Penglaris

oleh -243 views
Penglaris, pembelian pertama oleh konsumen saat buka lapak dagangan. Foto: Iwan.

Tetiba motor Astrea Star hitam berhenti di samping jalan tempat kami duduk. Suara mesinnya tersendat-sendat bagai roti kering yang seret di tengah jalan kerongkongan.

Eh, pria jangkung berjaket belel dan nyangklong tas kotak itu lalu buru-buru menyandarkan Honda-nya. Lho, ia ternyata membuka helm, lalu mendekat ke kursi yang kami duduki.

Jam 06.00 WIB, pagi itu, kami jalan kaki ke taman rekreasi Svarga Bumi. Karena kemruputen dan belum nampak petugas satu pun, lalu kami cari tempat nongkrong tak jauh dari gerbang. Kami bertiga duduk-duduk menikmati roti sobek dan air mineral bekal di pinggir sawah dengan pemandangan Candi Brorobudur. Nah, laki-laki itu datang agak mengganggu kenyamanan obrolan kami.

“Mas, beli cenderamatanya ini, ya!”

Tanpa babibu, laki-laki berambut lurus berwajah kusut itu ngecuprus. Tangannya menarik satu per satu lembaran hiasan bambu dari tasnya. Ah, bentuknya tak asing di mata, seperti benda purbakala yang sudah terpajang puluhan tahun. Ada tiga hiasan bermotif Candi Borobudur dengan motif, warna, bahan bambu, dan tali tak beda dari hiasan yang pernah kulihat, sejak 30 tahun yang lalu.

“Mas, dari mana?”

“Oh, kami Gunungkidul, Mas!” Kami menjawab dan mencoba menawarkan senyum murah.

“Niki ditumbas nggih, Mas, penglaris… Eh, njenengan Gunungkidul nggih? Ehm, kanca kula ten Playen, Dengok wonten nggih, Mas?”

“Nggih wonten…” Ku jawab agak aras-arasen, sambil mbatin hmm, ia mulai membuat koneksi pembicaraan. Metode klasik ia gunakan supaya nyambung dan tampak dekat. Spontan tawarannya kutolak, “Wah, boten, mas!”

“Mas, ditumbas nggih, ‘ngge penglaris”

Aku mulai ragu. “Pinten niki Mas?”

“Pun samurah-murahe mawon, nggih penglaris Mas…”

Agak trenyuh kudengar kalimat ini. Mosok samurah-murahe? Istriku pun membisik mau dibeli berapa. Nampaknya ia iba, lalu menyodorkan satu lembar kepadanya. Ia memungut satu hiasan dinding dari bambu petung itu.

“Wah, niki dua puluh ribu. Wah, jian Mase niki kathah artane. Matur nuwun nggih, njenengan
lancar rejekine, adik pinter le sekolah nggih!”

Satu lembar itu berhasil membuat penjual cenderamata tampak berbinar bahagia.

“Nggih, amin!” Kami anggukkan kepala, agak mantap. Rasanya jarang doa seperti ini kami terima.

***

Langkah awal memang menentukan. Penglaris dinantikan para penjaja dagangan agar bisa menarik pembeli-pembeli selanjutnya. Kuduga, ia meyakini bahwa setelah satu pembeli bakal ada keberhasilan beruntun didapatkan.

Saya juga meyakini selembar kertas 20 ribu itu benar-benar jadi penglarisnya. Juga mengamini rejeki lancar akan diberikan Sang Khalik bagi setiap pembeli yang niat hatinya baik.

***

Tentang Penulis: Stef Listiyantoro

Stef Listiyantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.