Drama Petani Milenial

oleh -196 views
Menanam padi sawah tadah hujan MH-2. Foto: Bilal.

SEPUTARGK.ID – Ketika MH-1 lalu saya hanya nyangkul 1 bidang sawah saja. Itupun nyangkul “kering”, artinya belum bisa ditangani. Kenapa? Keburu saya mau sekolah penerbangan paralayang ke karanganyar.MH-1 lalu, kami nyangkul 5 bidang lahan selesai dikomando oleh istri tercinta, meski akhirnya dia tumbang masuk rumah sakit hingga 5 kali. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kami agar bisa memanajemen energi meskipun pekerjaan bertubi-tubi.

Kenapa harus buru-buru? Sawah kami bukan sawah irigasi teknis, tetapi sawah tadah hujan saja. Meski begitu, sawah ini bisa ditanami 2 kali setahun. Karena itu memerlukan kecepatan dan ketepatan tanam agar berhasil panen. Istilah kami “nguyak-uyak banyu” sudah melekat dari zaman nenek moyang dulu.

Kendala yang kami hadapi adalah terbatasnya traktor berikut tukangnya, sehingga ketika musim tiba apabila tidak kebagian traktor ya harus nyangkul. Jika ada tenaga buruh tani, per satu orang per hari dibayar Rp 60 ribu plus makan, snack, dan rokok. Itupun jika kebagian tenaga buruh tani. Kalau tidak? Ya dicangkul sendiri. Makanya tak elok jika di sini semua orang biasa nyangkul tak terkecuali kaum hawa.

Pekerjaan bersambung ke MH-2. Mulai dari mulai panen hingga menanam padi kembali. Tantangannya, musim ke-2 ini pekerjaan lebih berat. Tanah sawah kami menjadi suli dicangkul. Kami menyebutnya ulet lemahe, makanya harus menggunakan cangkul dengan modifikasi khusus agar bisa dipakai untuk bekerja. Kemudian, rumput di pematang dan talud sawah sangat lebat dan keras harus dibersihkan dulu, istilahnya ditamping.

Musim hujan MH2 memasuki musim penghujung kemarau, sehingga kami harus ekstra tenaga, artinya lebih ngebut agar bisa tercapai target panen, karena jika telat sedikit akan diancam kekeringan.

Nah, gambaran waktu dengan pengerjaan secara manual adalah sebagai berikut: nyangkul sawah satu bidang milik saya membutuhkan waktu 7-14 hari. Itu apabila dikerjakan sendiri tanpa traktor atau buruh tani. Lama bukan?

Capek? Itu wajar.. Karena pekerjaan ini full fisik atau pekerjaan kasar. Belum lagi beban mental yang menyertai. Tapi berkat latihan dari balita, pekerjaan semacam ini bagi saya justru sangat menyenangkan. Ya, itung-itung buat nambah POWER biar badan kuat.

Lantas, apa yang saya siapkan? Alat peranian yang memadai, alat cangkul yang tajam, kuat, dan enak dipakai. Kemudian fisik mental kuat, makan yang bergizi dan sehari bisa 5x, serta istirahat malam yang cukup. Selama kegiatan ini, berdasarkan pengalaman kami tak ada kesempatan untuk bersosialisasi apalagi berekreasi. Yang menjadi hiburan kami adalah tumpukan gabah yang menggunung di gudang beserta makan enak setiap hari dari memotong ayam kampung. Hehehe..

Adakah konflik yang sering timbul? Biasanya persoalan klasik “berebut air”, hingga adu mulut bahkan berkelahi, sampai dendam sama tetangga sendiri. Benar…. Itu nyata kok. Ada juga rebutan tenaga kerja yang berujung dengan rasan-rasan akhirnya labrak-labrakan. Hmmm..

Adakah kisah mistisnya? Biasanya musim panen ada yang kehilangan gabah saat dijemur. Njemur 4 karung begitu dimasukin karung lagi tinggal 1,5. Bahkan waktu panen, secara fisik padi di pohonnya nampak istimewa namun ketika dirontok “hilang”. Sampai ada yang menduga terkena ilmu “pengirupan”.

Itulah sekelumit drama kami. Kehidupan petani tadah hujan di lereng pegunungan utara Gunungkidul. Sebagai anak muda yang masih menggeluti dunia tani, kami selalu bersyukur. Eh, saya tetep ganteng loh, meskipun tiap hari ke sawah nyangkul.

Mau tanya rahasianya? Hehehe.. Boleh..

***

Tentang Penulis: Bilal Surahman

Bilal Surahman
Pemuda desa. Kerja apa saja yang penting halal. Sering diajak bekerja sebagai pemandu wisata. Tinggal di kampung dekat puncak bukit Pilangrejo Nglipar.