Merantau dan Mudik

oleh -200 views
Suasana pemberangkatan mudik di pinggiran Jakarta tahun 2012 lalu. Foto: Tugi.

Saya yakin bahwa ada di antara pembaca pernah atau bahkan saat ini hidup dalam perantauan. Saya pribadi juga pernah hidup cukup lama dalam perantauan. Merantau identik dengan perpindahan dalam kurun waktu tertentu dari suatu kota ke kota lain untuk kepentingan bekerja, mencari uang dan mengubah “nasib” hidup.

Berbahagialah jika kita pernah merantau. Karena kita berarti pernah mengalami “kelahiran” sebanyak dua kali. Mengapa demikian? Pertama, kita lahir secara fisik di kampung/desa dimana kita dilahirkan dari sebuah keluarga. Kita bermain dengan teman sebaya, bersosialisasi dengan lingkungan desa atau aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Pengalaman masa kecil bersama keluarga menjadi proses belajar yang tak tergantikan. Hidup bertetangga dan pergaulan di lingkungan desa menempa kedewasaan dan kematangan.

Kedua, kelahiran kedua terjadi saat kita merantau. Di perantauan, kita memulai dan mengalami hal yang serba baru. Lingkungan yang baru, pekerjaan baru, tetangga baru, bahasa yang mungkin baru, gaya hidup yang baru, dan bahkan membangun hidup berkeluarga yang baru. Cara kita merespon hal-hal baru itulah yang kemudian menentukan perubahan cara hidup dan berperilaku kita.

Situasi di perantauan menuntut kita merespon (dan BUKAN beradaptasi) dengan sikap dan perilaku yang baru pula. Merantau membutuhkan keberanian tertentu. Hidup merantau menuntut pula cara berpikir yang juga baru. Bahkan dalam arti tertentu dibutuhkan “spiritualitas baru” sebagai dasar proses belajar hidup. Kedewasaan dan kematangan mental turut membentuk dan dibentuk oleh alam perantauan.

Persis dititik inilah, kita bisa menyadari arti pentingnya istilah “mudik”. Saat mudik, hati kita selalu diwarnai oleh kerinduan akan kenangan masa lalu. Mudik adalah wujud kerinduan kita terhadap orang yang kita sayangi. Mudik kadang juga untuk menunjukkan keberhasilan kita kepada orang tua dan tetangga dimana kita berasal. Saat mudik, kita serasa menemukan kembali spirit baru dari proses “kelahiran” kita yang pertama.

Namun ada yang berbeda kali ini, saudara-saudara kita yang merantau mengalami kesulitan untuk mudik. Semoga kita semua memaklumi situasi saat ini. Akhirnya, mudik dan tidak mudik adalah sebuah pilihan hidup. Kita bersama belajar untuk memilih hal yang utama bagi diri kita masing-masing. Apakah yang kita pilih adalah kesehatan diri kita atau tetap berkeinginan melepas kerinduan bagi orang-orang tercinta?

***

Wahyu Widayat.