Kenangan Era Keswadayaan dan Kejayaan Penghijauan di Gunungkidul

oleh -245 views
Demplot Penghijauan di Duwetrejo, tahun 1993. Foto: Kiswanto.

Kendati proyek bantuan penghijauan belum dihentikan, tetapi telah tiba waktunya membangkitkan semangat swadaya masyarakat untuk berpartisipasi dalam penghijauan lahan mereka. Hal ini sesuai dengan filosofi penyuluhan yang tujuan utamanya adalah merubah perilaku meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan (PSK) petani dari tidak tahu dan tidak mau menjadi tahu dan mau melakukan secara mandiri.

Ketidaktahuan diatasi dengan berbagai metode penyuluhan, salah satunya adalah pembuatan Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumberdaya Alam (UP UPSA) dengan demonstration plot (demplot). Dengan demplot ini diharapkan petani dapat melihat secara langsung implementasi di lapangan.

Saya selalu ingat prinsip penyuluhan, yaitu jika aku mendengar aku lupa, jika aku melihat aku tahu alias mengerti dan jika aku berbuat (praktek) maka saya bisa (mengerjakan).

Demplot UP UPSA dibuat dipinggir jalan dan lokasi strategis, sehingga mudah dilihat oleh petani yang lewat. Demplot ini seluas 10 hektar untuk peragaan kegiatan penghijauan dengan tanaman kayu-kayuan dan sebagian untuk budidaya tanaman semusim pada lahan kering, termasuk upaya konservasi tanah dan air berupa terasering serta budidaya ternak kambing.

Simak artikel sebelumnya: Pernah Menjadi Duta DIY dan Meraih Juara 1 Nasional Pidato Penghijauan

UP UPSA juga merupakan wahana untuk introduksi varietas unggul baru, seperti lamtoro gung, rumput gajah, jati unggul dan benih unggul tanaman semusim. Pembuatan Demplot UP UPSA dengan target satu desa satu unit. Petugas yang menangani UP UPSA terlebih dahulu harus memiliki sertifikat pernah mengikuti Diklat Petugas Lapangan Percontohan Demplot Penghijauan atau UP UPSA.

Selaku PLP agar memiliki pengalaman dan pengetahuan cukup, di samping mengikuti diklat kedinasan juga dapat belajar dengan berbagai narasumber di lapangan. Pamong desa pada saat itu, terutama Carik atau Kaur Ekobang lazimnya sangat menguasai kondisi daerahnya, termasuk bagaimana membaca persil dalam peta desanya.

Saya bisa belajar banyak dari mereka. Pak Sastro adalah seorang Carik suatu desa mitra kerja saya di Kecamatan Ngawen yang mendapat proyek bantuan penghijauan dengan kegiatan pembuatan tanaman. Sambil jalan kaki memasuki daerah bertofografi bergunung dengan lereng cukup terjal, Pak Sastro Carik senior itu sangat hafal dengan lokasi tersebut masuk persil berapa, milik siapa, luasnya berapa dan masuk blok apa.

Pengalaman di lokasi yang tidak pernah terlupakan adalah ketika melakukan checking lokasi di tebing bawah Gunung Gambar Ngawen tiba-tiba langit gelap karena ada awan hitam disertai suara petir menggelegar pertanda akan turun hujan.

Saya merasa khawatir. “Pak Carik bagaimana ini kalau hujan deras dan petir seperti itu? Sedangkan kita berada di di atas tebing yang curam? ” tanyaku.

“Tenang saja Pak Kis, di atas itu ada tempat berteduh,” katanya sambil tangannya menunjuk ke atas. Sedangkan sejauh mata memandang tidak ada gubug kecilpun apalagi rumah. Pak Sastro sangat familiar dengan lokasi tersebut, dan ternyata di tebing yang tinggi di bawah puncak Gunung Gambar sisi utara itu terdapat sebuah goa yang bisa untuk ngeyup kami berdua dengan aman hingga hujan deras itu reda.

