Pernah Menjadi Duta DIY dan Meraih Juara 1 Nasional Pidato Penghijauan

oleh -286 views
Mengikuti lomba pidato penghijauan tingkat nasional di Gorontalo tahun 1992. Foto: Kiswanto.

Perjalanan pengabdian saya pada program penghijauan dan konservasi lahan kritis di Gunungkidul ternyata penuh warna. Selain sehari-hari di lapangan bergelut dengan para petani mitra penghijauan lahan kritis, nampaknya saya dituntut untuk bisa melakukan apa saja terkait dengan ketugasan saya sebagai petugas lapangan penyuluh penghijauan.

Saya selalu mengingat pesan para atasan yang selalu mendorong agar setiap penyuluh lapangan itu mampu menjadi tempat mencari jawab dan memberikan solusi atas apa yang ditanyakan oleh para petani mitra penghijauan. Hal ini benar-benar telah menempa para petugal lapangan penghijauan menjadi terampil dan trengginas dalam melaksanakan bermacam tugas yang diberikan oleh pemerintah.

Saya termasuk salah satu PLP yang beruntung karena sempat ditugaskan di berbagai lapangan yang berbeda permasalahan berikut tantangannya. Berkesempatan pula melakukan koordinasi antar instansi terkait. Mengikuti pendidikan dan latihan yang semakin mengasah kemampuan teknis dan memperkuat kemampuan intelektual menjadi kesempatan yang tak terhingga nilainya.

Baca artikel sebelumnya: Petugas Lapangan Penghijauan Didorong Menjadi Penyuluh Polivalen yang Mumpuni

Dalam ketugasan, saya juga pernah menjadi duta untuk mengikuti beberapa kali temu nasional bidang penghijauan. Salah satu tugas yang tidak bisa saya lupakan adalah menjadi duta mewakili PLP dari Provinsi DIY untuk mengikuti lomba pidato penyuluh kehutanan tingkat nasional di Gorontalo Sulawesi Utara pada tahun 1992.

Alhamdulillah atas ridho Alloh SWT akhirnya segala daya upaya membuahkan hasil dinobatkan sebagai juara 1 tingkat nasional. Sampai saat ini masih saya simpan naskah pidato tersebut. Naskah itu pasalnya menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian lomba tersebut. Di samping penguasaan materi, konsistensi dengan tema, teknik penyampaian serta ketepatan waktu juga ikut dinilai.

Naskah yang ditulis dalam waktu hanya semalam. Saat itu belum familiar komputer, sehingga diketik manual sendiri, kemudian dijilid secara maraton. Inilah Naskah Lomba Pidato dalam rangka Pekan Penghijauan Nasional ke 32 di Gorontalo Sulawesi Utara Desember 1992:

Yth Bpk, Ibu Tim Juri Lomba Pidato Penyuluh Kehutanan Tingkat Nasional

Yth Bpk, Ibu Pembina Penyuluhan Kehutanan

Yth Bpk, Ibu Tamu Undangan

Yth Bpk, Ibu petani serta hadirin yang berbahagia

Assalamualaikum wr wb.

Mengawali pertemuan ini marilah kita mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat karuniaNya kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat dan selamat.

Pada kesempatan baik ini kami akan menyampaikan topik mengenai Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air di Kabupaten Dati II Gunungkidul DI Yogyakarta.

Bapak, Ibu telah mengetahui kalau Kabupaten Gunungkidul yang luas wilayahnya 46,6% (hampir separoh) dari luas Provinsi DIY dan sampai saat ini masih ada sementara orang di Indonesia yang menilai bahwa keadaan Gunungkidul gersang, tandus dan kering keseluruhannya.

Semenjak awal Pelita V, Gunungkidul yang bermotto Handayani dengan unsur pertama huruf H berarti hijau, menempatkan Penghijauan sebagai program utama Pemerintah Daerah yang harus sukses untuk mengatasi predikat gersang itu.

Peranserta dan kemampuan swadaya yang besar dari masyarakat dalam upaya menyukseskan Program PHTA diharapkan dapat merubah citra tandus, kering menjadi hijau royo-royo.

Bpk Ibu dan hadirin yang terhormat.
Peranan HTA bagi kehidupan manusia saat ini akan kami ingatkan kembali:

Hutan dan pepohonan berfungsi sebagai penyangga keseimbangan lingkungan hidup, menambah keindahan alam, melindungi kelestarian tanah dan air serta sekaligus sebagai penghasil kayu, bahan industri, bahan makanan dan obat-obatan.

Tanah berperan menyimpan dan menyediakan air bagi kehidupan serta merupakan salah satu unsur produksi pertanian.

Sedangkan air berfungsi memenuhi kebutuhan hidup manusia, hewan dan tumbuhan serta menghasilkan sumber tenaga bagi industri serta memancarkan transportasi dan komunikasi.

Bapak, ibu yang terhormat,

Menyadari akan pentingnya kelestarian HTA bagi kehidupan, maka sejak dini kami telah mengajak dan mengingatkan kembali untuk senantiasa berupaya mencegah terjadinya kerusakan sumber daya alam tersebut dengan:

1. Ikut menjaga kelestarian hutan yang di Gunungkidul hanya seluas 13.526 ha (8.92 % dari luas wilayah) dengan cara menanami sebagian lahan milik dengan tanaman kayu-kayuan menjadi hutan rakyat swadaya dengan pengaturan pemungutan hasil secara tebang pilih tanam kembali.

