Mercon

oleh -765 views
Mercon. Dok: kompas.

SEPUTARGK.ID – Duuarrr.r..r..rr!! Tepat jam 02.00 WIB, mercon yang kami pasang di atas pagar bumi depan cakruk atau pos ronda kampung itu meledak. Suaranya memekakkan telinga kami. Tak hanya aku dan tiga temanku yang kaget, tak lama setelah ledakan, para tetangga pun terdengar ribut. Suara bak dentuman itu seketika memporak-porandakan mimpi para penghuni kampung lalu mereka berteriak mencari pelaku peledakan itu.

Kae, mlayu ngalor!” Terdengar suara keras Kang Jono, tetangga yang rumahnya persis di belakang cakruk. Ia mencoba menebak arah larinya pelaku dan berteriak memberitahu Kang Walijan dan yang lain, yang juga baru bangun karena suara ledakan itu. Rupanya ia melihat sekelebat bayangan di kegelapan jalan kampung itu. Suara gedebug langkah kaki berlari terdengar dari markas kami.

Jantungku hampir copot! Plompong, temanku pun terlihat berwajah tegang. Suara Kang Jono yang adalah bapaknya itu terdengar menyeramkan. Kami jelas sangat takut ketahuan, membayangkan hukuman yang bakal ditimpakan pada bocah belasan tahun seperti kami.

Sebetulnya pada dini hari yang menegangkan itu, aku dan teman-teman sedang berada di kamar kecilnya Kang Nur yang kami jadikan markas. Sejak kemarin jam 18.00 WIB, anggota genk berkumpul. Kami berada di kamar itu untuk meracik bahan yang sudah ada: bubuk mercon warna abu-abu, beberapa sumbu seperti tali putih, tumpukan buku bekas, lem kertas, dan obat nyamuk bakar.

Tak terasa beberapa puluh mercon telah berhasil diwujudkan. Eko menatanya rapi. Berbagai ukuran telah kami produksi dari ukuran sejempol sampai sebesar botol. Saking asyiknya, kami lupa waktu beranjak malam bahkan menuju dini hari.

Mbok dicoba siji!” Usul Eko tiba-tiba. Teman satu ini mengusulkan untuk mengetes petasan hasil buatan tangan bersama. Saat itu jarum jam menunjuk angka 1.

Ya, dicoba nggo obat nyamuk wae!” Si Plompong mendapatkan ide meledakkan mercon dengan cara menyulut obat nyamuk bakar lalu menghubungkan sumbu mercon di ujung yang lain.

Ide itu dilaksanakan. Aku mengambil mercon seukuran gelas, korek api, dan obat nyamuk bakar. Lalu keluar ke samping kamar dan mengendap di kegelapan menuju pagar bumi pinggir jalan. Kupasang sesuai urutan, menyulut obat nyamuk lalu menghubungkan sumbu di ujungnya. Kuperkirakan sumbu akan tersulut 20 menitan.

Aku masuk ke markas lagi. Kami meneruskan menggulung kertas dan menyelesaikan pembuatan petasan. Tiga puluh menit berlalu tanpa suara. Sepertinya tidak ada tanda mercon sukses melewati uji coba.

Woo, kayane gagal kae!” Eko mencoba menebak hasil uji coba pertama. Hampir bersamaan kami menganggukkan kepala, sambil tetap pada posisi berjongkok meneruskan tugas masing-masing. Saat itu hening. Kami mulai didera ngantuk dan beberapa menit yang lalu melupakan pemasangan mercon di luar markas. Tiba-tiba, suara sekeras bom terdengar. Kami sungguh tak mengira, waktu meledak selarut itu, jam dua pagi!

*

Malam ini, Kidung kembali memintaku bercerita, “Pak cerita lagi dong, lama ndak cerita kisah masa kecil bapak…”

Badanku kugeser mendekat ke sampingnya. Sambil tiduran kulayangkan ingatanku puluhan tahun silam saat masih bocah pada menjelang puasa di kampung tanah kelahiranku. Kisah konyol menguji-coba mercon buatan bersama dan ternyata sukses meledak di pagi-pagi buta. Meski menggegerkan tetangga, menyulut mercon tetaplah menjadi penanda kegembiraan menjelang puasa. Aku sungguh ikut larut dalam suka cita bersama para saudara dan tetangga yang berbeda agama.

Yah, namanya anak-anak, mereka tetaplah manusia kecil yang suka bermain, tak perlu dipisahkan dengan sekat-sekat doktrin.

Selamat bersiap menjalani ibadah puasa ya, temans.

*

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.