Menampung Air Mata Duka

oleh -948 views
Pemakaman jenazah di masa pandemi Covid-19. Foto: Hargo.

SEPUTARGK.ID – “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun… Selamat Jalan Sahabat… Sugeng Tindak Mas… ”

Kata-kata perpisahan ini seperti berebutan muncul di hapeku. Hari-hari ini, media sosial diwarnai dengan ungkapan duka. Setelah memelekkan mata, rasanya bukan sesruput kopi yang mengawali hariku. Kabar lara itu telah menggantikannya dengan paksa.

Data ribuan kematian tiap hari yang disajikan oleh negara sungguh memilukan hati. Deretan angka empat desimal itu tak sekadar data, namun di baliknya ada hujan air mata. Sebut saja misalnya seorang bocah yang tersentak ditinggal bapak atau ibunya. Seorang lelaki yang harus menerima kenyataan istrinya pergi, atau sebaliknya, seorang perempuan yang merelakan sosok tersayang. Dan tentu saja, sekumpulan teman lama yang jarang berjumpa, lalu tiba-tiba ada yang lebih dulu meninggalkan dunia fana.

Tak perlu mengambil contoh orang lain. Saya sendiri kehilangan dua orang saudara sepupu dua minggu berturut-turut. Belum lagi saudara jauh, teman, dan juga tetangga terasa bergantian. Jika dulu terasa jauh, kini begitu dekatnya.

Semingguan yang lalu, telingaku kupasang lebar-lebar merespon cerita dari seorang teman. Mendengar panjang-lebar proses kronologi seorang kakaknya yang tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jogja yang sempat viral karena kekurangan oksigen. Rasanya tenggorokanku menegang, kaku tercekat. Ia tampak ikhlas akan kepergian kakaknya. Tak ada yang disesalinya, hanya ia menyayangkan tak ada “permohonan maaf” yang semestinya bisa mengobati keluarganya.

Debar kecemasan pun sangat terasa, karena kecenderungan tingkat kematian yang tinggi itu. Bagaimana tidak, data itu sungguh membuat tidur tak nyenyak, mengingat ada saudara dan teman yang sedang isoman. Belum lagi dilema yang sangat dirasakan sesama yang kesulitan bergerak, terhimpit dalam usaha.

Kurasa, tak ada yang nista ketika air mata kita menetes di pipi. Tak ada yang hina, ia tak terbendung mengalir deras bahkan habis terperas.

Namun kurasa, jutaan tetes air mata itu tidak boleh meresap ke tanah lalu sirna begitu saja. Kubayangkan, mereka bisa tertampung dalam tampungan yang kuat. Bak danau yang mahaluas dan dalam, mereka akan menjadi daya pengubah yang menggerakkan nurani.

Ia akan menggerus murka kerakusan manusia. Memercik ke muka manusia-manusia angkara murka. Tetesannya juga akan melunturkan bias aneka rencana yang tak berpijak pada bumi yang tengah berduka.

Kurasa, mata, pikiran, dan tenaga kita bisa duduk dengan pas pada realita bahwa kita sedang ada dalam bencana. Jika begitu, mestinya selalu ada bekal dalam bagasi untuk melanjutkan perjalanan. Entah besok mau PPKM model dan level apa.

Semoga.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.