senang menulis dan mendokumentasikan seputar masyarakat desa.