Mengulik Teh Goro-Goro

oleh -139 views
Teh Goro-goro. Foto: Heru.

SEPUTARGK.ID – Kalau Anda suka wayang kulit pastikah tahu salah satu babak yang selalu dinanti yaitu “Goro-goro”. Goro-goro adalah salah satu babak dalam pewayangan yang ditandai dengan munculnya para punakawan.

Mungkin pendiri pabrik teh Goro-goro yang dari Pekalongan ini punya kesan mendalam dengan tokoh punakawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.

Di Gunungkidul, teh Goro-goro lebih mudah ditemukan di toko atau warung zone selatan, seperti di Saptosari, Singkil dan warung-warung di area pantai.

Aroma wangi melati (essence) teh ini menguar kuat dari bungkus yang belum dibuka, pun saat dibuka wanginya makin terasa. Memang teh aroma melati menjadi mainstream bagi banyak penggemar wedangan. Nuansa wanginya beda dengan Teh Jawa kuning, mungkin ada tambahan bahan lain.

Saat diseduh, teh ini lebih gelap hasilnya dibandingkan dengan Teh Jawa kuning. Namun walaupun gelap tidak meninggalkan rasa sepet dan pahit.

Warna teh sebelum diseduh lebih terang dibandingkan dengan Teh Jawa dan ada nuansa kehijauan. “Kalau buat teh es lebih mantap,” begitu komentar temanku beberapa waktu lalu.

Namun, tentang minum teh akhirnya kembali ke selera masing-masing.

***

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya lahir di Gunungkidul menyelesaikan SMP di Wonosari, lalu selepas itu ke Jogja sampai lulus kuliah. Belum pernah kerja kantoran walau punya ijazah, buka usaha komputer di Wonosari. Saat ini sedang menekuni hobi menulis dan usaha di bidang kuliner, yaitu warung Kopi Angkringan Wonosari (http://gopi.link/2f274)