Mepe Gaplek

oleh -166 views
Jemuran gaplek di halaman rumah, menghiasi kibaran merah putih di bulan Agustus. Foto: Iwan.

SEPUTARGK.ID – “Nggaplek” adalah kata kerja dalam Bahasa Jawa, maknanya adalah “membuat gaplek”. Gaplek adalah ketela pohon atau singkong yang sudah dikeringkan dan siap untuk diproses lanjut.

Kata nggaplek tentu saja akrab di telinga orang Gunungkidul, karena wilayah ini terkenal sebagai salah satu sentra produksi gaplek nasional. Sedangkan mepe gaplek adalah menjemur gaplek di bawah sinar matahari, sehingga gaplek menjadi kering secara alamiah.

Gaplek kering bisa ditumbuk atau digiling menjadi tepung tapioka yang secara tradisional menjadi bahan baku nasi thiwul. Bisa pula diproses menjadi berbagai produk olahan pangan, tepung mocaf (modified cassava), bahan thiwul instan, atau bahkan bahan baku produk kesehatan dan kosmetika.

Untuk bisa nggaplek, maka para among tani harus melakukan beberapa tahap pekerjaan. Pertama, tentu saja harus nandur ketela pohon. Ya, batang tanaman singkong harus ditanam terlebih dahulu minimal sekitar 7 – 8 bulan. Kemudian melakukan proses mbhedol ketela pohon, memotong umbi dari batang pohonnya, mengangkut umbi dari ladang ke rumah atau gudang, dilanjutkan mengupas umbi ketela atau istilahnya “oncek tela“, dan kemudian dikeringkan dengan dijemur.

Para sedulur tani di kawasan selatan Gunungkidul terbiasa menjemur singkong di ladang yang jauh dari rumah tinggalnya. Mereka menjemur umbi singkong yang telah dikupas pada galengan batu kapur di ladang. Kemudian setelah kering baru dikemas dengan karung bagor, dan dibawa pulang ke rumah untuk disimpan.

Ada pula para sedulur tani Gunungkidul yang menjemur singkong yang telah dikupas di halaman rumah atau di atas atap genteng rumahnya. Saat sudah kering kemudian dimasukkan ke karung, dan disimpan di gudang rumah.

Sampai saat ini masih ada banyak sedulur Gunungkidul yang menumbuk gaplek menjadi tepung tapioka dan kemudian dijadikan nasi tiwul sebagai nasi khas produk Gunungkidul. Ada pula sedulur yang menyimpan gaplek yang sudah dikeringkan, dan dijual ke pasar atau tengkulak.

Hasil penjualan gaplek bisa untuk mendanai berbagai keperluan. Bisa untuk belanja dapur, beli baju, buat uang njagong tetangga yang punya hajat, bahkan bisa pula buat bayar SPP anak yang sekolah.

Ketela pohon, gaplek, dan nggaplek adalah kosa kata yang khas dan hidup di hati sanubari orang Gunungkidul. Gaplek bagaimanapun telah menjadi bagian penting dari catatan perjalanan sejarah orang Gunungkidul baik dulu, sekarang dan nanti.

Ada orang yang langsung berpikir sinis atau memandang rendah begitu mendengar kata “gaplek”. Tetapi, saya bangga karena termasuk generasi yang dibesarkan karena produksi gaplek dari simbah dan bapak simbok saya.

Toh, perilaku dan prestasi karya-karya saya tidak se-nggapleki yang sering diomongkan orang-orang untuk memberi predikat tindakan atau sesuatu yang dipandang jelek atau hina.

****

Pengen melihat proses nggaplek sedulur kawasan selatan Gunungkidul? Simak klip berikut:

 

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.