Pemudik Tak Berkutik

oleh -360 views
Larangan mudik guna tanggulangi Covid-19. Dok: Gatra.

SEPUTARGK.ID – “Ngrabuk jiwa!” Begitu pangandikan swargi bapak yang pernah saya dengar. Kata-kata itu mampir ke telinga ketika beliau sedang ngobrol dengan tetangga sesama pensiunan, puluhan tahun silam. Beliau menyatakan bergunanya tanaman hias untuk menyuburkan dan mengawetkan jiwanya.

Swargi bapak memang sangat suka dengan tanaman, sangat suka menanam, menyiram, merabuk, bahkan membuat pot sendiri dengan aneka bahan: genteng, semen, limbah kaleng, dan sejenisnya. Dengan bercelana hitam dan berkaos sport putih, ia berjongkok membuat pot dari genteng bekas lalu mengecatnya dengan cat minyak warna-warni. Beliau sangat menikmatinya.

Mbah Kus seorang tetangga pernah bilang, “Bapakmu kae tangane anyep!” Ungkapan ini bagi orang jawa kira-kira berarti bapak mempunyai tangan yang dingin. Jadi setiap menanam pohon atau menebar benih hampir dipastikan pohon akan tumbuh subur, benih akan bertunas dengan senang. Saya menganggukkan kepala, mengafirmasi pernyataannya bahwa beliau memang sangat cinta tanaman, khususnya tanaman hias.

Kuping saya tak sengaja menyerap dalam-dalam kalimat “ngrabuk jiwa” itu. Tak terasa itu mengalir sampai bawah kesadaran dan memengaruhi cara pandang saya sampai saat ini terhadap tanaman yang “tak bisa dimanfaatkan” buahnya itu. Beberapa orang dekat pernah mengatakan lebih baik menanam tanaman pangan supaya bisa dipetik buahnya. Setidaknya lebih baik menebar benih sayuran di lahan sempit di sekitar rumah daripada tanaman hias supaya menjadi tambahan penghasilan harian. Ya, tentu saja saya setuju hal itu, namun tidak sepenuhnya.

Begini.

Buah tak selalu nampak dalam bentuk fisik yang bergelantungan atau berdompol. Buah yang dihasilkan dari tanaman bisa berupa keteduhan warna daun hijau ditambah udara jernih nan sejuk yang tipis-tipis dihembuskannya. Tentu saja buah jenis ini tak bisa dipetik lalu dibrakoti sambil merem-melek. Atau seperti memanen sayur, merebusnya lalu menambah sambel untuk bisa disantap dengan lahap lalu kotos-kotos mengucurkan keringat nikmat.

Kurasa buah jenis ini bisa disantap dengan mata kagum menatap sambil mengingat Sang Pembuat. Bisa juga sambil duduk di dekatnya lalu mengajaknya berbicara bak subjek aktif yang duduk di dekat kita. Begitu pula dengan melebarkan hidung dan melapangkan dada, menghirup kesegaran yang dihembuskannya. Duh…

Eh, iya lho, beneran. Lha, wong gambaranku ini bisa juga dibayangkan seperti seseorang yang sedang sakit. Bukankah orang yang sedang sakit juga tak selalu di fisik kan? Bahkan sakit sekarang ini sepertinya kok cenderung ke jiwa bin mental ya? Jadi jiwa yang subur adalah satu kondisi yang sangat penting untuk diupayakan. Entah orang punya pandangan dalam jiwa yang sehat juga akan menghasilkan raga yang sehat atau sebaliknya. Raga yang sehat memengaruhi jiwanya. Keduanya baik.

***

Beberapa hari ini, di Negeri Kahyangan, kudengar keluhan. Dari setidaknya tiga orang, tentang kebijakan tak boleh mudik. Tentu saja ini membuatku ikut merasa risau. Mereka merasa tak berkutik menahan rindu, ada juga yang harus memupus panen keuntungan tahunan dari pemudik.

Kurasa saatnya melihat tanaman dan memetik buahnya. Meski tak berbentuk buah bergelantungan atau berdompol namun buah jenis ini bisa dipanen setiap detik, khususnya saat belenggu hidup yang sering membuat tak berkutik.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.