Romantika Mudik Naik Bis

oleh -225 views
Macetnya perjalanan mudik naik bis terkendala banjir di daerah Purworejo 2014 lalu. Dok: Ris.

Cerita syahdu ini sebenernya sudah terjadi pada 6 tahun yang lalu, namun karena syahdu maka pengalaman ini aku ceritakan kembali. Aku ki senengnya nyepelekke pada hal-hal yang sangat penting contohnya seperti membeli tiket Bis itu ternyata harus jauh-jauh hari supaya tidak kehabisan tempat duduk, nah berhubung sangkin nyepelekkenya, aku tetep beli tiket pas pada hari pemberangkatan atau ndadak maka yang aku dapat adalah kekecewaan karena kehabisan tiket bis.

Tapi aku ki olo-olo gini juga seorang pejuang tangguh yang pantang menyerah pokokke pulang kampung ketemu ibu begitulah yang ada dalam pikiranku. Karena aku amat sangat ngeyel dan nganyik terus-menerus, mungkin mbak-mbak agen jengkel nemen padaku, maka dengan aras arassen diberinya juga tiket bis pada ku dengan tempat duduk yang tersisa berada dipaling depan, ya jelas ini pas banget dengan sopir atau jejeran istilahnya,  setahu aku sebenernya tempat duduk itu buat sang kernet bis, tapi ndak papa manyuk koyo pion penting tekan ngomah gitu pikiranku.

Nah pada tahun berikutnya aku ndak mau terulang kejadian duduk manyuk koyo pion maka aku beli tiket bus jauh-jauh hari dan dapatlah aku tiket bis dengan tempat duduk yang nyaman. Pada hari pemberangkatan aku datang gasik takut ketinggalan bis, kan blaik cilaka pitulikur kalau sampai ketinggalan . Singkat cerita aku naik bis dan berangkat pulang kampong tepat waktu dan cerita perjalanan bis seperti biasa-biasa saja, datar ndak ada yang menonjol untuk aku ceritakan.

Bis yang membawa aku sampai di daerah Purworejo tepatnya dimana aku sendiri ndak tahu lah wong aku juga malas banget nanya-nanya sampai nganyik koyo wartawan gitu, setahu aku daerah Purworejo gitu, kala itu adalah bulan Desember jadi hujan dengan curah tinggi sedang mengamuk di daerah Purworejo dan sekitarnya sehingga menyebabkan sungai pada meluap dan apesnya jembatan kali apa gitu kintir keli dibawa banjir dan otomatis jembatan itu ndak bisa dilewati bis yang membawa aku. Bahkan untuk semua kendaraan baik roda dua, roda empat, roda sejinahpun dialihkan untuk melalui jalan Dendeles jalur tengah kata banyak orang.

Nah cilaka pitulikur pangkat pitu ternyata kendaraan yang dialihkan untuk melalui jalan tersebut ra itungan, wis dalannya sempit yang lewat ndak itungan mana ada yang nggoling lagi. Kata orang-orang yang nggoling tidak hanya satu tapi banyak ada truk tanpa bianganya ada juga bis bahkan cold diesel yo ono.

Masuk jalan Dendeles waktu itu dinihari menjelang subuh dan seharian macet cenderung diam tak bergerak jadi mirip-mirip taman parkir. Ibarat kata para penumpang bis bisa camping neng dalan itu, sedino deg macet-cet ndak bergerak dan baru bisa keluar dari jalan itu pada saat dini hari menjelang subuh lagi, lah kan jadinya wow sekali kan itu bonus numpak bisnya bisa 2 malam 1 hari.

Sejak saat itu aku kapok sekapok kapoknya naik bis, maka kalau pulang kampong ya paling nyepur atau montor mabur waelah, aku trauma bonus naik bisnya bisa berhari-hari.

Dah gitu aja…

Tertanda : Penggemar Tongseng Pasar Argosari

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae, prinsip hidup : "mengalir aja seperti air"