Rombongan Campursari

oleh -241 views
Truk pengangkut perkakas pertunjukan Campursari. Foto: Tugi/SG.

Suatu siang hari pada bulan besar kalender Jawa, di jalan raya Semanu – Karangmojo meluncur ke arah utara sebuah truk penuh muatan perkakas gamelan. Bagiku, wira-wirinya truk atau colt pengangkut gamelan sungguh suatu pemandangan yang khas dan ngangeni. Begitu “Gunungkidul Banget”. Mengapa? Sepertinya akan ada pertunjukan Campursari atau Karawitan di seputar Karangmojo pada nanti malam atau besok.

Ya, terlahir sebagai manusia Gunungkidul, alam bawah sadar nampaknya tak bisa lepas dari warisan masyarakat pegunungan karst yang setia nguri-uri kebiasaan hidup bergotong-royong. Ini barangkali terlihat absurd dari kacamata modernitas yang mengedepankan kata kunci “efektif” dan “efisien”.

Punya hajatan jelas lebih simpel, praktis, dan pasti ekonomis dilakukan dengan sistem borongan catering dan sewa gedung, ketimbang menggelar pesta di rumah dengan melibatkan warga satu RW. Namun, atmosfir keterbatasan sarana dan prasarana hidup dan tantangan alam barangkali telah turut menempa masyarakat Gunungkidul menaruh respek pada nilai ketergantungan hidup satu sama lain.

Karena itu pula, tradisi “njagong” atau orang kota menyebutnya dengan “kondangan” merupakan bagian penting kehidupan. Kebersamaan dan paseduluran dalam setiap keluarga yang mempunyai hajat atau “ewuh” itu secara ekspresif puncaknya diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan “ala ndesa”.

Seni pertunjukan yang menghias hajatan yang banyak diminati adalah pertunjukan musik Campursari. Ya, musik campursari memang lebih rancak dan lebih merakyat dibandingkan pertunjukkan Karawitan yang “mriyayeni”. Jelas, menggelar karawitan juga “abot sanggane”, karena melibatkan personil yang lebih banyak untuk penabuh gamelan jangkep.

Konon masyarakat Jawa setidaknya mengenal 3M penting dalam daur kehidupannya. Yaitu: Metu, Manten, dan Mati. Ya, peristiwa kelahiran, mantenan, kematian adalah saat dimana antarkeluarga saling bantu-membantu dalam segala pernak-pernik kerepotan. Entah itu diminta maupun tidak diminta.

Mungkin masih jarang ketika sebuah keluarga ada peristiwa kelahiran atau kematian terus menyelenggarakan pertunjukkan Karawitan atau Campursari. Tetapi, saat berlangsung hajatan mantenan atau supitan, di situlah suasana pertemuan menjadi semakin meriah, hidup dan cair karena tergelar pertunjukan Campursari atau Karawitan Jangkep.

Ya, seni pertunjukkan Campursari atau Karawitan membuat suasana menjadi “gayeng regeng”, yang pada akhirnya menumbuhkan kepuasan batin sebuah perjumpaan antara tamu dan tuan rumah. Apalagi bila dalam hajatan tersebut mengundang artis campursari yang sudah kondang, seperti Dimas Tejo, Jamila Jamilun, Niken Sarintem, atau Mbah Baut, pastilah banyak mengundang decak kagum.

Terlepas dari itu semua, seni pertunjukkan Campursari atau Seni Karawitan sesungguhnya berperan menjadi tali penghubung kepada kesadaran kolektif, bahwa semua manusia itu bersaudara dan saling membutuhkan.

Tak pandang derajat, pangkat dan jabatan, semua orang pasti melakoni daur 3M dalam kehidupannya. Oleh karena itu, pada setiap peristiwa “jagongan” semua yang diudang untuk turut mahargya ucap syukur. Memberi-diberi restu, saling menguatkan, dan mendaraskan doa satu sama lain.

Setiap menikmati pentas petunjukkan Campursari atau Karawitan biasanya terpaku pada “wah ini penyanyi atau pesindennya cantik banget ya!”. Atau “itu niyaganya hebat banget permainannya!”. Tetapi, sejatinya ada banyak orang yang kadang luput dari perhatian. Mereka sebenarnya turut terlibat dalam kesuksesan pentas Rombongan Campursari atau Karawitan.

Sama seperti tukang “adang sega” atau tukang “gawe wedang” pada divisi logistik suatu hajatan, dalam paket komplit pertunjukan Campursari juga ada yang spesialis bertugas untuk angkut-angkut gamelan. Ada operator sound system, tukang genset, bahkan pak sopir dan pak kernet truk atau colt diesel. Tanpa kerja keras mereka, pertunjukkan Campursari atau Karawitan tentu tak bisa berjalan mulus tentunya.

Ya, hidup isinya memang SALING. Saling bantu-membantu, saling tolong-menolong, saling melengkapi, dan saling-saling lainnya.

Tentang Penulis: Tugi Widi

Avatar
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.