Kenapa Tanaman Jati Disukai Masyarakat Gunungkidul?

oleh -167 views
Tanaman jati rakyat di daerah Ponjong. Foto: Kiswanto.

Jati bahasa ilmiahnya tectona grandis, dan juga dikenal dengan nama “teak” dari kata “thekku” dalam bahasa Malayalam negara bagian India Selatan. Kayu jati termasuk kayu yang berkualitas tinggi,  kategori keawetannya termasuk kelas awet I – II, sedangkan kelas kuat kategori I – II. Berat jenis kayu jati dalam kisaran 0,62 – 0,75, dengan karakteristik stabil, kuat dan tahan lama, serta mudah dikerjakan.

Tanaman jati mampu hidup hingga ratusan tahun. Di Blora masuk Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu ditemukan pohon jati yang umurnya lebih 300 tahun. Jati dengan ketinggian lebih 30 meter diameter, pangkal batangnya 840 cm, sehingga untuk memeluknya dibutuhkan 8 orang dewasa. Pohon tersebut ditetapkan sebagai situs budaya, dan oleh masyarakat sering digunakan untuk ritual adat setempat.

Tanaman jati tumbuh subur di dataran rendah, tinggi, maupun pegunungan dan lahan kering tidak produktif. Tinggi tempat ideal 700 m dpl, PH tanah 4,5 – 7, tingkat aerasi baik, tidak tergenang air, serta banyak mengandung kapur dan fosfor seperti tanah lempung, lempung berpasir dan liat berpasir. Tanaman jati butuh curah hujan antara 1500 – 2500 mm / tahun, serta suhu 27 – 36° C. Tanaman jati memiliki daun lebar, dan menggugurkan daunnya saat musim kemarau.

Kayu jati berwarna merah, baik untuk bangunan rumah dan furniture karena sifatnya yang tahan perubahan cuaca.

Jati Jawa menjadi primadona dibandingkan dengan Jati Burma, karena teksturnya lebih halus dan kuat. Java Teak untuk ekspor sangat terkenal dan diburu kolektor asing, terutama yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Gunungkidul.

Menurut sifatnya Jati Jawa terdapat berbagai macam atau jenis:

  • Jati Lengo atau Jati malam
  • Jati Sungu, warna hitam dan berat
  • Jati Werut, keras dan berombak
  • Jati Doreng, sangat keras dan indah
  • Jati Kembang
  • Jati Kapur, kualitas kurang baik.

Sebenarnya Jati Burma sedikit lebih kuat dibandingkan dengan Jati Jawa.

Hutan Jati di Jawa paling luas keberadaannya dan memiliki nilai ekonomis, ekologis, dan sosial yang penting dan strategis.

Sekilas Asal Muasal Tanaman Jati

Pada masa lalu tanaman jati sempat dianggap sebagai tanaman asing dan dimasukkan ke Jawa oleh orang-orang Hindu ribuan tahun silam. Menurut T Altona penanaman jati pertama oleh orang-orang Hindu dari India ke Jawa. Hal tersebut diperkuat oleh ahli botani Charceus bahwa jati Jawa berasal dari India mulai tahun 1500 SM sampai dengan abad 17-an.

Namun sejumlah ahli botani lainnya berpendapat, jati merupakan spesies Burma kemudian menyebar ke India, Thailand, Filipina dan Jawa. Sebagian ahli botani lain berpendapat, jati berasal dari Burma, India, Muangthai dan Laos.

Namun demikian, pendapat-pendapat tersebut terpatahkan oleh Kartadikara (1994) dengan penelitian marker genetik dengan teknik isoenzyme atau pengujian variasi isoenzyme, dengan hasil bahwa jati yang tumbuh di Jawa (Indonesia) merupakan jenis jati asli. Jati Jawa telah berevolusi sejak puluhan hingga ratusan juta tahun silam (Mahfudz dkk.).

Jati ini telah mengalami mekanisme adaptasi khusus sesuai dengan keadaan iklim dan edaphis yang berkembang puluhan hingga ratusan ribu tahun sejak zaman quarternary dan pleistocene di Asia Tenggara.

Di Gunungkidul, istilah jati alam sudah dikenal oleh masyarakat sejak lama mereka memanfaatkan kayu jati alam terutama untuk membuat rumah joglo.

Penghijauan Lahan Kritis Gunungkidul

Tanah gersang, gundul dan kritis di Gunungkidul sebelum 1978 mencapai puluhan ribu hektar. Kondisi tersebut dapat terehabilitasi dan menjadi ijo royo-royo dengan pola penghijauan campuran antara tanaman jati dengan jenis tanaman pioneer lainnya. Dalam rentang waktu sekitar 30 tahun, lebih 60% lahan kritis berubah menjadi lahan yang produktif, menghasilkan, dan bermanfaat.

Perilaku masyarakat juga telah berubah, dan inilah hasil dari penyuluhan kehutanan kepada petani penghijauan. Pada awalnya mereka tidak tahu, tidak mau, dan tidak mampu melakukan penghijauan. Melalui proses panjang akhirnya lahirlah kesadaran akan pentingnya menanam pohon. Program Inpres Bantuan Penghijauan dari tahun 1977 hingga 2000 di Gunungkidul tidak sia-sia.

Kenapa Masyarakat Memilih Tanaman Jati?

Masyarakat melihat dari nilai manfaatnya, cara budidaya yang mudah, dan memiliki nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Kendati umur masak panennya lama, petani menganggap itu merupakan investasi jangka panjang dan merupakan tabungan untuk anak cucu ke depan.

Memang umur masak panen terbaik jati adalah 80 tahun, tetapi masyarakat sudah bisa mendapatkan uang saat pohon berumur sekitar 20 hingga 40 tahun. Hal tersebut di Gunungkidul lazim disebut “tebang butuh”.

Jati lazimnya tidak ditanam secara monokultur, tetapi bercampur dengan jenis tanaman lain seperti mahoni, akasia, sonokeling, dan lain sebagainya. Dari tanaman jati, masyarakat juga dapat mendapatkan tambahan pangan dan protein hewani dari walang kayu serta ulat (ungkrung) yang merupakan hidangan lezat bergizi.

***

Klaten, 24-10-2020

* * Ditulis ulang dari berbagai sumber terkait.

Tentang Penulis: Kiswanto Adinegara

Kiswanto Adinegara
Pensiunan ASN, tinggal di Klaten. Menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) di Gunungkidul 1978-1999, sebelum pensiun menjadi Kabid Perekonomian di Bappeda Gunungkidul 2010-2012.