Ulat Jati

oleh -203 views
Entung ulat jati. Foto: Toro.

“Sayang sekali, di sini ndak ada ulat yang memakan daunnya…” Sang istri mengungkapkan keluhannya. Rupanya ia melihat berlembar-lembar daun pohon jati hijau segar yang masih utuh dari pinggir jalan.

Laki-laki yang sedang memegang stir itu terdiam. Tangannya kemudian bergerak menggapai handel persneling mengatur kecepatan jalannya. Alis matanya mengernyit, mungkin sedang bergolak adu logika dalam kepalanya, seiring deru mobil diesel tuanya.

Kenapa pohon jati yang tak disentuh hama kok malah disayangkan? Bukankah kondisi itu baik? Lha, wong dalam berita tivi, di beberapa daerah, penduduk mengeluh karena banyaknya ulat, belalang yang memusnahkan tanaman lalu rela menyemprotkan pestisida atau membakarnya?

Musim ulat kali ini memang berbeda. Biasanya ulat “menyerang” ribuan atau jutaan pohon jati di Negeri Kahyangan Gunungkidul. Kali ini luasnya berkurang, dari pandangan mata sepertinya tidak sampai separo luasnya. Tahun lalu, dari jalan sudah terlihat di bawah pohon-pohon jati, berderet-deret pemburu mengumpulkan binatang ‘menjijikkan’ itu. Apalagi jika sudah menjadi kepompong atau ungkrung.

Ulat dan ungkrung menjadi berkah bagi para pemburu. Rezeki didapatkan di musim itu. Para penjual pun berjajar menggelar dagangan ulat dan ungkrung dengan bungkus plastik yang digantung, sekitar dua ons. Harganya sekilo 100 ribu!

Di Negeri Kahyangan, Sang Khalik telah menganugerahkan ulat dan kepompong jati menjadi makanan istimewa. Bukan hama!

“Duh, apa mereka enggan datang karena ngeri dimakan ya, Bu?”

Sebenarnya siapa sih yang takut tuh?

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.