Pedagang di Pasar Stan Sleman Siap Terapkan Pola Kebiasaan Baru

SLEMAN, (Seputargk.id),– Pasar Stan di Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta awalnya merupakan pasar desa. Pasar ini berdiri sejak tahun 1970. Nama Stan berasal dari tempat pasar itu berdiri yaitu Kampung Stan. Pasar ini tergolong pasar tradisional.

Saat pandemi merebak, para pedagang mengalami penurunan omset. Sebagaimana diungkapkan salah satu pedagang, Sri Mulyani, bahwa penurunan omset terjadi karena berkurangnya pelanggan yang berbelanja akibat penerapan PPKM.

“Pelanggan saya diantaranya mahasiswa yang kos di sekitar pasar. Yang menyerap lebih besar dagangan diantaranya juga restoran dan warung makan,” kata pemilik toko Mulyo Sayur ini.

Lebih jauh disampaikan, mahasiswa banyak yang pulang kampung dan mengikuti pembelajaran secara daring, sehingga tidak lagi melakukan rutinitas belanja. Adapun sebab warung makan dan restoran tidak lagi berbelanja karena kebanyakan memilih tutup sementara waktu.

Pedagang yang juga menyediakan semabko ini turut dipusingkan dengan naiknya beberapa komoditas. “Omset turun dagangan bahan-bahan sembako malah harganya naik,” keluh dia.

Tak hanya itu saja, berdasar pengamatannya, pasca pandemi, muncul kebiasaan masyarakat yang memilih belanja di toko modern atau super market. Ia menengarai masyarakat punya alasan, dengan belanja di toko modern minim risiko penukaran virus. Dianggap pula lingkungan toko lebih bersih dan sehat.

Dirinya dan pedagang lain sepakat meningkatkan kualitas layanan dengan menjaga dagangan dan lingkungan tetap bersih. Selain itu juga mereka akan menerapkan pola protokol kesehatan sebagaimana anjuran pemerintah. Diantaranya tidak menimbulkan kerumunan, menyediakan tempat cuci tangan, serta baik pedagang serta pengunjung wajib bermasker.

“Pola kebiasaan baru akan kami terapkan. Kebersihan dan keramahan para pedagang merupakan kunci layanan agar para pelanggan betah dan kembali memilih membeli bahan dapur mereka di toko di Pasar Stan,” tandas Sri Mulyani.

Seiring menurunnya level PPKM, ia mengaku akan tetap menerapkan protokol kesehatan secara tertib. Sri berharap, pandemi yang semakin terkendali nanti dapat membuat omsetnya kembali naik.

Sri Mulyani menambahkan, untuk dagangan yang lebih banyak disediakan berupa sayur mayur tak mengalami kenaikan harga. Aneka sayur yang ia jual berasal dari kawasan pegunungan di Yogyakarta seperti Muntilan, serta dari wilayaj Boyolali dan Wonosobo. Keunggulan sayur yang dijual masih sangat fresh dan segar.

“Mutu dagangan juga akan kami perhatikan,” tukasnya

Penulis : Feri Trianawati & Putri Dwi Cahyani, SE., M.EI, Fakultas Ekonomi (Umiversitas Sarjanawiyata Tamansiswa)

Loading

Facebook Comments Box
Spread the love