Soal Kepala, Soal Mahkota

oleh -494 views
Ratchanok Intanon, pebulutangkis dari Thailand. Dok: bulutangkis.skor.id.

SEPUTARGK.ID – Bukan tak bangga pada pemain badminton Indonesia, tapi soal permainan simbolik saya sangat bangga pada Ratchanok Intanon dari Thailand. Perempuan berusia 26 tahun itu sangat ciamik menyampaikan pesan melalui gerak tubuhnya.

Beneran, lho. Ya, contohnya pada gelaran perempat final Olimpiade 2021 untuk cabang badminton sektor tunggal putri tadi. Pemain berbadan agak kurus ini memamerkan gaya Thailand-nya  menangkupkan kedua tangan di dada sambil membungkukkan badan ketika memulai pertandingan. Gadis berambut cepak yang pernah mencatatkan sejarah pada 2013 ini menampilkan pesan santun. Meski pernah menjadi pemain termuda juara dunia namun sangat rendah hati. Ini menurutku, sih.

Apalagi melihatnya pada tengah pertandingan tadi. Jagoan ini ber-namaste dan membungkuk berulang-ulang gara-gara smashnya mengenai kepala pemain Malaysia, Soniia Cheah. Kejadian kurekam terjadi sekitar jam 10.20 tadi.

Jantungku terasa mengembang. Sepertinya arus darah mengalir lebih cepat ke leher, kepala, dan kedua tangan. Emosiku naik, namun emosi baik yaitu perasaan salut yang tak biasa. Sisi afeksiku tersentuh agak luar biasa.

Saya menafsirkan bahwa smash keras itu memang untuk mematikan lawan. Setiap atlet berjuang meraih poin. Meski demikian, mematikan lawan tentu bukan bermaksud mencelakakannya. Apalagi melecehkan dengan sengaja mengarahkan ke kepala.

Lho, tiba-tiba saya baca berita tentang kejadian di Papua. Ya ampun, dua aparat negara terlihat tengah menundukkan seorang warga negara, dan terlihat sepatu lars warna hitam-putih ada di atas kepalanya! Duh, Gusti, soal kepala…

Eh, sebentar. Sekadar info saja, jago saya dalam pertandingan badminton tetap atlet Indonesia. The Daddies saya puja. Mereka ciamik kesabarannya meski fisik tak lagi seperti The Minions. Saya sangat bangga dengan sportivitas mereka. Mereka dan tentunya atlet yang lain, hampir selalu menunjukkkan spirit itu. Utamanya ya ketika shuttlecock menyasar bagian tubuh lawan. Mereka menganggukkan kepala dan lambaian tangan. Kurasa hakikatnya sama, tidak bermaksud mencelakakan lawan.

Saya tak hendak membandingkan dengan peristiwa di Papua. Soal kepala. Satu manusia menginjak kepala sesama apapun alasannya sangat membuat hina. Manusia yang tak ada harganya. Meski saya tak hendak berpikir linier hitam-putih. Setiap kejadian harus dilihat konteks secara utuh. Namun tampilan gambar dan video yang menampilkan kepala yang diinjak sepatu sangat sangat kuat pesannya sebagai bentuk pelecehan makhluk yang Imago Dei.

Kepala tak sekadar bagian tubuh manusia. Ia simbol kedudukan manusia. Ia ada di bagian atas tubuh. Ia simbol kekuasaan. Kehormatan dan mungkin martabat.

Kurasa niat menjunjung martabat manusia harus diupayakan. Dan niat untuk menghormati martabat manusia bisa datang dari mana saja. Dalam hal ini, saya belajar sangat banyak dari atlet badminton, khususnya Ratchanok Intanon.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.