Koro Pedang Potensial Menjadi Pengganti Kedelai

oleh -320 views
Tanaman koro pedang. Foto: Slamet.

SEPUTARGK.ID – Tanaman koro pedang telah lama dikenal oleh masyarakat Gunungkidul, namun tanaman ini tersisih karena dianggap tidak menguntungkan dan kalah familier dibanding jenis tanaman lain.

Secara tradisional, tanaman koro pedang digunakan untuk pupuk hijau. Polong yang masih muda digunakan untuk sayur (dimasak seperti irisan kacang buncis). Namun perlu diketahui, biji koro pedang tidak dapat dimakan secara langsung karena akan menimbulkan rasa pusing. Sementara itu, biji koro merah digunakan untuk obat sakit dada. Sebagai informasi saja, di Madura, koro biji merah digunakan untuk obat dengan nama Bedus.

Secara botanikal, tanaman koro pedang dibedakan menjadi dua tipe tanaman, yaitu: koro pedang tumbuh tegak dan berbiji putih (Canavalia ensiformis ) dan tipe merambat (Canavalia gladiata) yang memiliki biji warna merah.

Kandungan protein biji koro pedang dan biji kacang-kacangan lain berturut-turut adalah: koro pedang biji putih (27,4%), koro pedang biji merah (32%), kedelai (35%), dan kacang tanah (23,1%). Selain itu, biji koro pedang putih (Canavalia ensiformis) mengandung zat toksik, yaitu: kholin, asam hidrozianine, dan trogonelin.

Pada biji koro ini juga mengandung tripsin dan cymotrypcine inhibitors. Koro pedang biji merah (Canavalia gladiata) memiliki kandungan protein dan garam yang cukup tinggi, asam hidroianik, dan saponine.

Karena biji koro mengandung racun, maka perlu cara masak khusus untuk menetralkan racun sebelum dikonsumsi.

Tempe Koro Pedang

Christine dan Kusno dari Dusun Mengger Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari diketahui telah melakukan pengolahan koro pedang ini menjadi tempe, kecap dan taucho. Proses pengolahannya dibina dari UST Yogyakarta.

Tempe hasil olahan warga Mengger ini enak. Mereka siap memproduksi olahan berbahan dasar koro pedang dengan sistem pemesanan. Skala produksi yang dilakukannya masih terbatas, karena bahan baku koro pedang masih harus beli dari luar daerah. Budidaya koro pedang di wilayah Gunungkidul masih sangat kurang.

Budidaya tanaman koro pedang sebenarnya sangat potensial dilakukan di Gunungkidul. Cara tanamnya juga mudah. Kusno dan Christine berharap agar petani bisa memanfaatkan peluang ini dengan menanam koro pedang setelah musim panen tahun ini.

Ya, tingginya harga kedelai dan ketergantungan akan kedelai impor seharusnya menjadi momentum pemerintah untuk serius mendorong dan mengembangkan produksi tempe dari bahan non kedelai, salah satunya koro pedang. Hasil riset yang pernah dilakukan, tempe koro pedang memiliki kandungan nilai gizi yang cukup baik, yaitu kadar protein 34,78%, lemak 6,25%, karbohidrat 54,64%, dan kandungan serat pangan total 3,47%.

Sesungguhnya Dinas Pertanian Gunungkidul bisa mendorong petani untuk menanam koro pedang sebagai tambahan hasil pertanian selain padi, jagung, kacang, kedelai dan ketela. Karena prospeknya sangat bagus.

***

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.