Demikian pula para carik desa lainnya yang pernah saya temui rerata sangat tertib administrasi, menguasai lapangan, dan mumpuni dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Saya menjadi mengerti, di manapun kita ditugaskan dan berada di lingkungan baru, maka di situlah dapat belajar banyak hal-hal berbeda dan membangun jejaring dengan orang lain.

Tugas pokok dan fungsi saya ketika tidak lagi menjadi PLP di tingkat desa seperti saat di Panggang dan Ngawen, namun menjadi lebih luas cakupannya. Terutama melakukan pembinaan terhadap para PLP di desa dan kecamatan saat menjadi Penyuluh Madya Penghijauan (PMP) di BPP pada tahun 1991. Sedangkan tahun 1992 – 1999 kapasitas saya selaku Penyuluh Kehutanan Spesialis (PKS) mempunyai tupoksi pembinaan PLP dan PMP se-Kabupaten Gunungkidul.

Metode penyuluhan lainnya yang terpilih untuk memotivasi kelompok tani melakukan penghijauan swadaya adalah dengan diselenggarakan lomba penghijauan swadaya. Lomba ini diselenggarakan secara berjenjang mulai lomba tingkat kecamatan, lomba tingkat kabupaten Gunungkidul, lomba tingkat Provinsi DIY dan tingkat nasional. Metode lomba penghijauan mendapat respon positif dari masyarakat dan ditetapkan sebagai kebijakan tingkat Kabupaten Gunungkidul oleh Bupati Pak Soebekti Soenarto dan bupati selanjutnya.

Mulai tahun 1991 – 1998, Gunungkidul serasa di atas angin dan memasuki era kejayaan dalam prestasi lomba penghijauan swadaya dan PLP berprestasi baik tingkat provinsi DIY maupun nasional. Demikian pula prestasi lomba bidang lingkungan hidup hingga dapat meraih penghargaan bergengsi berupa Kalpataru. Waktu itu kewenangan bidang lingkungan hidup masih melekat pada lembaga yang mengurusi bidang kehutanan.

Pak Partorejo, Ketua Kelompok Tani di Jerukwudel Rongkop pada tahun 1994 menerima penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan dengan kegiatan penghijauan lahan kritis sekitar Telaga Wotawati. Atas keberhasilannya, air telaga menjadi bening dan lestari karena erosi dan sedimentasi terkendali oleh adanya vegetasi tetap yang banyak.

Pak Warsono, PLP Kecamatan Rongkop pada tahun 1996 menyabet penghargaan Kalpataru kategori pengabdi lingkungan setelah menginisiasi habitat burung walet dengan penghijauan sehingga populasi dan produksi sarang burung walet meningkat di samping sejumlah kegiatan positif lainnya.

Prestasi dan penghargaan juara terbaik Nasional dalam lomba hutan rakyat swadaya justru didominasi oleh kelompok tani di zona Pegunungan Sewu, dimana kekritisan lahan paling parah pada awalnya. Namun demikian, prestasi kelompok tani hutan rakyat swadaya zona utara dan tengah juga ada yang bisa unjuk gigi tingkat nasional, seperti di Putat Patuk dan Karangmojo Gunungkidul.

Prestasi di zone Pegunungan Sewu di antaranya Hutan Rakyat Swadaya Desa Giriwungu, Giripurwo dan Giriasih Kecamatan Panggang dapat meraih kemenangan yang menakjubkan. Demikian pula Desa Tileng, dan Desa Jepitu Kecamatan Rongkop dapat menunjukkan prestasi yang luar biasa di level nasional.

