Bank Plecit: Benci Tapi Rindu

oleh -356 views
Spanduk Bank Plecit Dilarang Masuk yang terpasang di sebuah desa di Gunungkidul. Foto: Ahid.

Hidup di desa sering diidentikkan dengan kemiskinan. Anggapannya, orang miskin lebih mudah kita jumpai di desa desa, walaupun di kota juga tak sedikit yang hidup miskin, bahkan mungkin lebih parah permasalahannya daripada yang di desa.

Gaya hidup orang miskin itu dekat dengan hutang. Hutang yang paling mudah, tanpa jaminan prosesnya cepat adalah pinjam koperasi atau lebih tepat bank plecit. Nah, di sinilah tumbuh suburnya rentenir.

Orang miskin berteman dengan rentenir juga sudah biasa. Rentenir justru kadang diagungkan sebagai dewa penyelamat. Berapa pun jasa atau bunga yang diminta akan dipenuhi yang penting kebutuhannya saat itu bisa tercukupi.

Cara kerja Bank Plecit yang pernah saya ketahui dari cerita cerita teman-teman adalah sebagai berikut: hari ini daftar jadi anggota, besok sudah bisa meminjam uang.

Misalnya, kita ingin meminjam uang Rp 200.000,- Uang yang kita terima Rp 180.000,-. Karena yang Rp 20.000,- akan jadi tabungan awal kita. Lantas, berapa Anda harus mengembalikan pinjaman itu? Anda harus mengembalikan sebesar Rp 240.000,-. Lalu bagaimana cara mengangsurnya? Anda harus mengganggsurnya setiap hari sebesar Rp 8000,- x 30 hari. Ketika Anda mengangsur, Anda akan diberi kupon yang berisi angsuran ke sekian dan tertera nominal jumlah angsuran Anda.

Jadi, dalam satu bulan sudah harus lunas. Hari ini pinjam besok harus sudah mulai mengangsur.

Anda tentunya tak boleh protes, betapa tingginya bunga pinjaman itu, dan tak perlu tanya apakah peminjam itu bisa mengembalikan sesuai dengan aturan yang sudah disepakati?

Jikalau yang pinjam disiplin, mereka akan memenuhi apa yang jadi kewajibannya. Bila mentalnya jelek mereka sering bersembunyi ketika ditagih atau cukup mengatakan, “Hari ini kosong dulu mas, besok didobel”. Selesai sudah urusan hari ini, entah besok bagaimana.

Bila belum waktunya lunas tapi mereka butuh uang, mereka bisa pijam lagi dengan cara melunasi secara fiktif. Sisa hutang plus bunga berapa, langsung dipotong dari dana yang akan dipinjam lagi.

Biasanya hutang mereka bukan mengecil tapi membengkak. Bulan kemarin Rp 200.000,-, bulan berikut bisa Rp 300.000,- atau Rp 500.000,-

Anehnya lagi, Bank Plecit ini ada yang beroperasi pagi, siang dan sore. Seperti makan saja sehari tiga kali. Nasabahnya ya kebanyakan dari mereka juga, dan uangnya pun hanya berputar ke sana-sini. Ambil yang pagi untuk menutup yang siang, ambil yang siang untuk menutup yang sore.

Biasanya pengambilan diatur oleh mereka sendiri, sehingga mereka bisa mengatur uang pinjaman itu. Sebagian untuk kebutuhannya, sebagian untuk mengangsur.

Kita bisa membayangkan, betapa pusingnya mereka yang mengambil pinjaman pada Bank Plecit. Apalagi yang tidak punya income harian. Sementara kegiatan kegiatan di desa untuk kerukunan juga banyak membutuhkan dana.

Kadang saya ikut pusing sendiri mengamati, mendengar cerita dan gosipan tetangga melihat pola hidup mereka.

Tapi mereka nampaknya happy-happy saja dan akrab dengan Bank Plecit itu. Mereka menghibur diri dengan ucapan, “Walah wong uripe wes karo utang, ora usah khawatir. Negoro wae utange yo akeh kok.” Hidupku sudah akrab dengan hutang, negara pun hutangnya banyak kok.

Sebenarnya sudah banyak BMT, koperasi resmi, atau lembaga keuangan lain yang memberikan jasa pinjaman. Tetapi mengapa mereka masih akrab dengan Bank Plecit dan rentenir perorangan?

Inilah yang perlu menjadi perhatian para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama dan juga pemerintah desa untuk mengedukasi mereka peminjam Bank Plecit agar mentalnya berubah.

Pertama adalah pola hidup sederhana, kedua memilih skala prioritas dalam mengelola uang, dan ketiga jangan mudah termakan iklan, sehingga tidak besar pasak dari pada tiang.

Trimakasih.

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Pemilik percetakan CV Catur Warna Indah Wonosari. Aktivis pertanian, peternakan, dan aktivis diskusi di media sosial. Mantan anggota DPRD DIY 2014-2019.