Kicikan Sapi

oleh -345 views
Kuliner legendari Gunungkidul, Kicikan Sapi. Foto: Riswanto.

Saat aku tilik kampung halaman, wabah coronavirus belum menyerang dan membuat lumpuh sendi-sendi kehidupan. Aku merasa, pulkam itu waktu yang sangat berkesan dalam perjalanan kehidupanku. Bagaimana tidak, aku tilik kampung dengan maksud dan tujuan untuk ikut atau istilahnya melu-melu dalam event photography yang sangat keren, adalah Exploring Kedungpoh 2020. Acara yang digagas oleh para begawan photography dikolaborasikan dengan penggiat wisata Gunungkidul serta peran aktif penduduk dan para pejabat desa Kedungpoh Nglipar. Acara ini amat sangat bagus dan berkesan di sanubariku, walau ada yang grimpil sitik ati iki, sebab memory card milikku bodol alias ambyaarr. Tapi semua aku anggap nangsib dan ndak mengurangi kebahagiaan ini.

Ketika berada di kampung halaman sang waktu seakan bekejaran dengan keinginanku. Karena banyak sekali potensi yang ada di kampung halaman yang bisa dijadikan spot foto yang cetar membahana. Tapi apa boleh buat, waktu jua yang membatasiku untuk mobat-mabit koming kesenengan karena banyaknya potensi kampung halaman menjadi spot foto. Bebasan apa wae pingin difoto, pengen dirasa dan pengin dinikmati.

Salah satu yang pengen dirasa adalah tentang kuliner yang sangat melegenda, adalah KICIKAN SAPI. Kuliner ini amat sangat melegenda dan menjadi favoritku saat kecil. Kala itu, saben Mbah Uti kondur seko pasar habis taker-teker dan kebetulan yang pasaran di pasar daerah Ponjong, maka dapat dipastikan aku pasti dioleh-olehi KICIKAN SAPI.

Uniknya, Mbah Uti ndak memberikan ke aku secara langsung, namun kicikan tersebut akan ditaruh di bawah kukusan yang ada di paga omah pawon Mbah Uti. Jadi ada sedikit usahaku kalau habis main atau habis mblayang pengen makan kicikan. Ya, yang pasti jujukannya omah pawon Mbah Uti, dengan serta merta langsung aku ungkap-ungkap apa saja yang ada di atas paga Mbah Uti. Tentu saja untuk menemukan Kicikan Sapi.

Kicikan Sapi adalah kuliner yang berbahan dasar daging sapi, yang dibumbuin sedemikian rupa sehingga memberikan rasa yang khas dan numani. Biasanya Kicikan Sapi akan dibungkus dengan godhong jati. Sudah barang tentu godhong jati ini selain bersifat natural dan sudah barang tentu akan memberikan aroma tersendiri pada kuliner ini, sehingga membuat kuliner kicikan sapi ini menjadi favorit banyak orang.

Critane aku kangen banget dengan kuliner ini, namun waktu itu sudah habis Magrib kurang lebih jam enaman lebihlah. Saking pengennya kayak wong meteng lagi nyidam… Hehehehe. Banyak temen serta sodara menyarankan untuk besuk pagi aja untuk mendapatkan kuliner ini. Besuk pagi-pagi ke Proliman Ponjong untuk beli kicikan, karena menurut banyak orang kicikan yang melegenda itu adanya di Proliman Ponjong. Wis ndak bisa ini, kepengennya aku ndak sebaenya jew, maka dengan semangat 45 aku ajak adik untuk menemani ke Proliman Ponjong untuk beli kicikan.

Setelah sampai di Proliman Ponjong, memang bener kata orang bahwa jam buka kuliner ini hanya sampai jam enaman atau sampai magrib aja. Muduk seko mobil, aku clingak-clinguk terus bertanya pada bapak-bapak yang duduk-duduk di counter HP. Alangkah ramah dan baiknya bapak-bapak yang kutanya. Katanya kicikan sudah tutup, tapi kalau mau beli langsung saja ke rumahnya yang jual kicikan.

Tanpa basa-basi, aku langsung mengangguk setuju untuk beli kicikan di rumah yang jual. Dari Proliman aku ambil arah balik ke Wonosari, lalu kira-kira 200 meter di sebelah kanan jalan ada masjid, nah rumah yang jualan kicikan ada di belakang masjid, persis malah tepung pekarangan dengan masjid.

Singkat kata, aku berhasil beli Kicikan Sapi, dan seolah-olah aku seperti kesetanan makan kicikan sapi. Sebentar saja sudah habis berbungkus-bungkus kicikan sapi, maka akibatnya nasi di rumah ludes habis tak tersisa.

“Wow gandriikkk……… ra salah mas, sore mbakmi neng limasan, saiki lagi wae malem sitik wis entek kicikan ro nasi sak hohah,” adikku teriak kaget.

“Halaaahhh,” sahutku sambil ngunyah.

Dah segini aja, mau lanjutin ngunyah Kicikan Sapi.

Tertanda: Penggemar Tongseng Pasar Argosari.

Tentang Penulis: Riswanto Luguningbagoes

Riswanto Luguningbagoes
Lahir wayah bengi di Gadungsari Wonosari Gunungkidul, golek upa di Jakarta. Senang mendokumentasikan perjalanan hidup melalui foto. Punya hobby mbajul serta seneng moco opo wae