Hutan Rakyat Swadaya (HRS) Desa Tileng mendapatkan juara nasional pada tahun 1991-an. Yang mengagumkan tanaman penghijauan berupa jati, akasia dan mahoni mampu tumbuh baik di tengah bebatuan karst yang berwarna hitam. Perakaran tanaman pioneer itu mampu menembus keras dan keringnya bebatuan Pegunungan Sewu. Dampak positifnya. air Telaga Lodoireng dapat lestari dan lebih jernih walaupun di musim hujan. HRS Desa Tileng inilah yang akhirnya dapat menjawab tantangan saya waktu lomba pidato penyuluh kehutanan dengan tema Upaya Penyelamatan Hutan Tanah dan Air ( PHTA ) Kabupaten Gunungkidul di Gorontalo Sulawesi Utara 1992.

Para pejabat pemerintahan di Provinsi Sulawesi Utara dalam studi banding yang diantar Pak Bupati Soebekti Soenarto dan jajarannya sangat kagum dan heran atas keberhasilan penghijauan lahan kritis di Gunungkidul. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berkeinginan mengajak beberapa orang petani Gunungkidul agar dapat memberikan contoh bagaimana caranya bisa menanam pohon penghijauan hingga berhasil baik di lahan kritis wilayah Sulawesi Utara yang kondisi lahannya justru masih lebih baik dibandingkan dengan Gunungkidul.

Dampak positif lainnya atas pidato saya saat temu wicara dengan Presiden RI dalam rangka peringatan HPS di kabupaten Karawang Jawa Barat 16 Oktober 1991 dan pidato penyuluh kehutanan di Gorontalo Sulawesi Utara 1992 Gunungkidul menjadi terkenal, sehingga sering menjadi obyek studi banding keberhasilan penghijauan dari berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah pusat juga menaruh perhatian, baik berupa peningkatan anggaran proyek penghijauan, pemberian sarana dan prasarana penyuluhan serta mobil dinas untuk operasional dari Departemen Kehutanan.

Atas dasar banyaknya kelompok tani dan PLP berhasil menjadi juara provinsi dan nasional dalam lomba penghijauan dan lingkungan hidup, maka saya selaku PKS yang berperan aktif dalam pembinaan dan penyiapan segala sesuatunya diapresiasi oleh Bupati Gunungkidul dengan dianugerahi piagam penghargaan sebagai pembina. Penghargaan tersebut di antaranya:

  • Tahun 1991 sebagai pembina kelompok perintis lingkungan hidup.
  • Tahun 1993 sebagai pembina penghijauan Kab Gunungkidul
  • Tahun 1994 sebagai pembina penghijauan Kab Gunungkidul
  • Tahun 1994 sebagai pembina penghijauan dan lingkungan hidup Kab Gunungkidul
  • Tahun 1995 sebagai pembina penghijauan Kab Gunungkidul
  • Tahun 1996 sebagai pembina terbaik lomba lingkungan hidup Kab Gunungkidul
  • Tahun 1996 sebagai pembina penghijauan Kab Gunungkidul
  • Tahun 1997 sebagai pembina terbaik lomba penghijauan Kab Gunungkidul
  • Tahun 1998 sebagai pembina terbaik lomba penghijauan dan lingkungan hidup Kab Gunungkidul
  • Tahun 1998 sebagai juara 1 pembina lingkungan hidup Tk Kab Gunungkidul

Selaku PKS yang bertugas mengkoordinir PMP dan PLP se-Kabupaten Gunungkidul, saya pernah ditunjuk sebagai pejabat pengesahan Daftar Usul Penetapan Angka Kredit Penyuluh Kehutanan di Gunungkidul. Disamping itu, tahun anggaran 1998/1999, 1999/2000 dan 2000, saya ditunjuk sebagai pemimpin proyek Penghijauan di Kabupaten Gunungkidul. Juga merangkap sebagai pelaksana tugas pejabat struktural Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah serta Dinas Kehutanan Kab Gunungkidul.

