Lesung Tak Bersambung

oleh -1.270 views
Lesung. Foto: Iwan.

Bunyi lesung atau penumbuk padi itu terdengar mengiring jenazah simbok Mento yang diangkat empat orang menuju ke makam. Tok, tek, tok, duk… tok, tek, tok, duk… Dua orang ibu memukul lesung bergantian. Alunannya seakan menjadi aba-aba setiap langkah mereka.

Itu terjadi tak lama setelah aku tiba di pelayatan sore itu. Aku berdiri mengikuti sesi pemberangkatan. Untung saat melayat ini aku ndak terlambat, batinku, setelah memacu motor 30 kilometeran masih kebagian sesi pengangkatan jenasah menuju makam.

Awal Oktober ini, Dusun Wuluh di Negeri Kahyangan ada kematian. Ia seorang ibu sepuh bernama Mento Witono yang berusia 80-an. Almarhumah adalah ibu mertua dari kolega dekat. Di dusun ini, sebelumnya sudah ada dua warga yg meninggal pada minggu-minggu sebelumnya. Mereka berusia cukup muda, bahkan yang satu seorang anak dari simbok Mento yang akan dimakamkan itu. Jika dihitung hari, selama 40 hari ada tiga kematian beruntun di dusun itu.

Mendengar bunyi lesung pada ritual pemakaman memang mengusikku untuk bertanya, “Kenapa alat penumbuk padi itu dibunyikan saat pengangkatan jenasah menuju makam?” Biasanya lesung ditabuh jika ada pertunjukan tradisional untuk mengenalkan cara menumbuk padi pra-modern. Atau acara lomba desa sebagai penarik juri, mungkin menuansakan harmoni masa silam, karena cara itu sudah ke/ditinggalkan. Lesung bahkan dipajang sekadar jadi penghias rumah-rumah baru bergaya antik supaya semakin cantik dan menarik.

“Niki Jemuwah Legi, lan sampun tradisi menawi Jemuwah Legi utawi Jemuwah Kliwon, Lesung ditabuh”, ibu berjilbab biru itu menerangkan sambil tersenyum.

Sepertinya ia tak menyangka kutanya mengapa mereka memukul lesung itu. Mereka memercayai itu adalah bahasa doa. Itu ikhtiar memutus rantai kematian melalui bunyi-bunyian. Lesung alat penumbuk padi yang dipukul berirama adalah permohonan dijauhkan dari kematian berurutan.

***

Rupanya bunyi lesung menandakan doa supaya malaikat maut juga ada waktu jeda. Ooh, hehehe, malaikat pencabut nyawa saja diminta jeda, apalagi pendeta, pikirku sambil rebahan membayangkan cuti.***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.