Kegalauan pada Idul Adha

oleh -358 views
Pembagian daging kurban. Dok; Suara.

SEPUTARGK.ID – Sebagai seorang Kristen, saya ikut menantikan datangnya hari ini. Bagaimana tidak? Iduladha adalah hari yang menggembirakan karena datangnya dua plastik kresek hitam berisi daging segar sekiloan.

“Pak, niki saking Masjid Faturahim…” Om Fajar, seorang lelaki tetanggaku, mengantarnya.

Memang sudah puluhan tahun, selama kami tinggal di Negeri Kahyangan, kami mendapat pembagian daging. Biasanya dua orang lelaki usia belasan tahun datang ke pasturi membagi seplastik kurban entah kambing atau sapi. Ini membuat mataku berbinar. dan membatin, “Nanti masih ada satu lagi hehehe.”

Tentu saja, jauh melampaui itu, hati ini melonjak sangat senang dan gembira karena rasa persaudaraan yang masih sangat terjaga. Mungkin momen itu seperti seorang ibu di kampung yang bertemu anak kesayangannya yang tengah mudik setahun sekali dari Jakarta.

Tapi suasana hatiku pada tahun ini berbeda. Mungkin karena iklim pageblug, saya pun ikut merasakan galau. Mereka terpaksa mengurangi ekspresi hari raya ini. Agak sepi. Terasa masih mencekam. Ya, semua demi keselamatan bersama…. Namun yang terasa sangat mencekam bagiku adalah hasil cek lab yang kulakukan beberapa hari yang lalu.

Ceritanya seminggu yang lalu, pada saat bangun pagi kurasa bumi memutar. Waduh, vertigo ini! Buru-buru kukonsultasikan ke teman dan disuruh cek laboratorium klinis. Badhalla, hasil pemeriksaan asam urat, kolesterol total, dan trigliserida jauh di atas rata nilai rujukan. Oh, pantesan kepala dan leher rasanya berantakan.

Wah, ini pasti gara-gara krupuk! Selama PPKM Darurat, supaya bisa ngemil ringan, aku memang ngamuk krupuk. Atau kurang olahraga? Tapi rasa-rasanya dua kali seminggu sudah menemani Kidung badminton di depan rumah atau bersepeda.

Atau ini gara-gara kekalahan Inggris atas Italia pada Piala Eropa dan pembully-an yang menyertainya? Entahlah, yang jelas bu Dokter bilang, “Kurangi gorengan dan banyak minum air putih!”

Kini kunikmati empat jenis obat yang diberikan mbak apoteker itu, satu diminum pagi, satu diminum malam. yang satu dua kali sehari, dan yang satunya tiga kali sehari. Ditambah mengamini saran dari seorang teman: peresan jipang untuk diminum pagi dan sore! Uhhuiii, bakal nahan diri tak nyate lagi ini.

*

Meski asam urat, kolesterol dan trigliserida masih membuat galau namun untungnya saya masih sangat bisa mencecap rasa. Rasa berbagi yang sangat luar biasa dari umat Muslim. Semoga rasa berbagi itu menjadi bekal untuk melanjutkan perjalanan terjal kehidupan, entah PPKM Darurat-nya diperpanjang atau tidak.

Selamat Iduladha, Saudara-saudariku, spirit berkurbanmu masih sangat terasa!

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.