Menjelang penerapan otonomi daerah pada tahun 2000, posisi saya berada di persimpangan jalan antara jabatan fungsional dan jabatan struktural. Atas berbagai saran dengan melihat kinerja saya selama ini dinilai lebih baik memilih jalur struktural, karena lingkupnya lebih luas, sehingga akan dapat memberikan pertimbangan penyusunan kebijakan di bidang pembangunan kehutanan secara terpadu dan komprehensif. Dan saya berpikir, penghijauan lahan kritis di Gunungkidul telah melewati masa kritis sehingga bebannya tidak seberat era 70-80-an.

Saat ini masyarakat petani sudah bisa merasakan manfaat dari hasil penghijauan, sehingga secara sadar mereka akan menanam pohon kembali setelah memanennya secara swadaya. Saat saya ketemu Profesor “Telo” Pak Suhardi, saya memohon advis dan pertimbangan terkait hal tersebut. Beliau mengatakan, “Tidak masalah Anda masuk jalur struktural dan ditugaskan di instansi mana saja, karena sudah memiliki jiwa rimbawan justru akan bisa mewarnai setiap kebijakan dilihat dari aspek kehutanan dan penghijauan.”

Ya, beliau guru dan sekaligus “teman” saya. Saat di Wanagama, menjadi guru saya karena merupakan dosen. Sementara sebagai teman saat libur beliau sering mengajak saya bermain dan jalan-jalan mbonceng CB Gelatik saya.

Hasil penelitian kenapa umur harapan hidup masyarakat Gunungkidul relatif lebih panjang dibandingkan dengan kabupaten lainnya di DIY, kesimpulannya karena masyarakat Gunungkidul sering mengkonsumsi telo. Karena penelitian tentang telo di Gunungkidul itulah sehingga Pak Hardi sering di panggil Profesor “Telo. Akhirnya, beliau disamping Jadi dosen Fakultas Kehutanan UGM juga diminta menjadi staf ahli Dewan Ketahanan Pangan Nasional di Jakarta karena penelitian tentang telo tersebut.

Di saat otonomi daerah diberlakukan, semua PNS pusat, khususnya Departemen Kehutanan diminta memilih mau menetap di mana bebas di seluruh wilayah Indonesia.

Kemudian status kepegawaian saya berubah dari pegawai negeri pusat Departemen Kehutanan menjadi pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul. Berawal pindah dari Dinas Kehutanan ke Dinas Peternakan (2001) , ke Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (2009) , ke Bappeda 2010, hingga pensiun 2012.

Kurun waktu 34 tahun separuh lebih dari umur saya dihabiskan secara totalitas untuk Gunungkidul Handayani. Saya tidak bergeming tetap milih di Gunungkidul walaupun tidak lagi sebagai penyuluh kehutanan. Tetapi sebagaimana jiwa rimbawan, komitmen terhadap penghijauan dan lingkungan hidup tidak akan pernah hilang sampai akhir hayat.

Yang menjadi PR selanjutnya adalah bagaimana melestarikan apa yang telah diperjuangkan dan berhasil dengan sehingga bermanfaat bagi orang banyak itu dari generasi degenerasi sehingga Gunungkidul tetap Handayani. Mengutip kata-kata motivator, bahwa ada 4 hal penting sebagai syarat kesuksesan dalam karir seseorang, pertama bisa dipercaya, kedua punya nilai tambah, ketiga berperilaku menyenangkan, dan keempat dikenal oleh orang yang tepat dalam jumlah banyak.

Apa yang saya tulis ini sekaligus sebagai refleksi bagi di saya sendiri.

Tamat.

***

Klaten, 17-10-2020

Tentang Penulis: Kiswanto Adinegara

Kiswanto Adinegara
Pensiunan ASN, tinggal di Klaten. Menjadi PLP (Penyuluh Lapangan Kehutanan) di Gunungkidul 1978-1999, sebelum pensiun menjadi Kabid Perekonomian di Bappeda Gunungkidul 2010-2012.