Keberadaan hutan rakyat di Gunungkidul sampai saat ini berkisar 38.708 ha, sehingga keberadaannya dapat merupakan penambah keberadaan luas hutan negara yang hanya 13.526 ha sehingga menjadi 52.234 ha (35 % dari luas wilayah Gunungkidul).

Mencegah penggembalaan liar baik di hutan maupun di luar kawasan hutan dengan cara mengandangkan ternak petani.

2. Perbaikan Sosial Ekonomi

Pemilikan lahan pertanian per kapita yang sempit rerata 0,2 – 0,3 ha perlu upaya peningkatan intensifikasi usaha tani lahan kering untuk peningkatan produksi sekaligus pendapatan petani.

Untuk mengatasi kepadatan penduduk Gerakan Keluarga Berencana di Gunungkidul berhasil dengan sangat baik yakni dengan pertumbuhan penduduk per tahun di bawah rata-rata DIY yang 0, 56 % (Suspenas 1990).

Pengembangan industri pengolahan kayu untuk memberikan nilai tambah dan menumbuhkan lapangan kerja baru.

Bapak, ibu, hadirin yang terhormat,

Jika pencegahan tidak dapat berhasil akibat dari kerusakan sumber daya alam tersebut tanah akan menjadi gundul sehingga mudah erosi, banjir dan kekeringan menjadi rutinitas dan produksi pertanian akan menurun berakhir timbulnya kemiskinan.

Tentu kita tidak mengharapkan itu semua terjadi.

Untuk menjadikan HTA di Gunungkidul ini lestari, ada beberapa cara yang harus dilakukan:

1. Reboisasi yakni penanaman kembali di lahan hutan dengan sistem tumpangsari ini melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk jangka waktu kurang lebih 3 tahun.

2. Penghijauan.

3. Konservasi Tanah.

4. Hutan Kemasyarakatan.

5. Hutan Rakyat.

6. Penerangan/penyuluhan, sedangkan HTI (hutan tanaman industri) dan pengendalian perladangan di Gunungkidul tidak ada.

Bapak Ibu yang terhormat,

Kita akan selalu optimis dengan kesadaran dan berswadaya melaksanakan penyelamatan Hutan, Tanah dan Air akan dapat berhasil sehingga kesejahteraan hidup kita akan meningkat.

Beberapa contoh keberhasilan dari pelaksanaan penyelamatan sumber daya alam di Gunungkidul:

– Dari keberhasilan hutan rakyat banyak telaga yang semula kering saat kemarau dan airnya kotor saat penghujan kini kelestariannya terjaga serta kualitas airnya menjadi jernih.

– Akibat perbaikan keadaan lahan sehingga produktivitas lahan meningkat dengan ditandainya kenaikan produksi dan pendapatan petani, sehingga terlihat rerata pendidikan anak mencapai SMTA.

– Prestasi lomba Penghijauan tiga tahun terakhir Gunungkidul berturut-turut menjadi juara umum Provinsi DIY sekaligus meraih kejuaraan nasional misalnya PLP berprestasi, terasering swadaya dan areal dampak UP UPSA.

Dari beberapa contoh keberhasilan itu, marilah kita jadikan pendorong untuk lebih meningkatkan prestasi demi Gunungkidul Handayani, hari esok yang lebih baik.

Upaya PHTA bukan hanya tugas pemerintah, tetapi terutama merupakan tanggung jawab dari masyarakat sendiri.

Akhirnya segala usaha pemulihan kelestarian sumber daya hutan, tanah dan air akan berhasil dengan baik bila seluruh masyarakat menyadari dan berperan serta.

Dengan demikian keselamatan itu akan memberikan manfaat bagi kehidupan kita secara lestari sepanjang zaman.

Bukit emas jika terus menerus diambil niscaya bakal habis, namun Hutan, Tanah dan Air tidak akan pernah habis manfaatnya apabila dimanfaatkan secara arif bijaksana dan dipelihara dengan baik.

Demikian, mohon maaf atas segala kekhilafan dan terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb

Gorontalo , 23 Desember 1992

Penyuluh Kehutanan Bidang RLKT

KISWANTO
NIP. 710003135

Juara bagi saya bukanlah tujuan, tetapi merupakan dampak dari bekerja secara profesional, jujur dan amanah, sehingga patut disyukuri apresiasi yang diberikan oleh pemerintah ini. Penghargaan ini bagi saya juga menjadi bagian dari kesejahteraan batiniah. Menerima penghargaan atas kejuaraan bagi saya justru menjadi tanggung jawab moral dan sosial agar dapat istiqomah menjalankan kewajiban secara baik sehingga menjadi suri tauladan bagi yang lainnya.

Episode berikutnya sejumlah penghargaan dari Bupati Gunungkidul atas Pembinaan lomba penghijauan dan lingkungan hidup kelompok tani dan petugas hingga meraih prestasi nasional. Dan akan bermuara kemana akhirnya karir seorang PLP yang bertugas di desa, kemudian menjadi koordinator kecamatan, dan sementara menjadi PKS mengkoordinasikan PLP/ Penyuluh Kehutanan se-Kabupaten Gunungkidul itu?

Bersambung ….

***

Klaten, 16-10-2020.

Tentang Penulis: Kiswanto Adinegara

Kiswanto Adinegara
Pensiunan ASN, tinggal di Klaten. Menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) di Gunungkidul 1978-1999, sebelum pensiun menjadi Kabid Perekonomian di Bappeda Gunungkidul 2010-2012.