Kera Ekor Panjang, Pembawa Pesan Pelestarian Alam

oleh -194 views
Kera ekor panjang. Foto: Bilal.

SEPUTARGK.ID – Kera ekor panjang atau sering disebut monyek kra (macaca fascicularis) adalah monyet asli Asia Tenggara, namun sekarang tersebar di berbagai tempat di Asia. Nama lokalnya dalam bahasa Melayu disebut kra atau kera, istilah ini berasal dari tiruan bunyi yang dikeluarkan oleh hewan ini. Dalam literatur-literatur lama, spesies ini acap disebut sebagai kera ekor panjang atau monyet ekor panjang (dari bahasa Inggris, long-tailed macaque), monyet pemakan kepiting (crab-eating monkey), atau monyet saja.

Monyet ini sangat adaptif dan termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Selain menjadi hewan timangan atau pertunjukan, monyet ini juga digunakan dalam berbagai percobaan kedokteran. Menurut Wikipedia, di beberapa tempat, seperti halnya di Sangeh, Bali, monyet kra dianggap sebagai hewan yang dikeramatkan dan tidak boleh diganggu.

Di Gunungkidul bagian selatan, kera ekor panjang merupakan binatang yang sudah ada sejak lama, bahkan diperoleh informasi bahwa kawanan binatang liar ini memakan tanaman yang dibudidayakan warga sehingga menimbulkan kerusakan dan kerugian. Sementara itu, di pegunungan Gunungkidul bagian utara, ternyata kisah keberadaan kera ekor panjang ini juga sudah puluhan tahun.

“Dulu hanya nampak di wilayah kami satu ekor saja, itupun sudah membuat warga heboh lalu menghalau kearah hutan,” ujar Paryanto (39), warga Dusun Pringombo, Desa Natah, Nglipar.

Beberapa tahun sejak kemunculan satu ekor kera di beberapa titik antara Padukuhan Pringombo, Ngangkruk, dan Sriten tersebut kemudian di sepanjang perbukitan Baturagung mulai bertambah jumlahnya.

Paryanto menceritakan, kera ekor panjang ini awalnya hanya nampak bertengger di pohon, kadang hanya lewat dan tidak merugikan warga. Namun, beberapa tahun terakhir ini jumlah kera ekor panjang semakin banyak di perbukitan ini bahkan dia menggambarkan hingga “ratusan ekor” bahkan kini sudah mulai tidak terlalu takut dengan hadirnya manusia di sekitar mereka.

“Mereka sudah mulai berani mengambil bekal para petani yang bekerja di sawah, memakan hasil pertanian yang berada di pinggiran hutan, bahkan jika tidak ada makanan lain kera ini juga mengunyah batang rumput kolonjono” jelasnya.

Terkait dengan antisipasi yang diambil oleh masyarakat setempat, semenjak munculnya satwa tersebut warga juga terus berupaya agar ke depannya tidak terjadi “pengrusakan” yag tidak terkendali. Eko Sujatma (38), warga Pringombo yang aktif sebagai pegiat konservasi alam menuturkan langkah yang diambil para pemerhati lingkungan untuk melakukan mitigasi serangan hama ini.

“Dari informasi warga tentang munculnya kera ekor panjang di wilayah kami, maka kami pun mengambil langkah nyata dengan melakukan pemetaan titik-titik yang ke depannya memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi mereka. Lalu kami mulai mengkampanyekan agar tempat-tempat tersebut tidak dirusak, bahkan kami juga giat melakukan reboisasi sekaligus menjaga agar kelestarian air juga terjaga. Sebagian besar tanaman yang kami kembangkan adalah tanaman local yang mulai terancam punah,” papar Eko.

Menurut Eko, tanaman hutan yang bisa menghasilkan buah merupakan sumber pangan satwa yang kelak akan menjadi “pagar hidup” bagi para petani. Jika kelestariannya terus terjaga, maka konflik antara manusia dengan kera ekor panjang bisa diminimalisir.

“Mereka (kera) lebih nyaman tinggal di hutan yang di dalamnya banyak makanan, daripada harus memungut dari lahan pertanian warga lalu dihalau,” tegas Eko.

Kegiatan pelestarian hutan yang terus digalakkan ini langsung dilakukan oleh masyarakat setempat. Mereka bekerjasama dengan komunitas-komunitas pegiat konservasi sumberdaya alam lainnya.

“Selain reboisasi, di dalam diskusi-diskusi bersama warga kami juga banyak memperbincangkan solusi ke depan agar tercipta keharmonisan antara manusia dengan alam,” tambah Eko.

Berdasarkan penggalian informasi kepada warga yang tinggal di lereng perbukitan Nglipar – Ngawen, semakin banyaknya jumlah kera ekor panjang ini cukup menjadi perhatian para petani, terlebih para petani yang lahannya berdekatan dengan hutan. Mereka terus berupaya agar bisa hidup berdampingan tanpa harus muncul masalah besar di kemudian hari. Semoga seluruh alam bahagia.

***

Tentang Penulis: Bilal Surahman

Bilal Surahman
Pemuda desa. Kerja apa saja yang penting halal. Sering diajak bekerja sebagai pemandu wisata. Tinggal di kampung dekat puncak bukit Pilangrejo Nglipar.