Tilikan, Anak Bis, dan Kohesi Sosial Warga Perdesaan Gunungkidul

oleh -326 views
Tilik sedulur numpak anak bis. Foto: DPras.
“Yu… Sida rombongan tilikan ora?”
“Sida Jeng .. Kumpul neng Bale Dhusun bar Ashar ya!”
“Sidane nyarter apa iki mengko Yu?”
“Iki mengko nyarter anak bis Jeng.. soale usum udan, mengko ndak kudanan… Aja lali pasokane ya Jeng.. Mengko ditambahi dhuit kas Dasawisma!”

SEPUTARGK.ID – Itulah sepenggal percakapan imajiner ibu-ibu perdesaan Gunungkidul yang ditulis oleh netizen Danang Prasetya. Sebagai seorang pendamping PKH, Danang nampaknya hafal betul tentang situasi dan kebiasaan masyarakat perdesaan Gunungkidul. Salah satu kegiatan sesrawungan (sosialisasi) khas masyarakat perdesaan adalah “tilikan” atau “tilik sedulur” yang sedang dirawat di rumah sakit.

Bagi masyarakat perdesaan, makna sedulur tidak melulu sanak-saudara yang seikatan darah atau karena hubungan perkawinan, tetapi semua anggota masyarakat adalah sedulur atau saudara. Karena itulah, ikatan sosial masyarakat perdesaan tetap kuat terjalin. Satu anggota masyarakat sedang tertimpa permasalahan atau sedang menderita sakit, maka kesusahan atau kemalangan itu pasti dirasakan oleh semua anggota masyarakat.

Tilik” atau “tilikan” menjadi bagian penting kehidupan masyarakat perdesaan Gunungkidul. Ikut “tilikan” menjadi wujud kebersamaan, membangun kohesi sosial, memperkuat solidaritas. Dalam masa pandemi ini, “tilik” juga menjadi salah satu imunitas mental, meski pelaksanaan “tilik” mengalami modifikasi, tak selonggar dahulu karena harus mentaati protokol kesehatan cegah Covid-19.

Karena keterbatasan sarana transportasi di perdesaan, maka kegiatan “tilik” biasanya dilakukan dengan bergotong-royong men-carter kendaraan angkutan umum milik warga desa setempat atau dari desa lain. Tak jarang, masih ada warga yang tilik sedulur mempergunakan kendaraan pengangkut barang karena kesulitan mendapatkan sewa kendaraan pengangkut penumpang.

Di perdesaan Gunungkidul juga masih sering dijumpai pula kendaraan pic kup hilir-mudik mengangkut rombongan tilik orang sakit, rombongan jagong manten, atau mluruh manten, rombongan taksiah pelayatan. Ini biasanya untuk perjalanan jarak dekat di perdesaan.

Kendaraan lain yang umumnya dipakai rombongan tilik adalah “anak bis“. Anak bis adalah sebutan untuk kendaraan angkutan umum sekelas mikrobus berkapasitas 20-an penumpang. Jika dipaksakan bisa dimuati 25-an penumpang. Jadi, tilik memakai anak bis sudah pada tempatnya, karena desainnya memang kendaraan pengangkut penumpang. Ada yang menyebut anak bis sebagai Mitsubishi engkel 100 PS atau Isuzu engkel, barangkali ini karena nama pabrikan pembuat kendaraan tersebut.

Kehadiran “anak bis” sering dijumpai di parkiran di RSUD Wonosari, di RSUD Saptosari, RS-RS lain di Gunungkidul, di Puskesmas-puskesmas rawat inap di Gunungkidul. Bahkan di parkiran beberapa RS di Kota Yogyakarta seperti: Sardjito, Panti Rapih, Bethesda, PKU Muhammadiyah, dan lainnya juga sering dijumpai anak bis ber-plat AB-D. Kehadiran “anak bis” bisa dan tentunya menjadi petanda, bahwa ada “tilikan” dari sanak-kadang perdesaan Gunungkidul ke warganya yang sedang “luru tamba” di rumah sakit.

“Umbukan ditambah 10 ewu ya lur, soale rencana bar tilikan rep mbakso kana kae, hehe…,” sahut netizen bernama Atik Maryani mengungkapkan kebiasaan di desanya. “Iki mengko mampir Stanpalt Lawas yo Yuu… Meh tuku roti lehancuran… Bapakne mau titip je…,” timpal netizen lainnya.

“Sopire omongono Yuuuu, mengko baline mandeg warung mie ayam ya…. ngono nek coro nggonqu luuur,” ungkap Tristan Ranna Putri.

“Persis ana ndesaku. Nek tilikan kui baline mampir kana kae ya Luurrr….Golek gorengan, burjo, sate, bakso dll, heheee… Kandani kui sopire,” ungkap Senjaku, netizen lainnya.

Ya, kegembiraan, guyonan, dan kisah kebersamaan “tilik” numpak “anak bis” yang diungkapkan netizen pada group Seputar Gunungkidul di atas nampaknya menjadi ragam tanda. Bahwa keceriaan dan kebersamaan yang terbangun di dalamnya benar-benar menjadi obat dan energi kekuatan mental dalam menghadapi permasalahan dan tantangan hidup. (Tugi).

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.