Kembali Ke Utara

oleh -183 views
Siluete Petruk -Semar pada wuwungan rumah warga Desa Kampung Ngawen. Foto: SG.

SEPUTARGK.ID – “Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utara, Timur Laut!” lirik lagu ini kuhafal di luar kepala. Simbah Kakung yang mengajarkan pada istriku, lalu diteruskan pada putri kecilku. Nah, tak sengaja aku juga menghafalkannya. Berkat jasa Mbah Sujudi yang seorang guru sekolah dasar itu kami mudah menghafalkan delapan mata angin dalam peta. Bahkan, kadang kubagikan pada keponakan dan anak sepermainan sambil menggerakkan telunjuk dan memutar badan sesuai arah yang dilagukan. Kuajak belajar dengan gerak lagu yang asyik.

Meski demikian , jika dilihat di peta, titik nol mata angin adalah arah utara bukan timur. Jadi, saat kadang merasa bingung arah, misalnya sedang berada di daerah baru yang didatangi lalu perlu kompas untuk menentukan arah yang pas, maka pertama yang dicari adalah arah utara. Ia adalah Titik 0° lalu Timur Laut 45°, nah selanjutnya memutar sesuai arah jarum jam baru Timur, Tenggara dan seterusnya, masing-masing bernilai tambah 45°.

Sampai sekarang, ketika sedang menuju kota Kahyangan, aku tidak bisa menentukan arah mata angin itu, hanya menunjuk “kanan”, “kiri”, “samping”, atau “dekatnya”. Misalnya, pasar kota Kahyangan ada di barat jalan, padahal berada di selatan jalan, “Kae ki kidul dalan!” Ya sudah aku mengalah, kusebut saja “kiwa apa tengen dalan”, meski perasaan tak bisa diajak mengalah dengan pendapatnya. Begitu pula di beberapa tempat, gereja, bank, atau juga rumah seorang teman di Negeri Kahyangan. Celakanya, ketika diminta menujukkan arah dengan arah mata angin itu, lalu kurespon dengan pengantar “aku bingung lor kidule” jadi bisa memakai google map atau cukup kiri dan kanan.

Kurasa, sepekan menghirup udara 2021 ini bak naik pesawat yang melesat. Tak terasa waktu cepat berlalu. Namun tujuh hari melangkahkan kaki di angka itu, ternyata ketemu banyak daerah yang membingungkan arah. Lihat saja situasi yang ada di awal warsa: harga cabai ikut melesat, kedelai katanya juga melambung bikin limbung, dan pagebluk yang tak kunjung takhluk.

Kembali ke arah utara bak petunjuk manusia di tengah kebingungan arah. Visi ke depan di tengah kebingungan itu tak hanya mapan dan nyaman namun juga signifikan alias bermanfaat bagi semesta. Tujuh hari telah kita lewati, kata orang “pitu” berarti “pitulungan” atau “pertolongan.” Arah utara adalah jari ilahi yang menunjuk diri untuk semakin menjadi manusiawi.

Hiiii.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.