Pertanian Integratif di Lahan Kering: Inovasi Meningkatkan Pendapatan

oleh -144 views
Budidaya ternak bebek dan tanaman sayuran keluarga Sadimin di Banteng Wareng, Tancep, Ngawen. Dok: Dpp-Gk.

Sadimin (47), petani dan peternak dari Dusun Banteng Wareng Desa Tancep Ngawen kreatif melakukan inovasi budidaya tani dan ternak di lahan kering demi meningkatkan pendapatan keluarga. Lahan pekarangan rumah yang luas disulapnya menjadi kebun sayur dan kandang bebek.

Rabu siang (2/7/2020) rombongan DPP Kabupaten Gunungkidul menyempatkan diri beranjangsana ke rumah Sadimin yang sekaligus sebagai lahan budidaya tani ternaknya. Total populasi bebek yang dipelihara ada 500 ekor, terbagi di 4 petak yang tersambung.

Sebelumnya, kandang bebeknya tidak sebagus sekarang, masih terbuat dari bambu. Namun seiring kemajuan usahanya petak-petak kandang bebek telah ditingkatkan mutunya dengan baja ringan atau galvalum.

Selain untuk budidaya bebek petelor, sisa lahan yang ada diusahakan untuk berkebun sayur dengan polybag, serta budidaya lele dalam kolam-kolam kecil di pinggir kebun sayur.

Dirinya berpikir kolam kolam kecil di pinggir kebun juga dapat untuk menampung hujan sehingga bisa mensuplai kebutuhan air sayuran, disamping tentunya panen lele.

Untuk sayur yang dibudidayakan, Sadimin memilih yang bernilai jual tinggi, seperti: terong, kol, sawi, dan cabe serta daun bawang.

Ditanya tentang pendapatan dari produksi telor bebek, Sadimin menjelaskan bahwa produksi setiap harinya mencapai 70% dari total populasi atau sekitar 350 butir telor bebek setiap harinya. Harga per butirnya antara Rp 1.600 sd Rp. 1.900 tergantung besar kecilnya telor. Ia mengaku, selama ini telor telor bebek tersebut sudah ada yang menampung.

Sadimin memberikan gambaran perhitungan usaha budidaya ternak dan taninya. Dalam sehari, dia membutuhkan konsentrat dan bekatul seharga Rp 400.000,- untuk populasi bebek 500 ekor, sehingga jika penjualan telor mencapai Rp. 665.000,- maka keuntungan dari telor dia dapatkan Rp 265.000,- per hari. Itu keuntungan bersih.

Dalam sebulan, Sadimin akan mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 7.950.000,-. Untuk budidaya bebek, ia menerangkan mulai produksi telor sejak umur 6 bulan dan produksi telor kurang lebih berlangsung hingga 2 tahun.

Selain dari budidaya bebek petelur, Sadimin juga memanen hasil ternak lele dan sayuran. Dalam praktek sehari-hari, kotoran bebek ia tampung dan diolah dengan fermentasi menjadi pupuk untuk sayurannya, sehingga dirinya tidak perlu lagi beli pupuk untuk sayuran. Jumlah benih lele yang dia tebar di kolam kecilnya antara 100 – 150 ekor bibit.

Sadimin mengaku, apa yang sudah diusahakannya cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya. Ia menyatakan tidak perlu merantau keluar kampung, meski lahan yang dimiliki terbatas dan termasuk lahan kering.

Saat anjangsana tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kab Gunungkidul Ir Bambang Wisnu Broto sangat mengapresiasi usaha ternak-tani yang dilakukan Sadimin. Bambang menyatakan, apa yang dilakukan petani ini bisa menjadi inspirasi bagi petani maupun kelompok tani yang lain dalam hal kemandirian berusaha tani.

Bambang berharap, para kelompokĀ  wanita tani dapat berkunjung ke kelompok atau perseorangan yang telah berhasil memberdayakan pekarangan, seperti budidaya yang dilakukan Sadimin, sehingga program Pekarangan Pangan LestariĀ  (P2L) dapat berkembang dan meningkatkan pendapatan anggotanya selain menambah ketahanan pangan keluarga. (RY/Dpp-Gk/Bara)

Tentang Penulis: Basuki Rahmanto

Basuki Rahmanto
Toekang photo segala acara dan jurnalis KabarHandayani. Hobby jalan-jalan dan kuliner. Tinggal di Wonosari Gunungkidul.