Mencoba Bermakna

oleh -205 views

SEPUTARGK.ID – “Pak, kenapa bapak akhir-akhir ini suka menulis?” Tak kuduga, tiba-tiba saja meluncur pertanyaan dari mulut Kidung. Kalimatnya keluar saat tangan kirinya masih memegang shuttlecock pada tengah permainan badminton di halaman, pagi tadi. Ia bersiap service namun mulutnya mangap. Kami memang biasa berolahraga sambil ngobrol sekenanya.

Begitu pertanyaannya masuk telingaku, badan terasa ‘maknyut’ seakan diri ini sudah jadi penulis saja. Oh, ya, meski sambil gojekan kelihatannya putriku memang sudah melabeliku sebagai penulis sih. Tentu saja label itu terasa mewah plus memekarkan hati, setidaknya jebul ada yang mengakui. Hihihi.

“Supaya kalau bapak meninggal bisa ada kenangan tertulis gitu mbak…” jawabku datar. Aku ndak menyangka jawabanku membuatnya seketika diam selama beberapa detik.

“Kok begitu?” imbuhnya.

“Ya, kan tulisan masih tetap ada apalagi jika dibukukan, suatu saat bapak pasti tiada kan? hehehe!” kuungkapkan alasannya sambil mengayunkan raket.

Pada momen nyari keringat itulah kusampaikan padanya kisah tentang niat menuturkan pengalaman melalui tulisan. Bapaknya suka menulis itu sebenarnya ndak sengaja yaitu ketika bersaing melawan kuasa hape dan mencoba merebut perhatian putrinya, sekitar dua tahun lalu. Kusampaikan padanya satu kata kunci yang membuat titik balik hal itu yaitu “srintil” atau bahasa mBantul-nya “inthil” alias kotoran lambing.

Kisahnya yaitu ketika kami sedang di kamar, berbaring di tempat tidur, raga berdekatan namun kami asyik sendiri dengan hape di tangan. Lalu kututurkan cerita masa kecilku, khususnya ketika main bola di lapangan lalu tak sengaja ngletus inthil wedhus. Ia kemudian menoleh, menanyakan apa itu inthil lalu kujawab kotoran kambing kemudian spontsn ia nyekakak sangat senang. Sejak itu, kubulatkan tekad menuturkan cerita masa bocah sekaligus mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan.

Selain itu, ikhtiar pribadi mencurahkan gagasan meski tak signifikan. Contohnya tentang handel tutup panci. Membagi pengalaman yang sangat sepele melalui tulisan ternyata berguna. Seminggu yang lalu kuunggah ternyata setidaknya ada empat orang yang meresponnya dengan sangat antusias. “Panci kula nggih dha bolong ilang kenope hehehe!” Ada pula seorang ibu yang japri menanyakan tempat membeli, “Di mana belinya pak?” Kecil namun membantu menyelesaikan masalah yang tak dirasa selama ini namun mengganggu karena tak terselesaikan beribu hari.

Kutulis yang retjeh meski objek pengetahuan, penelitian, atau tulisan biasanya sesuatu yang besar. Lha wong tulisan cerita atau sejarah selayaknya menorehkan kisah kehidupan dan perjuangan orang-orang besar, sebut saja Soekarno. Sedangkan sejarah para petani tidak dianggap. Yang biasa, fenomena kehidupan keseharian dan sepele kulihat sebagai objek tulisan termasuk kisahku bersama putri kesayanganku.

Ya, ning ya dasare ndak cukup rujukan melihat atau menuliskan karya-karya orang atau peristiwa besar.

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.