Penyuluh Swadaya Desa Jurangjero Ngawen Laksanakan Demplot Jajar Legowo

oleh -144 views
Demplot Swadaya Padi sistem Tajarwo di Desa Jurangjero Ngawen. Dok: Bdy/Dpp-Gk.

Penyuluh pertanian swadaya Desa Jurangjero Kecamatan Ngawen melaksanakan pembuatan Demplot tanaman padi sistem tanam jajar legowo di lahan pertanian Desa Jurangjero Ngawen. Pelaksana Demplot adalah Sriyanto, yang juga sebagai Penyuluh Swadaya Desa Jurang Jero Kecamatan Ngawen.

Penanaman komoditas tanaman padi pada demplot tersebut dilakukan dengan sistim tata tanam jajar legowo 2:1 pada lahan seluas 2000 m2. Varitas yang ditanam padi M70. Bahan materi demplot didukung dari APBD Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan tahun 2020.

Pembuatan Demplot oleh Penyuluh Pertanian Swadaya tersebut didasari bahwa pelaksanaan penyuluhan pertanian di Kabupaten Gunungkidul perlu terus diupayakan dengan  pemberdayaan petani sebagai pelaku utama. Sebagaimana diketahui, jumlah penyuluh pertanian yang terus mengalami penurunan karena memasuki usia purna tugas.

Karena itu, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan peran penyuluh pertanian swadaya di setiap desa, agar tujuan penyuluhan pertanian untuk meningkatkan sumberdaya manusia petani melalui adopsi teknologi dapat dilaksanakan lebih cepat, dan memberikan dampak terhadap peningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian.

Demplot adalah salah satu metode penyuluhan yang dipilih oleh penyuluh agar teknologi yang diinformasikan lebih mudah diterima petani, sehingga petani diharapkan lebih cepat tahu, mau dan mampu  nmelaksanakan kegiatan pertanian dengan contoh yang nyata.

Kecamatan Ngawen dipilih sebagai lokasi demplot swadaya karena merupakan salah satu sentra tanaman padi di kabupaten Gunungkidul. Namun di wilayah ini masih ada beberapa permasalahan sumberdaya manusia petani, terutama tentang kemauan dan kemampuan petani melaksanakan tanaman padi dengan sistem tata tanam jajar legowo 2:1  baru mencapai 19 %, sedangkan penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) juga masih rendah yaitu 7,03 %.

Pemilihan Varietas Unggul Baru (VUB) M70 dipilih karena umurnya yang pendek dan cocok dikembangkan di lahan kering dengan curah hujan yang mulai berkurang pada musim tanam kedua. Adapun varietas padi M 70 memiliki karakter sebagai berikut: umur 75 – 80 hst, bobot 1000 bulir 28 gr, potensi 9,5 ton/ha,batang kuat, pulen, daun tegak, tahan wereng tetapi punya kelemahan tidak tahan terhadap penyakit patah leher, pemupukan disarankan pada umur 25 hari setelah tanam.

Dengan demplot swadaya tersebut diharapkan para petani di Kecamatan Ngawen mau dan mampu melaksanakan tata tanam sesuai teknologi anjuran yaitu tata tanam 2:1 dan mau menggunakan bibit  unggul baru untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi.  (Bdy/Dpp-Gk/Bara).

ucapah hut GK KH

Tentang Penulis: Basuki Rahmanto

Basuki Rahmanto
Toekang photo segala acara dan jurnalis KabarHandayani. Hobby jalan-jalan dan kuliner. Tinggal di Wonosari Gunungkidul.